Jumat, 12 Juni 2015

Makalah prasyarat wacana

MAKALAH
PRASYARAT WACANA

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Wacana
Dosen Pembimbing:
Diana Mayasari, M. pd


Disusun oleh:
1.    Dewi Apriliya                     (126752)
2.    Rochmah Harsintayana      (126764)
3.    Slamet Anggara                  (126775)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
JOMBANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Wacana adalah kesatuan makna (semantis) antara bagian di dalam suatu bangun bahasa. Dengan kesatuan makna, wacana dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Sedangkan, Henry Guntur Tarigan (1987: 27) menjelaskan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kaliat, memiliki kihesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis. Pendapat yang lain juga di sampaikan oleh Abdul Chaer (1994:267) menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Wacana dikatakan lengkap karena terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca dan pendengar tanpa keraguan apapun. Wacana dikatakan tertinggi atau terbesar karena wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyratan kewacaan lainnya (syrat kekohesian dan kekoherensian).
Di samping itu, wacana juga terikat pada konteks. Sebagai kesatuan yang abstrak, wacana dibedakan dari teks, tulisan, bacaan, dan tuturan yang mengacu pada makna yang sama, yaitu wujud konkrit yang terlihat, terbaca atau terdengar. Pemahaman struktur terhadap wacana akan memudahkan kita memahami bahasa secara lebih luas tidak saja dari struktur formal bahasa tetapi juga dari aspek di luar bahasa (konteks).
Pada makalah ini, penulis mengambil judul yaitu “Prasyarat Kewacanaan” yang di dalamnya membahas tentang topik, kohesi dan koherensi. Alasan penulis mengambil judul tersebut karena penulis ingin menjelaskan syarat-syarat yang harus ada dalam sebuah wacana, sehingga wacana bisa tersusun dengan baik sesuai dengan prasyarat wacana.
                                                        
B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana prasyarat kewacanaan yang ada di dalam sebuah wacana?

C.  Tujuan
1.    Untuk mengetahui prasyarat kewacanaan yang ada dalam sebuah wacana dengan baik dan benar.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.  Hakikat Wacana
Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi., hak asasi manusia, dan lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa yang digunakan tersebut. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga banyak dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi, politik, komunikasi, sastra dan sebagainya.
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat terbentuk lisan atau pun tulisan.
Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antar penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide atau gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Istilah wacana berasal dari kata Sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Henry Guntur Tarigan (1987: 27) menjelaskan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kaliat, memiliki kihesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis. Sedangkan, Abdul Chaer (1994:267) menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Wacana dikatakan lengkap karena terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca dan pendengar tanpa keraguan apapun. Wacana dikatakan tertinggi atau terbesar karena wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyratan kewacaan lainnya (syrat kekohesian dan kekoherensian).



Jadi, dapat disimpulkan bahwa wacana merupakan satuan gramatikal yang tertinggi, terlengkap dan terbesar dari frase, klausa atupun kalimat yang di dalamnya memiliki kohesi dan koherensi yang  jelas serta saling berkesinambungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya, sehingga wacana tidak hanya dapat disampaikan dengan cara tulisan tetapi juga dapat disampaikan dengan cara lisan.  
  
B.  Prasyarat Kewacanaan
Di dalam sebuah wacana tentunya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika membuat suatu wacana. Syarat-syarat tersebut dapat membuat sebuah wacana itu lebih hidup dan lebih dipamahi baik oleh pembaca maupun pendengar .
1.    Topik
Topik merupakan suatu pokok dari sebuah pembicaraan atau sesuatu yang akan menjadi landasan dalam penulisan sebuah wacana. Di dalam menentukan sebuah topik tentunya kita juga harus memperhatikan beberapa syarat, syarat-syarat tersebut antara lain :
a.    Topik yang dipilih harus menarik perhatian,
b.    Dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca,
c.    Topik yang dipilih harus mempunyai sumber acuan yang jelas atau real.

Di dalam menentukan sebuah topik pada suatu wacana tentunya kita harus membatasinya. Topik yang dipilih harus terbatas, sebab apabila suatu topik itu terlalu luas maka topik itu akan menjadi dangkal dan tidak menarik untuk dibahas. Adapun yang mencakup dalam pembatasan tersebut meliputi : konsep, variabel, data, lokasi pengumpulan data dan waktu pengumpulan data. Elemen – elemen tersebut saling berhubungan satu sama lain, apabila salah satu elemen tersebut ada yang hilang maka sebuah topik itu tidak akan menarik dan akan terasa membosankan.
Contoh apabila dalam memilih sebuah topik kita tidak menghiraukan konsep dari topik itu sendiri maka topik yang kita pilih itu tidak akan menarik si pembaca untuk membaca artikel yang telah kita buat. Jadi, pada intinya semua elemen tersebut saling mendukung agar sebuah topik itu dapat menarik perhatian si pembaca untuk membaca artikel yang kita buat.


Orang sering mengatakan bahwa topik merupakan judul dalam sebuah wacana. Akan tetapi, pada dasarnya topik dan judul memiliki pengertian yang sangat berbeda. Topik berasal dari bahasa Yunani yaitu “Topoi” yang berati tempat dalam tulis menulis, pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan, maka dari itu topik merupakan salah satu unsur yang  harus ada dalam sebuah wacana. Menurut Howe topik itu merupakan syarat penting terbentuknya sebuah wacana.
Sedangkan pengertian dari judul adalah sebuah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, atau kepala berita. Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.
Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwasannya topik dan dan judul sangatlah berbeda. Topik merupakan tempat dalam tulis menulis, pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan, maka dari itu topik merupakan salah satu unsur yang  harus ada dalam sebuah wacana. Sedangkan judul merupakan sebuah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, atau kepala berita.

2.    Kohesi
Kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk secara structural membentuk ikatan sintaktikal. Anton M. Moelino (1988:34)  menyatakan bahwa wacana yang baik dan utuh mensyaratkan kalimat-kalimat yang kohesif. Konsep kohesif sebenarnya mengacu kepada hubungan bentuk. Artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh. Menurut Anton M. Moelino, dkk ( 1987:96) untuk memperoleh wacana yang baik dan utuh, maka kalimat-kalimatnya harus kohesif. Hanya dengan hubungan kohesif seperti itulah suatu unsur dalam wacana dapat di interpretasikan, sesuai dengan ketergantungannya dengan unsur-unsur lainnya.
 Kohesi wacana terbagi dalam dua aspek yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan tata bahasa. Sedangkan, kohesi leksikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan kata.


Kohesi gramatikal dibagi menjadi beberapa bagian yang meliputi:
A.  Referensi (pengacuan)
Referensi merupakan pengacuan satuan lingual tertentu terhadap satuan lainnya. Di lihat dari acuannya, referensi terbagi atas:
1.    Referensi eksofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di luar teks wacana. Contoh: Itu matahari, kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu “benda berpijar yang menerangi alam ini”.
2.    Referensi endofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di dalam teks wacana. Referensi endofora terbagi atas:
a.    Referensi anaphora yaitu pengacuan satual lingual yang disebutkan terlebih dahulu, mengacu yang sebelah kiri. Contoh: Peringatan HUT ke-66 Indonesia ini akan di ramaikan dengan pagelaran pesta kembang api.
b.    Referensi katafora yaitu pengacuan satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu yang sebelah kanan. Contoh: Kamu harus pergi! Ayo, cici cepatlah!
Di lihat dari klasifikasinya, referensi terbagi atas:
1.    Referensi persona yaitu pengacuan satual lingual berupa pronomina atau kata ganti orang. Contoh: Firdaus, kamu harus mandi.
Tunggal
Jamak
Persona pertama
Aku, saya
Kami, kita
Persona kedua
Kamu, engkau, anda
Kalian, kami sekalian
Persona ketiga
Dia, ia, beliau
Mereka

2.    Referensi demonstrasi yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk menunjuk. Biasanya menggunakan kata : kini, sekarang, saat ini, di sini, di situ, ini, itu, dan sebagainya. Contoh: Pohon-pohon kelapa itu, tumbuh di tanah lereng diantara pepohonan lain yang rapat dan rimbun.
3.    Referensi interogatif yaitu pengacuan satuan lingual berupa kata tanya. Contoh: Kamu mau kemana?
4.    Referensi komparatif yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk membandingkan satual lingual lain. Contoh: Tidak berbeda jauh dengan ibunya, Nita orangnya cantik, ramah, dan lemah lembut.
B.  Substitusi ( penggantian)
Substitusi diartikan sebagai penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk  memperoleh unsur pembeda. Substitusi dilihat dari satuan lingualnya dapat dibedakan atas:
1.    Substitusi nominal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata benda. Contoh: Memang Soni mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Surakarta. Pacarnya itu memang cantik, halus budi bahasanya, dan bersifat keibuan.
2.    Substitusi verbal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata kerja. Contoh: Soni berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke dokter kemarin sore. Ternyata dia di vonis menderita penyakit kanker. Selain berusaha ke dokter, dia juga tidak lupa berdoa dan selalu berikhtiar pada allah.
3.    Substitusi frasa yaitu penggantisn satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa frasa. Contoh: Hari ini hari minggu. Mumpung hari libur aku manfaatkan saja untuk menengok Nenek di desa.
4.    Substitusi klausal yaitu penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa klausa. Contoh :
Nida         : jika perubahan yang dialami oleh azam tidak bisa diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya, mungkin hal itu dikarenakan oleh kenyataan bahwa orang-orang tesebut banyak yang tidak sukses seperti azam.
Barik        : tampaknya memang begitu!

C.  Elipsis (pelesapan)
Elipsis adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang sudah disebutkan sebelumnya. Adapun fungsi dari elipsis yaitu:
1.    Untuk efektifitas kalimat
2.    Untuk mencapai nilai ekkonomis dalam pemakaian bahasa
3.    Untuk mencapai aspek kepaduan wacana
4.    Untuk mengaktifkan pikiran pendengar atau pembaca terhadap sesuatu yang di ungkapkan dalam satuan kata.
Contoh: Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih.
Kalimat kedua yang berbunyi terima kasih merupakan elipsis. Unsur yang hilang adalah subjek dan predikat. Kalimat tersebut selengkapnya berbunyi: Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini. Saya mengucapkan terima kasih.
Contoh lainnya, seperti berikut:
Kakak: Kapan adik datang?
Adik  : tadi siang.
Pernyataan adik tersebut merupakan pelesapan subjek dan predikat. Kalimat tersebut selengkapnya berbunyi: Saya datang tadi siang.
D.  Konjungsi (perangkaian)
Konjungsi adalah kohesi gramatikal yang dilakukan dengan menghubungkan unsure yang satu dengan unsure yang lain. Unsur yang dirangkai berupa kata, frasa, klausa, dan paragraf. Macam-macam konjungsi sebagai berikut:
1.    Sebab-akibat
Hubungan sebab-akibat terjadi apabila salah satu proposisi menunjukkan penyebab terjadinya suatu kondisi tertentu yang merupakan akibat atau sebaliknya. Konjungsi yang digunakan antara lain: karena, sebab, makanya, sehingga, oleh arena itu, dengan demikian dan sebagainya. Contoh: Adik sakit sehingga tidak masuk sekolah.
2.    Pertentangan
Hubungan pertentangan terjadi apabila ada dua ide atau proposisi yang menunjukkan kebalikan atau kekontrasan. Konjungsi yang digunakan yaitu tetapi dan namun. Contoh: Nyamuk berseliweran, pengemis, pelacur, pencoleng, dan gelandangan berkeliaran. Namun, di kampung kumuh tersebut sedang dibangun sekolah mewah.
3.    Kelebihan atau eksesif
Hubungan eksesif digunakan untuk menyatakan kelebihan, ditandai dengan konjungsi malah. Contoh: Karena tadi malam kurang istirahat, dia tertidur di dalam kelas. Malah tugasnya belum dikerjakan pula.
4.    Perkecualian atau eksepsif
Hubungan eksepsif digunakan untuk menyatakan pengecualian, ditandai dengan konjungsi kecuali. Contoh: Anda tidak boleh mengkonsumsi obat tersebut kecuali dengan persetujuan dokter.
5.    Tujuan
Hubungan tujuan terjadi sebagai pewujudan untuk menyatakan tujuan yang ingin dicapai. Konjungsi yang digunakan yaitu: agar dan sehingga. Contoh: Agar naik kelas, kamu harus rajin belajar.
6.    Penambahan atau aditif
Penambahan berguna untuk menghubungkan bagian yang bersifat menambahkan informasi dan pada umumnya digunakan untuk merangkaikan dua proposisi atau lebih. Konjungsi yang digunakan yaitu: dan, juga, serta, selain itu. Contoh: Tingkah lakunya menawan. Tutur katanya sopan. Murah senyum, jarang marah, dan tidak pernah berbohong. Juga tidak mau mempercakapkan orang lain. Selain itu, ia suka menolong sesama teman. Dan dia penyabar.
7.    Pilihan atau alternatif
Pilihan digunakan menyatakan pilihan antara dua hal. Konjungsi yang digunakan yaitu atau dan apa. Contoh: Pelajaran apa yang lebih kamu suka IPA atau IPS?
8.    Harapan atau optatif
Konjungsi harapan digunakan untuk menyatakan harapan yang ingin dicapai. Konjungsi yang digunakan yaitu semoga, moga-moga. Contoh: Semoga, dia lulus dengan nilai terbaik.
9.    Urutan atau sekuential
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan kesejajaran atau urutan waktu. Konjungsi yang digunakan yaitu setelah itu, lalu, kemudian, terus, mula-mula. Contoh: Intan bangun tidur pukul 05.00, kemudian ambil air wudlu. Setelah itu dia menunaikan sholat subuh dengan khusyuk. Lalu tak lupa ia mengaji.
10.     Syarat
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan syarat. Konjungsi yang digunakan yaitu: apabila dan jika. Contoh: Jika bulan ini aku bisa bekerja lebih giat maka gajiku akan bertambah.
11.     Cara
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan cara. Konjungsi yang digunakan yaitu: dengan cara. Contoh: Mungkin dengan cara seperti ini, aku membantu beban keluarga.

Yang selanjutnya adalah kohesi leksikal. Kohesi leksikal yaitu perpaduan bentuk dalam struktur kata. Kohesi leksikal meliputi :
A.  Pengulangan atau repetisi
Repetisi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan konsesif antar kalimat. Hubungan ini dibentuk dengan mengulang satuan lingual. Contoh: Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini.
B.  Sinonimi
Sinonimi merupakan persamaan makna kata. Contoh: Hari pahlawan diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa yang rela mengorbankan jiwa raga demi kesatuan Negara Republik Indonesia. Jasa mereka selalu dikenang sepanjang masa.
C.  Antonim
Antonim merupakan perlawanan kata. Contoh: Dalam rangka menyambut peringatan kemerdekaan Republic Indonesia, warga setempat mengadakan kerja bakti. Bagi yang putri sebagian besar membawa sapu, sedangkan yang putra membawa sabit. Tak ketinggalan pula nenek maupun kakek ikut serta meramaikan peringatan tersebut.
D.  Hiponim
Hiponim merupakan sebuah pernyataan yang berpola umum-khusus Contoh: Setiap hari Anita menyiram bunga di taman. Bermacam-macam bunga diantaranya mawar, melati, dahlia, dan anggrek.
E.  Kolokasi
Kolokasi merupakan sebuah pernyataan yang berpola khusus-umum. Contoh: Bermula dari goresan bolpoin pada selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari lembaran-lembaran kertas tersebut di gabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi perbincangan banyak orang karena banyak dimuat dalam majalah, koran, televisi. Berkat media massa, namanya menjadi terkenal.




F.   Ekuivalensi
Ekuivalensi merupakan kesejajaran dalam sebuah kalimat. Contoh: Setiap hari aku belajar dengan rajin. Bu Narti sebagai guruku selain  mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, beliau juga mengajarkan pendidikan moral.
Pada kondisi tertentu, unsure-unsur kohesi menjadi kontributor penting bagi terbentuknya wacana yang koheren ( Halliday dan Hassan, 1976 dalam Gunawan Budi Santosa, 1998:28). Namun demikian pelu disadari bahwa unsur-unsur kohesi tersebut tidak selalu menjamin terbentuknya wacana yang utuh dan koheren. Alasannya, pemakaian alat-alat kohesif dalam suatu teks tidak langsung menghasilkan wacana yang koheren ( Anton M. Moeliono, dkk, 1988: 322). Dengan kata lain, srtuktur wacana yang baik dan utuh harus memiliki syarat-syatar kohesi sekaligus koherensi.
3.    Koherensi
Koherensi adalah pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dikandungnya (Wohl, 1978 : 25). Koherensi merupakan keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya sehingga kalimat tersebut mempunyai kesatuan makna yang utuh. Yang termasuk unsur-unsur koherensi meliputi:
1.    Penambahan
Sarana penghubung yang berupa penambahan itu antara lain: dan, juga, lagi pula, selanjutnya, seperti tertera pada contoh berikut:
Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, juga para tamu turut bekerja bergotong-royong menumpas hama tikus di sawah-sawah di desa kami. Selain daripada menyelamatkan tanaman, juga upaya itu akan meningkatkan hasil panen. Selanjutnya upaya itu akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Lagi pula upaya ini telah lama dianjurkan oleh pemerintah kita.
2.    Repetisi
Penggunaan repetisi atau pengulangan kata sebagai sarana koherensi wacana, terlihat pada contoh di bawah ini.
Dia mengatakan kepada saya bahwa kasih sayang itu berada dalam jiwa dan raga sang ibu. Saya menerima kebenaran ucapan itu. Betapa tidak. Kasih sayang pertama saya peroleh dari ibu saya.
Ibu melahirkan saya. Ibu mengasuh saya. Ibu menyusui saya. Ibu memandikan saya. Ibu menyuapi saya. Ibu meninabobokan saya. Ibu mencintai dan mengasihi saya. Saya tidak bisa melupakan jasa dan kasih sayang ibu saya seumur hidup. Semoga ibu panjang umur dan dilindungi Tuhan.
3.    Pronomina
Sarana penghubung yang berupa kata ganti orang, terlihat pada contoh yang berikut ini:
Rumah Lani dan rumah Mina di seberang sana. Mereka bertetangga. Lani membeli rumah itu dengan harga lima juta rupiah. Harganya agak murah. Dia memang bernasib baik.
4.    Sinonimi
Pada contoh berikut ini terlihat penggunaan sarana koherensi wacana yang berupa sinonimi atau padanan kata (pengulangan makna).
Memang dia mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Solo. Pacarnya itu memang cantik, halus budi bahasa, dan bersifat keibuan sejati. Tak salah dia memilih kekasih, buah hati yang pantas kelak dijadikan istri, teman hidup selama hayat dikandung badan. 
5.    Totalitas Bagian
Kadang-kadang, pembicaraan kita mulai dari keseluruhan, baru kemudian kita beralih atau memperkenalkan bagian-bagiannya. Penggunaan sarana koherensif seperti yang dimaksudkan, terlihat pada contoh berikut ini. Totalitas bagian bisa diartikan pernyataan yang berpola umum-khusus.
Saya membeli buku baru. Buku itu terdiri dari tujuh bab. Setiap bab terdiri pula dari sejumlah pasal. Setiap pasal tersusun dari beberapa paragraf. Seterusnya setiap paragraf terdiri dari beberapa kalimat. Selanjutnya kalimat terdiri atas beberapa kata. Semua itu harus dipahami dari sudut pengajaran wacana.
6.    Komparasi
Komparasi atau perbandingan pun dapat menambah serta meningkatkan kekoherensifan wacana. Komparasi digunakan untuk membandingkan dua hal yang berbeda, seperti dalam contoh berikut ini.
Sama halnya dengan Paman Lukas, kita pun harus segera mendirikan rumah di atas tanah yang baru kita beli itu. Sekarang rumah Paman Lukas itu hampir selesai. Mengapa kita tidak membuat hal yang serupa selekas mungkin? Kita juga sanggup berbuat hal yang sama, takkan lebih dari itu.
Tetapi, tidak seperti rumah Paman Lukas yang bertingkat, kita akan membangun rumah yang besar dan luas. Kita tidak perlu mendirikan rumah bertingkat karena tanah kita cukup luas.
7.    Penekanan
Dengan sarana penekanan pun kita dapat pula menambah tingkat kekoherensifan wacana. Penekanan digunakan untuk menekankan yang dianggap penting, seperti terlihat pada contoh berikut ini.
Bekerja bergotong-royong itu bukan pekerjaan sia-sia. Nyatalah kini hasilnya. Jembatan sepanjang tujuh kilometer yang menghubungkan kampung kita ini dengan kampung di seberang ini telah selesai kita kerjakan. Jelaslah hubungan antara kedua kampung, berjalan lebih lancar. Sudah tentu hal ini memberi dampak positif bagi masyarakat kedua kampung. 
8.    Kontras
Juga dengan kontras atau pertentangan para penulis dapat menambah kekoherensifan karyanya. Contoh penggunaan sarana seperti ini terlihat pada berikut ini.
Aneh tapi nyata. Ada teman saya seangkatan, namanya Joni. Dia rajin sekali belajar, tetapi setiap ujian selalu tidak lulus. Namun demikian, dia tidak pernah putus asa. Dia tenang saja. Tidak pernah mengeluh. Bahkan sebaliknya, dia semakin rajin belajar. 
9.    Simpulan
Dengan kata-kata yang mengacu kepada hasil atau simpulan pun, kita dapat juga meningkatkan kekoherensifan wacana. Penggunaan sarana seperti itu dapat dilihat pada contoh berikut ini.
Pepohonan telah menghijau di setiap pekarangan rumah dan ruangan kuliah di kampus kami. Burung-burung beterbangan dari dahan ke dahan sambil bernyanyi-nyanyi. Udara segar dan sejuk nyaman. Jadi penghijauan di kampus itu telah berhasil. Demikianlah kini keadaan kampus kami, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Oleh karena itu, para sivitas akademika merasa bangga atas kampus itu.





10.      Contoh
Dengan pemberian contoh yang tepat dan serasi, kita dapat pula menciptakan kekoherensifan wacana, seperti terlihat pada contoh berikut ini.
Halaman rumah kami telah berubah menjadi warung hidup. Di pekarangan itu ditanami kebutuhan dapur sehari-hari, umpamanya: bayam, tomat, cabai, talas, singkong, dan lain-lain. Ada juga pekarangan rumah yang berupa apotek hidup. Betapa tidak. Di pekarangan itu ditanami bahan obat-obatan tradisional, misalnya: kumis kucing, lengkuas, jahe, kunyit, sirih, dan lain-lain. Kelebihan kebutuhan sehari-hari dari warung dan apotek hidup itu dapat pula dijual ke pasar, sebagai contoh: bayam, cabai, jahe, dan sirih.
11.      Paralelisme
Pada contoh berikut ini terlihat penggunaan kesejajaran atau paralelisme klausa sebagai sarana kekoherensifan wacana. Kesejajaran tersebut dinyatakan dalam satu kalimat. Kesejajaran tersebut bisa berupa subjek predikat, subjek predikat objek, atau yang lain.
Waktu dia datang, memang saya sedang asik membaca, saya sedang tekun mempelajari buku baru mengenai wacana. Karena asiknya, saya tidak mengetahui, saya tidak mendengar bahwa dia telah duduk di kursi mengamati saya.
12.      Waktu
Kata-kata yang mengacu pada tempat dan waktu pun dapat meningkatkan kekoherensifan wacana, seperti terlihat pada contoh berikut ini.
Sementara itu tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Ruangan terasa kian sempit. Tidak lama kemudian, anak saya mengangkat barang itu dan menaruhnya di atas lemari. 








BAB III
PEMBAHASAN
A.  Data
Wacana
Topik : Seni Keterampilan
Tekuni Beduk Jepang 16 Tahun
Tak banyak orang tau di Magetan yang punya kemampuan membuat beduk tradisional khas Jepang. Salah satu perajin yang masih eksis adalah Apoh. Pria berdarah Tiongkok tersebut sudah menggeluti usaha itu selama 16 tahun.
Belasan beduk setengah jadi tertata rapi di panggung. Bentuknya berbeda dari beduk umumnya karena cenderung kecil dengan panjang sekitar 1 meter.
Beduk itu juga dihiasi aksesoris dari karpet hijau dan merah. Berikutnya, potongan paku dicat hitam dan emas. Secara tampilan, ornamennya mirip genderang Tiongkok. “memang menyerupai beduk Tiongkok dan Korea, tapi sebenarnya ini beduk Jepang”, ujar Apoh, perajin beduk, saat ditemui Jawa Pos Radar Lawu kemarin (11/1).
Menurut Apoh, dirinya sudah 16 tahun menggeluti usaha pembuatan beduk. Tepatnya pada 2009 dia memulai produksinya. Bukan perkara mudah mendapat keahlian pembuatan beduk.
Apoh mengaku harus belajar langsung selama tiga tahun di Jepang. “Di Indonesia, ini mungkin satu-satunya pembuatan beduk Jepang. Di tempat usaha lain kebanyakan beduk tradisional”, tutur pria kelahiran bangka Belitung 10 Agustus 1965 itu.
Kesempatan belajar tersebut diperoleh saat dia bekerja di Jakarta pada 1996. Ada seorang temannya yang mencari perajin yaang bisa membuat beduk Jepang. Beduk itu bakal dipasarkan di Indonesia. Namun, karena tidak ada seorang pun yang bisa, akhirnya Apoh unjuk diri.
Bermodal Rp 3 juta, dia pergi ke Jepang untuk belajar membuat beduk khas negara tersebut. “Waktu itu, 1996, sebelum krisis moneter, saya bekerja di bidang rangka baja”, kenang bapak dua anak itu.
Dia merasakan sistem pembelajaran superdisiplin. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya, Apoh harus menguasai cara memilih kulit yang baik untuk dibuat beduk. Mulai sistem sayat hingga penggunan bahan kimia. “supaya beduk yang dibuat bersih dan kenyal terus, sistem potongnya juga harus hati-hati”, jelasnya.
Setalah enam tahun masa kontrak belajarnya habis, dia pun kembali menetap di Jakarta untuk membuka usahanya. Kemudian, pada tahun 2001 Apoh baru pindah ke Magetan. Sebab, dia menemukan tambatan hatinya dan menikah. Seluruh perlengkapan dan alat pembuatan beduk tersebut diboyong ke Magetan. “Saya tetap membuka usaha yang sama di sini”, ujar perajin beduk yang tinggal di Desa Sugihwaras, Kecamatan Maospati, kabupaten Magetan, itu.
Pemasarannya tidak hanya berada di wilayah Magetan, tetapi sampai keluar Pulau Jawa. Antara lain, Banjarmasin, Makassar, Kendari, dan Palu. “Hal utama yang menentukan kualitas beduk ya kulitnya itu”, ungkapnya. (ota/JPNN/c19/bh)

B.  Analisis Data
Analisis data ini ditunjukkan dengan kalimat yang menggunakan topik yang ada pada kalimat yang berjudul Tekuni Beduk Jepang 16 Tahun kemudian terdapat juga pada awalan kalimat yaitu Tak banyak orang tau di Magetan yang punya kemampuan membuat beduk tradisional khas Jepang. pada akalimat ini menjelaskan bahwa ide  sebuah topik merupakan sebuah pokok dalam senuah wacana. Ang didalamnya terkandung yang bisa menarik minat para pembaca agar bisa tertarik meskipun hanya melihat dari judul atau topik yang dibahasnya.
Analisis yang kedua yaitu pada kalimat Bentuknya berbeda dari beduk umumnya karena cenderung kecil dengan panjang sekitar 1 meter.  Beduk itu juga dihiasi aksesoris dari karpet hijau dan merah. Karena pada kalimat ini mennjukkan bahwa kalimat satu ke kalimat yang lainnya itu berlanjutan yang berkohesi karena kalimat dan katanya saling bergantungan atau saling melengkapi sehingga menghasilkan kata-kata yang kohesif.
Pada kalimat berikutnya Menurut Apoh, dirinya sudah 16 tahun menggeluti usaha pembuatan beduk. Apoh mengaku harus belajar langsung selama tiga tahun di Jepang. Kesempatan belajar tersebut diperoleh saat dia bekerja di Jakarta pada 1996.  Pada ujaran kalimat ini terdapat kalimat yang menyatakan fakta atau ide yang logis dan sebagai hanya sekedar ujaran yang membuktikan bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat koherensif. Yang di dalam sebuah kalimat tersebut terdapat kata yang realistis.







BAB IV
PENUTUP

A.  Simpulan
Pada kesimpilan ini bahwa prasyarat dalam wacana itu terkandung banyak hal yang meliputi topik adalah sebuah suatu pokok dari sebuah pembicaraan atau sesuatu yang akan menjadi landasan dalam penulisan sebuah wacana kemudian Kohesi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga, fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi berhubungan ketika seseorang menghubungkannnya. Selanjutnya koherensif yaitu sebuah gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dikandungnya. Apabila ketiga unsur prasyarat itu di gabungkan akan menjadi sebuah wacana yang bagus dan dapat menjadi sebuah wacana yang menarik.
B.  Saran
Semua wacana yang terkandung dalam sebuah kalimat tidak akan menjadi bagus dan benar apabila di dalamnya tidak terkandung prasyarat wacana yang akan membuat wacana itu lebih bagus dan lebih menarik untuk di pelajari dan di baca.









Daftar pustaka
Mulyana, 2005. Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana
Rani, Abdul. 2006. Analisis Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.
Koran Jawa Pos Edisi 12 Januari 2015




Tidak ada komentar:

Posting Komentar