MAKALAH
PRASYARAT
WACANA
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas
mata kuliah Wacana
Dosen Pembimbing:
Diana
Mayasari, M. pd

Disusun oleh:
1. Dewi
Apriliya (126752)
2. Rochmah
Harsintayana (126764)
3. Slamet
Anggara (126775)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
JOMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Wacana adalah
kesatuan makna (semantis) antara bagian di dalam suatu bangun bahasa. Dengan
kesatuan makna, wacana dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap
bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Sedangkan, Henry Guntur
Tarigan (1987: 27) menjelaskan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling
lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kaliat, memiliki kihesi dan koherensi
yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat
disampaikan secara lisan atau tertulis. Pendapat yang lain juga di sampaikan
oleh Abdul Chaer (1994:267) menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa
terlengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal
tertinggi dan terbesar. Wacana dikatakan lengkap karena terdapat konsep,
gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca dan
pendengar tanpa keraguan apapun. Wacana dikatakan tertinggi atau terbesar
karena wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan
gramatikal dan persyratan kewacaan lainnya (syrat kekohesian dan
kekoherensian).
Di samping itu,
wacana juga terikat pada konteks. Sebagai kesatuan yang abstrak, wacana
dibedakan dari teks, tulisan, bacaan, dan tuturan yang mengacu pada makna yang
sama, yaitu wujud konkrit yang terlihat, terbaca atau terdengar. Pemahaman
struktur terhadap wacana akan memudahkan kita memahami bahasa secara lebih luas
tidak saja dari struktur formal bahasa tetapi juga dari aspek di luar bahasa
(konteks).
Pada makalah ini,
penulis mengambil judul yaitu “Prasyarat Kewacanaan” yang di dalamnya membahas
tentang topik, kohesi dan koherensi. Alasan penulis mengambil judul tersebut
karena penulis ingin menjelaskan syarat-syarat yang harus ada dalam sebuah
wacana, sehingga wacana bisa tersusun dengan baik sesuai dengan prasyarat
wacana.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
prasyarat kewacanaan yang ada di dalam sebuah wacana?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui prasyarat kewacanaan yang ada dalam sebuah wacana dengan baik dan
benar.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A.
Hakikat
Wacana
Kata wacana
adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi., hak asasi
manusia, dan lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan,
kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa yang digunakan
tersebut. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari
kalimat. Ada juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga banyak
dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi,
politik, komunikasi, sastra dan sebagainya.
Wacana merupakan
satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam
konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran.
Wacana dapat terbentuk lisan atau pun tulisan.
Dalam peristiwa
komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi
antar penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana
terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide atau gagasan penyapa. Disiplin
ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana
merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan
secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Istilah wacana
berasal dari kata Sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Henry Guntur
Tarigan (1987: 27) menjelaskan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling
lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kaliat, memiliki kihesi dan koherensi
yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat
disampaikan secara lisan atau tertulis. Sedangkan, Abdul Chaer (1994:267)
menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap, sehingga dalam
hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Wacana
dikatakan lengkap karena terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh,
yang bisa dipahami oleh pembaca dan pendengar tanpa keraguan apapun. Wacana
dikatakan tertinggi atau terbesar karena wacana dibentuk dari kalimat-kalimat
yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyratan kewacaan lainnya (syrat
kekohesian dan kekoherensian).
Jadi, dapat
disimpulkan bahwa wacana merupakan satuan gramatikal yang tertinggi, terlengkap
dan terbesar dari frase, klausa atupun kalimat yang di dalamnya memiliki kohesi
dan koherensi yang jelas serta saling
berkesinambungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya, sehingga
wacana tidak hanya dapat disampaikan dengan cara tulisan tetapi juga dapat
disampaikan dengan cara lisan.
B.
Prasyarat
Kewacanaan
Di dalam sebuah
wacana tentunya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika membuat suatu
wacana. Syarat-syarat tersebut dapat membuat
sebuah wacana itu lebih hidup dan lebih dipamahi baik oleh pembaca
maupun pendengar .
1.
Topik
Topik merupakan suatu pokok dari sebuah pembicaraan atau
sesuatu yang akan menjadi landasan dalam penulisan sebuah wacana. Di dalam
menentukan sebuah topik tentunya kita juga harus memperhatikan beberapa syarat,
syarat-syarat tersebut antara lain :
a. Topik yang dipilih harus menarik
perhatian,
b. Dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca,
c. Topik yang dipilih harus mempunyai
sumber acuan yang jelas atau real.
Di dalam menentukan sebuah topik
pada suatu wacana tentunya kita harus membatasinya. Topik yang dipilih harus
terbatas, sebab apabila suatu topik itu terlalu luas maka topik itu akan
menjadi dangkal dan tidak menarik untuk dibahas. Adapun yang mencakup dalam
pembatasan tersebut meliputi : konsep, variabel, data, lokasi pengumpulan data
dan waktu pengumpulan data. Elemen – elemen tersebut saling berhubungan satu
sama lain, apabila salah satu elemen tersebut ada yang hilang maka sebuah topik
itu tidak akan menarik dan akan terasa membosankan.
Contoh apabila dalam memilih sebuah
topik kita tidak menghiraukan konsep dari topik itu sendiri maka topik yang
kita pilih itu tidak akan menarik si pembaca untuk membaca artikel yang telah
kita buat. Jadi, pada intinya semua elemen tersebut saling mendukung agar
sebuah topik itu dapat menarik perhatian si pembaca untuk membaca artikel yang
kita buat.
Orang sering mengatakan bahwa topik
merupakan judul dalam sebuah wacana. Akan tetapi, pada dasarnya topik dan judul
memiliki pengertian yang sangat berbeda. Topik berasal dari bahasa Yunani yaitu
“Topoi” yang berati tempat dalam tulis menulis, pembicaraan atau sesuatu yang
menjadi landasan penulisan, maka dari itu topik merupakan salah satu unsur
yang harus ada dalam sebuah wacana.
Menurut Howe topik itu merupakan syarat penting terbentuknya sebuah wacana.
Sedangkan pengertian dari judul
adalah sebuah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, atau kepala berita.
Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan
judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi
bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul
artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi
bahasan.
Jadi dengan demikian dapat
disimpulkan bahwasannya topik dan dan judul sangatlah berbeda. Topik merupakan tempat
dalam tulis menulis, pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan,
maka dari itu topik merupakan salah satu unsur yang harus ada dalam sebuah wacana. Sedangkan
judul merupakan sebuah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, atau
kepala berita.
2.
Kohesi
Kohesi dalam
wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk secara structural membentuk ikatan
sintaktikal. Anton M. Moelino (1988:34)
menyatakan bahwa wacana yang baik dan utuh mensyaratkan kalimat-kalimat
yang kohesif. Konsep kohesif sebenarnya mengacu kepada hubungan bentuk. Artinya
unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu
wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh. Menurut Anton M. Moelino, dkk
( 1987:96) untuk memperoleh wacana yang baik dan utuh, maka kalimat-kalimatnya
harus kohesif. Hanya dengan hubungan kohesif seperti itulah suatu unsur dalam
wacana dapat di interpretasikan, sesuai dengan ketergantungannya dengan unsur-unsur
lainnya.
Kohesi wacana terbagi dalam dua aspek yaitu
kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal artinya kepaduan
bentuk sesuai dengan tata bahasa. Sedangkan, kohesi leksikal artinya kepaduan
bentuk sesuai dengan kata.
Kohesi gramatikal dibagi menjadi
beberapa bagian yang meliputi:
A.
Referensi
(pengacuan)
Referensi merupakan pengacuan satuan
lingual tertentu terhadap satuan lainnya. Di lihat dari acuannya, referensi
terbagi atas:
1. Referensi
eksofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di luar teks wacana.
Contoh: Itu matahari, kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di
luar teks, yaitu “benda berpijar yang menerangi alam ini”.
2. Referensi
endofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di dalam teks wacana. Referensi
endofora terbagi atas:
a. Referensi
anaphora yaitu pengacuan satual lingual yang disebutkan terlebih dahulu,
mengacu yang sebelah kiri. Contoh: Peringatan HUT ke-66 Indonesia ini akan di
ramaikan dengan pagelaran pesta kembang api.
b. Referensi
katafora yaitu pengacuan satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu
yang sebelah kanan. Contoh: Kamu harus pergi! Ayo, cici cepatlah!
Di
lihat dari klasifikasinya, referensi terbagi atas:
1. Referensi
persona yaitu pengacuan satual lingual berupa pronomina atau kata ganti orang.
Contoh: Firdaus, kamu harus mandi.
|
Tunggal
|
Jamak
|
|
|
Persona
pertama
|
Aku,
saya
|
Kami,
kita
|
|
Persona
kedua
|
Kamu,
engkau, anda
|
Kalian,
kami sekalian
|
|
Persona
ketiga
|
Dia,
ia, beliau
|
Mereka
|
2. Referensi
demonstrasi yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk menunjuk.
Biasanya menggunakan kata : kini, sekarang, saat ini, di sini, di situ, ini,
itu, dan sebagainya. Contoh: Pohon-pohon kelapa itu, tumbuh di tanah lereng diantara pepohonan lain yang rapat dan
rimbun.
3. Referensi
interogatif yaitu pengacuan satuan lingual berupa kata tanya. Contoh: Kamu mau kemana?
4. Referensi
komparatif yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk membandingkan
satual lingual lain. Contoh: Tidak
berbeda jauh dengan ibunya, Nita orangnya cantik, ramah, dan lemah lembut.
B.
Substitusi
( penggantian)
Substitusi
diartikan sebagai penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain dalam
wacana untuk memperoleh unsur pembeda.
Substitusi dilihat dari satuan lingualnya dapat dibedakan atas:
1. Substitusi
nominal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa
kata benda. Contoh: Memang Soni mencintai gadis
itu. Wanita itu berasal dari
Surakarta. Pacarnya itu memang
cantik, halus budi bahasanya, dan bersifat keibuan.
2. Substitusi
verbal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa
kata kerja. Contoh: Soni berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke
dokter kemarin sore. Ternyata dia di vonis menderita penyakit kanker. Selain berusaha ke dokter, dia juga tidak lupa
berdoa dan selalu berikhtiar pada
allah.
3. Substitusi
frasa yaitu penggantisn satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang
berupa frasa. Contoh: Hari ini hari
minggu. Mumpung hari libur aku
manfaatkan saja untuk menengok Nenek di desa.
4. Substitusi
klausal yaitu penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain
yang berupa klausa. Contoh :
Nida : jika perubahan yang dialami oleh azam
tidak bisa diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya, mungkin hal itu
dikarenakan oleh kenyataan bahwa orang-orang tesebut banyak yang tidak sukses
seperti azam.
Barik : tampaknya
memang begitu!
C.
Elipsis
(pelesapan)
Elipsis adalah
pelesapan satuan lingual tertentu yang sudah disebutkan sebelumnya. Adapun
fungsi dari elipsis yaitu:
1. Untuk
efektifitas kalimat
2. Untuk
mencapai nilai ekkonomis dalam pemakaian bahasa
3. Untuk
mencapai aspek kepaduan wacana
4. Untuk
mengaktifkan pikiran pendengar atau pembaca terhadap sesuatu yang di ungkapkan
dalam satuan kata.
Contoh: Tuhan selalu
memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang
menentukan dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih.
Kalimat kedua yang
berbunyi terima kasih merupakan elipsis. Unsur yang hilang adalah subjek dan
predikat. Kalimat tersebut selengkapnya berbunyi: Tuhan selalu memberikan
kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam
penyusunan skripsi ini. Saya mengucapkan
terima kasih.
Contoh lainnya, seperti
berikut:
Kakak: Kapan adik
datang?
Adik : tadi siang.
Pernyataan adik
tersebut merupakan pelesapan subjek dan predikat. Kalimat tersebut selengkapnya
berbunyi: Saya datang tadi siang.
D.
Konjungsi
(perangkaian)
Konjungsi adalah
kohesi gramatikal yang dilakukan dengan menghubungkan unsure yang satu dengan
unsure yang lain. Unsur yang dirangkai berupa kata, frasa, klausa, dan
paragraf. Macam-macam konjungsi sebagai berikut:
1.
Sebab-akibat
Hubungan
sebab-akibat terjadi apabila salah satu proposisi menunjukkan penyebab
terjadinya suatu kondisi tertentu yang merupakan akibat atau sebaliknya.
Konjungsi yang digunakan antara lain: karena, sebab, makanya, sehingga, oleh arena
itu, dengan demikian dan sebagainya. Contoh: Adik sakit sehingga tidak masuk sekolah.
2.
Pertentangan
Hubungan
pertentangan terjadi apabila ada dua ide atau proposisi yang menunjukkan
kebalikan atau kekontrasan. Konjungsi yang digunakan yaitu tetapi dan namun. Contoh:
Nyamuk berseliweran, pengemis, pelacur, pencoleng, dan gelandangan berkeliaran.
Namun, di kampung kumuh tersebut
sedang dibangun sekolah mewah.
3.
Kelebihan
atau eksesif
Hubungan eksesif
digunakan untuk menyatakan kelebihan, ditandai dengan konjungsi malah. Contoh:
Karena tadi malam kurang istirahat, dia tertidur di dalam kelas. Malah tugasnya belum dikerjakan pula.
4.
Perkecualian
atau eksepsif
Hubungan
eksepsif digunakan untuk menyatakan pengecualian, ditandai dengan konjungsi
kecuali. Contoh: Anda tidak boleh mengkonsumsi obat tersebut kecuali dengan persetujuan dokter.
5.
Tujuan
Hubungan tujuan
terjadi sebagai pewujudan untuk menyatakan tujuan yang ingin dicapai. Konjungsi
yang digunakan yaitu: agar dan sehingga. Contoh: Agar naik kelas, kamu harus rajin belajar.
6.
Penambahan
atau aditif
Penambahan
berguna untuk menghubungkan bagian yang bersifat menambahkan informasi dan pada
umumnya digunakan untuk merangkaikan dua proposisi atau lebih. Konjungsi yang
digunakan yaitu: dan, juga, serta, selain itu. Contoh: Tingkah lakunya menawan.
Tutur katanya sopan. Murah senyum, jarang marah, dan tidak pernah berbohong. Juga tidak mau mempercakapkan orang
lain. Selain itu, ia suka menolong
sesama teman. Dan dia penyabar.
7.
Pilihan
atau alternatif
Pilihan
digunakan menyatakan pilihan antara dua hal. Konjungsi yang digunakan yaitu
atau dan apa. Contoh: Pelajaran apa yang lebih kamu suka IPA atau IPS?
8.
Harapan
atau optatif
Konjungsi
harapan digunakan untuk menyatakan harapan yang ingin dicapai. Konjungsi yang
digunakan yaitu semoga, moga-moga. Contoh: Semoga,
dia lulus dengan nilai terbaik.
9.
Urutan
atau sekuential
Merupakan
proposisi yang menunjukkan suatu hubungan kesejajaran atau urutan waktu.
Konjungsi yang digunakan yaitu setelah itu, lalu, kemudian, terus, mula-mula. Contoh:
Intan bangun tidur pukul 05.00, kemudian
ambil air wudlu. Setelah itu dia
menunaikan sholat subuh dengan khusyuk. Lalu
tak lupa ia mengaji.
10.
Syarat
Merupakan
proposisi yang menunjukkan suatu hubungan syarat. Konjungsi yang digunakan
yaitu: apabila dan jika. Contoh: Jika
bulan ini aku bisa bekerja lebih giat maka gajiku akan bertambah.
11.
Cara
Merupakan
proposisi yang menunjukkan suatu hubungan cara. Konjungsi yang digunakan yaitu:
dengan cara. Contoh: Mungkin dengan cara
seperti ini, aku membantu beban keluarga.
Yang selanjutnya adalah
kohesi leksikal. Kohesi leksikal yaitu perpaduan bentuk dalam struktur kata. Kohesi leksikal meliputi :
A.
Pengulangan atau
repetisi
Repetisi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan konsesif
antar kalimat. Hubungan ini dibentuk dengan mengulang satuan lingual. Contoh: Berfilsafat
didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita
tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah
kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini.
B.
Sinonimi
Sinonimi merupakan persamaan makna kata. Contoh: Hari pahlawan
diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa yang rela
mengorbankan jiwa raga demi kesatuan Negara Republik Indonesia. Jasa mereka
selalu dikenang sepanjang masa.
C.
Antonim
Antonim merupakan perlawanan kata. Contoh: Dalam rangka menyambut
peringatan kemerdekaan Republic Indonesia, warga setempat mengadakan kerja
bakti. Bagi yang putri sebagian besar
membawa sapu, sedangkan yang putra membawa sabit. Tak ketinggalan pula nenek
maupun kakek ikut serta meramaikan peringatan tersebut.
D.
Hiponim
Hiponim merupakan sebuah pernyataan yang berpola umum-khusus Contoh:
Setiap hari Anita menyiram bunga di taman. Bermacam-macam bunga
diantaranya mawar, melati, dahlia, dan anggrek.
E.
Kolokasi
Kolokasi merupakan sebuah pernyataan yang berpola khusus-umum. Contoh:
Bermula dari goresan bolpoin pada selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari lembaran-lembaran
kertas tersebut di gabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi
perbincangan banyak orang karena banyak dimuat dalam majalah, koran,
televisi. Berkat media massa, namanya menjadi terkenal.
F.
Ekuivalensi
Ekuivalensi merupakan kesejajaran dalam sebuah kalimat. Contoh: Setiap
hari aku belajar dengan rajin. Bu Narti sebagai guruku selain mengajarkan mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan, beliau juga mengajarkan pendidikan moral.
Pada kondisi tertentu,
unsure-unsur kohesi menjadi kontributor penting bagi terbentuknya wacana yang
koheren ( Halliday dan Hassan, 1976 dalam Gunawan Budi Santosa, 1998:28). Namun
demikian pelu disadari bahwa unsur-unsur kohesi tersebut tidak selalu menjamin
terbentuknya wacana yang utuh dan koheren. Alasannya, pemakaian alat-alat
kohesif dalam suatu teks tidak langsung menghasilkan wacana yang koheren (
Anton M. Moeliono, dkk, 1988: 322). Dengan kata lain, srtuktur wacana yang baik
dan utuh harus memiliki syarat-syatar kohesi sekaligus koherensi.
3.
Koherensi
Koherensi adalah
pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu
untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dikandungnya (Wohl, 1978
: 25). Koherensi merupakan keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian
yang lainnya sehingga kalimat tersebut mempunyai kesatuan makna yang utuh. Yang
termasuk unsur-unsur koherensi meliputi:
1.
Penambahan
Sarana
penghubung yang berupa penambahan itu antara lain: dan, juga, lagi pula, selanjutnya,
seperti tertera pada contoh berikut:
Laki-laki
dan perempuan, tua dan muda, juga para tamu turut bekerja bergotong-royong menumpas hama tikus
di sawah-sawah di desa kami. Selain daripada menyelamatkan tanaman, juga upaya itu akan meningkatkan hasil
panen. Selanjutnya upaya itu
akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Lagi pula upaya ini telah lama dianjurkan oleh pemerintah kita.
2. Repetisi
Penggunaan
repetisi atau pengulangan kata sebagai sarana koherensi wacana, terlihat pada
contoh di bawah ini.
Dia
mengatakan kepada saya bahwa kasih sayang itu berada dalam jiwa dan raga sang ibu. Saya menerima kebenaran ucapan
itu. Betapa tidak. Kasih sayang pertama saya peroleh dari ibu saya.
Ibu melahirkan saya. Ibu mengasuh saya. Ibu menyusui saya. Ibu memandikan saya. Ibu menyuapi saya. Ibu meninabobokan saya. Ibu mencintai dan mengasihi saya. Saya
tidak bisa melupakan jasa dan kasih sayang ibu saya seumur hidup. Semoga ibu panjang umur dan dilindungi Tuhan.
3. Pronomina
Sarana
penghubung yang berupa kata ganti orang, terlihat pada contoh yang berikut ini:
Rumah Lani dan
rumah Mina di seberang sana. Mereka bertetangga. Lani membeli rumah
itu dengan harga lima juta rupiah. Harganya agak murah. Dia memang bernasib baik.
4.
Sinonimi
Pada
contoh berikut ini terlihat penggunaan sarana koherensi wacana yang berupa
sinonimi atau padanan kata (pengulangan makna).
Memang
dia mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Solo. Pacarnya itu memang cantik, halus budi
bahasa, dan bersifat keibuan sejati. Tak salah dia memilih kekasih, buah hati yang pantas kelak
dijadikan istri, teman hidup
selama hayat dikandung badan.
5. Totalitas Bagian
Kadang-kadang,
pembicaraan kita mulai dari keseluruhan, baru kemudian kita beralih atau
memperkenalkan bagian-bagiannya. Penggunaan sarana koherensif seperti yang
dimaksudkan, terlihat pada contoh berikut ini. Totalitas bagian bisa diartikan
pernyataan yang berpola umum-khusus.
Saya
membeli buku baru. Buku itu
terdiri dari tujuh bab. Setiap bab
terdiri pula dari sejumlah pasal. Setiap pasal tersusun dari beberapa paragraf. Seterusnya setiap paragraf terdiri dari beberapa
kalimat. Selanjutnya kalimat
terdiri atas beberapa kata.
Semua itu harus dipahami dari sudut pengajaran wacana.
6. Komparasi
Komparasi
atau perbandingan pun dapat menambah serta meningkatkan kekoherensifan wacana.
Komparasi digunakan untuk membandingkan dua hal yang berbeda, seperti dalam
contoh berikut ini.
Sama halnya dengan Paman
Lukas, kita pun harus segera
mendirikan rumah di atas tanah yang baru kita beli itu. Sekarang rumah Paman
Lukas itu hampir selesai. Mengapa kita tidak membuat hal yang serupa selekas mungkin? Kita juga sanggup berbuat hal yang sama, takkan lebih dari itu.
Tetapi,
tidak seperti rumah Paman Lukas
yang bertingkat, kita akan membangun rumah yang besar dan luas. Kita tidak
perlu mendirikan rumah bertingkat karena tanah kita cukup luas.
7. Penekanan
Dengan
sarana penekanan pun kita dapat pula menambah tingkat kekoherensifan wacana.
Penekanan digunakan untuk menekankan yang dianggap penting, seperti terlihat
pada contoh berikut ini.
Bekerja
bergotong-royong itu bukan pekerjaan sia-sia. Nyatalah kini hasilnya. Jembatan sepanjang tujuh kilometer yang
menghubungkan kampung kita ini dengan kampung di seberang ini telah selesai
kita kerjakan. Jelaslah hubungan
antara kedua kampung, berjalan lebih lancar. Sudah tentu hal ini memberi dampak positif bagi masyarakat kedua
kampung.
8. Kontras
Juga
dengan kontras atau pertentangan para penulis dapat menambah kekoherensifan
karyanya. Contoh penggunaan sarana seperti ini terlihat pada berikut ini.
Aneh
tapi nyata. Ada teman saya seangkatan, namanya Joni. Dia rajin sekali belajar, tetapi setiap ujian selalu tidak
lulus. Namun demikian, dia tidak
pernah putus asa. Dia tenang saja. Tidak pernah mengeluh. Bahkan sebaliknya, dia semakin rajin
belajar.
9. Simpulan
Dengan
kata-kata yang mengacu kepada hasil atau simpulan pun, kita dapat juga
meningkatkan kekoherensifan wacana. Penggunaan sarana seperti itu dapat dilihat
pada contoh berikut ini.
Pepohonan
telah menghijau di setiap pekarangan rumah dan ruangan kuliah di kampus kami.
Burung-burung beterbangan dari dahan ke dahan sambil bernyanyi-nyanyi. Udara
segar dan sejuk nyaman. Jadi
penghijauan di kampus itu telah berhasil. Demikianlah kini keadaan kampus kami, berbeda dengan beberapa
tahun yang lalu. Oleh karena itu,
para sivitas akademika merasa bangga atas kampus itu.
10.
Contoh
Dengan
pemberian contoh yang tepat dan serasi, kita dapat pula menciptakan
kekoherensifan wacana, seperti terlihat pada contoh berikut ini.
Halaman
rumah kami telah berubah menjadi warung hidup. Di pekarangan itu ditanami
kebutuhan dapur sehari-hari, umpamanya:
bayam, tomat, cabai, talas, singkong, dan lain-lain. Ada juga pekarangan rumah
yang berupa apotek hidup. Betapa tidak. Di pekarangan itu ditanami bahan
obat-obatan tradisional, misalnya:
kumis kucing, lengkuas, jahe, kunyit, sirih, dan lain-lain. Kelebihan kebutuhan
sehari-hari dari warung dan apotek hidup itu dapat pula dijual ke pasar, sebagai contoh: bayam, cabai, jahe,
dan sirih.
11.
Paralelisme
Pada contoh berikut ini terlihat
penggunaan kesejajaran atau paralelisme klausa sebagai sarana kekoherensifan
wacana. Kesejajaran tersebut dinyatakan dalam satu kalimat. Kesejajaran
tersebut bisa berupa subjek predikat, subjek predikat objek, atau yang lain.
Waktu dia datang, memang saya sedang asik membaca, saya sedang tekun mempelajari buku baru
mengenai wacana. Karena asiknya, saya
tidak mengetahui, saya tidak
mendengar bahwa dia telah duduk di kursi mengamati saya.
12.
Waktu
Kata-kata
yang mengacu pada tempat dan waktu pun dapat meningkatkan kekoherensifan
wacana, seperti terlihat pada contoh berikut ini.
Sementara itu tamu-tamu sudah
mulai berdatangan. Ruangan terasa kian sempit. Tidak lama kemudian, anak saya
mengangkat barang itu dan menaruhnya di
atas lemari.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Data
Wacana
Topik : Seni Keterampilan
Tekuni Beduk
Jepang 16 Tahun
Tak banyak orang tau di Magetan yang punya kemampuan membuat beduk tradisional
khas Jepang. Salah satu
perajin yang masih eksis adalah Apoh. Pria berdarah Tiongkok tersebut sudah
menggeluti usaha itu selama 16 tahun.
Belasan
beduk setengah jadi tertata rapi di panggung. Bentuknya berbeda dari beduk
umumnya karena cenderung kecil dengan panjang sekitar 1 meter.
Beduk itu juga dihiasi aksesoris dari karpet hijau dan merah. Berikutnya, potongan paku dicat
hitam dan emas. Secara tampilan, ornamennya mirip genderang Tiongkok. “memang
menyerupai beduk Tiongkok dan Korea, tapi sebenarnya ini beduk Jepang”, ujar
Apoh, perajin beduk, saat ditemui Jawa
Pos Radar Lawu kemarin (11/1).
Menurut Apoh, dirinya sudah 16 tahun menggeluti usaha pembuatan beduk. Tepatnya pada 2009 dia memulai
produksinya. Bukan perkara mudah mendapat keahlian pembuatan beduk.
Apoh mengaku harus belajar langsung selama tiga tahun di Jepang. “Di Indonesia, ini mungkin
satu-satunya pembuatan beduk Jepang. Di tempat usaha lain kebanyakan beduk
tradisional”, tutur pria kelahiran bangka Belitung 10 Agustus 1965 itu.
Kesempatan belajar tersebut diperoleh saat dia bekerja di Jakarta pada
1996. Ada seorang
temannya yang mencari perajin yaang bisa membuat beduk Jepang. Beduk itu bakal
dipasarkan di Indonesia. Namun, karena tidak ada seorang pun yang bisa,
akhirnya Apoh unjuk diri.
Bermodal Rp 3 juta, dia pergi ke Jepang untuk belajar membuat beduk khas
negara tersebut. “Waktu itu,
1996, sebelum krisis moneter, saya bekerja di bidang rangka baja”, kenang bapak
dua anak itu.
Dia merasakan sistem pembelajaran superdisiplin. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya, Apoh
harus menguasai cara memilih kulit yang baik untuk dibuat beduk. Mulai sistem
sayat hingga penggunan bahan kimia. “supaya beduk yang dibuat bersih dan kenyal
terus, sistem potongnya juga harus hati-hati”, jelasnya.
Setalah enam tahun masa kontrak belajarnya habis, dia pun kembali menetap
di Jakarta untuk membuka usahanya. Kemudian, pada tahun 2001 Apoh baru pindah ke Magetan. Sebab, dia
menemukan tambatan hatinya dan menikah. Seluruh perlengkapan dan alat pembuatan
beduk tersebut diboyong ke Magetan. “Saya tetap membuka usaha yang sama di
sini”, ujar perajin beduk yang tinggal di Desa Sugihwaras, Kecamatan Maospati,
kabupaten Magetan, itu.
Pemasarannya tidak hanya berada di wilayah Magetan, tetapi sampai keluar
Pulau Jawa. Antara
lain, Banjarmasin, Makassar, Kendari, dan Palu. “Hal utama yang menentukan
kualitas beduk ya kulitnya itu”, ungkapnya. (ota/JPNN/c19/bh)
B.
Analisis
Data
Analisis
data ini ditunjukkan dengan kalimat yang menggunakan topik yang ada pada
kalimat yang berjudul Tekuni Beduk
Jepang 16 Tahun kemudian terdapat juga pada awalan kalimat yaitu Tak
banyak orang tau di Magetan yang punya kemampuan membuat beduk tradisional khas
Jepang. pada akalimat ini menjelaskan bahwa ide sebuah topik merupakan sebuah pokok dalam
senuah wacana. Ang didalamnya terkandung yang bisa menarik minat para pembaca
agar bisa tertarik meskipun hanya melihat dari judul atau topik yang
dibahasnya.
Analisis
yang kedua yaitu pada kalimat Bentuknya berbeda dari beduk umumnya
karena cenderung kecil dengan panjang sekitar 1 meter. Beduk itu juga dihiasi aksesoris dari karpet hijau
dan merah. Karena pada kalimat ini mennjukkan bahwa kalimat
satu ke kalimat yang lainnya itu berlanjutan yang berkohesi karena kalimat dan
katanya saling bergantungan atau saling melengkapi sehingga menghasilkan
kata-kata yang kohesif.
Pada kalimat berikutnya Menurut Apoh, dirinya sudah 16 tahun menggeluti
usaha pembuatan beduk. Apoh mengaku harus belajar langsung selama tiga tahun di
Jepang. Kesempatan belajar tersebut diperoleh saat dia bekerja di Jakarta pada
1996. Pada ujaran kalimat ini
terdapat kalimat yang menyatakan fakta atau ide yang logis dan sebagai hanya
sekedar ujaran yang membuktikan bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat
koherensif. Yang di dalam sebuah kalimat tersebut terdapat kata yang realistis.
BAB IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Pada
kesimpilan ini bahwa prasyarat dalam wacana itu terkandung banyak hal yang
meliputi topik adalah sebuah suatu pokok dari sebuah pembicaraan atau sesuatu yang akan
menjadi landasan dalam penulisan sebuah wacana
kemudian Kohesi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks.
Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga
tampak koheren. Sehingga, fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi berhubungan
ketika seseorang menghubungkannnya. Selanjutnya koherensif yaitu sebuah gagasan,
fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan
yang dikandungnya. Apabila ketiga unsur prasyarat itu di gabungkan akan menjadi
sebuah wacana yang bagus dan dapat menjadi sebuah wacana yang menarik.
B.
Saran
Semua wacana yang terkandung dalam sebuah kalimat
tidak akan menjadi bagus dan benar apabila di dalamnya tidak terkandung
prasyarat wacana yang akan membuat wacana itu lebih bagus dan lebih menarik
untuk di pelajari dan di baca.
Daftar
pustaka
Mulyana,
2005. Kajian Wacana. Yogyakarta:
Tiara Wacana
Rani,
Abdul. 2006. Analisis Wacana: Sebuah
Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.
Koran Jawa Pos
Edisi 12 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar