Jumat, 12 Juni 2015

Analisis wacana teori Norman Fairclough

ANALISIS WACANA (TEORI NORMAN FAIRCLOUGHDALAM KAJIAN TEKS PEMBERITAAN DUA MEDIA YANG BERBEDAPEMILIHAN PRESIDEN” OLEH KORAN JAWA POS DAN MEDIA INDONESIA)
Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas
Mata kuliah Wacana
Logo STKIP.jpg
KELOMPOK 10
1.        Rizki Ariana Nurdiana    (126774)
2.        Sumanto                           (116)
3.        Zendy Apriliya                 (126740)
4.        Zully Ika Damayani         (126)
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2012-B
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
JOMBANG
2015


BAB 1
PENDAHULUAN
                            A.            Latar Belakang
Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. 
Wacana adalah proses pengembangan komunikasi yang menggunakan simbol-simboldan peristiwa-peristiwa di dalam sistem kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana pesan-pesan komunikasi, seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain, ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, misalnya konteks peristiwa yang berkenaan dengannya, situasi masyarakat luas yang melatar belakangi keberadaannya, dan lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai, ideologi, emosi, dan kepentingan-kepentingan. Jadi, analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.
Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana. 
Norman Fairclough melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur/tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya kedalam 3 tingkatan.
Pertama Analisis Mikrostruktur (Proses produksi): aspek yang dikejar dalam tingkat analisis ini adalah garis besar atau isi teks, lokasi, sikap dan tindakan tokoh tersebut dan seterusnya. Kedua Analisis Mesostruktur (Proses interpretasi): terfokus pada dua aspek yaitu produksi teks dan konsumsi teks. Ketiga Analisis Makrostruktur (Proses wacana) terfokus pada fenomena dimana teks dibuat.  Untuk menemukan ”realitas” di balik teks
Topik yang saya ambil dalam analisis ini yaitu mengenai teks dari dua media yang berbedatentang “pelaksanaan pemilihan presiden” oleh koran Jawa Pos dan Media Indonesia edisi 8 juli 2014  dengan memakai konsep analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Alasan saya memilih konsep Norman Fairclough ini karena buah pikiran Norman Fairclough dinilai lebih sistematis dan juga lebih jelas dalam menggambarkan representasi teks.

                             B.            Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah analisis wacana pada teks pemberitaan mengenai dua media yang berbeda tentangpelaksanaan pemilihan presiden” oleh koran jawa pos dan media indonesia edisi kamis edisi 8 juli 2014 melalui teori Norman Fairclough?

                            C.            Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui analisis wacana pada teks pemberitaan pemberitaan mengenai dua media yang berbeda tentangpelaksanaan pemilihan presiden” oleh koran jawa pos dan media indonesia edisi kamis edisi 8 juli 2014 melalui teori Norman Fairclough



BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Definisi Wacana dan Analisis Wacana
Wacana merupakan satuan bahasa berdasarkan kata yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu merupakan deretan kata atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antara penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana dapat dlihat sebagai hasil dari pengungkapan idea/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaumpositivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif). 
Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. –Analisis Framing (bingkai).
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma inimenekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).
Mengenai paradigma kritis, Stephen W. Littlejohn, seperti dikutip Alex Sobur, menjelaskan: “Perkembangan teori komunikasi massa yang didasarkan pada tradisi kritis Eropa (Marxis) cenderung memandang media sebagai alat ideologi kelas dominan. Tradisi Eropa berusaha mematahkan dominasi model komunikasi Amerika yang notabene adalah penganut aliran Laswellian ataupun stimulus-respon, teori yang berasumsi khalayak adalah konsumer pasif media massa.
Dengan kata lain, fenomena komunikasi massa bukanlah sekedar sebuah proses yang linear atau sebatas transmisi (pengiriman) pesan kepada khalayak massa, tetapi dalam proses tersebut komunikasi dilihat sebagai produksi dan pertukaran pesan (atau teks) berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna tertentu.” Salah satu tokoh pendirianalisis wacana kritis adalah Norman Fairclough.Sebagai ilmuwan eropa, hasil pemikiranNorman Fairclough tentang analisis wacana kritis dipengaruhi oleh sejumlah pemikir Eropa. Ada tiga wilayah keilmuan yang cukup berpengaruh pada hasil-hasil pemikiran Norman Fairclough. Perama, di bidang bahasa, pemikiran norman fairclough dipengaruhi oleh Mikhail Bakhtin dan Michael Halliday. Kedua, dipengaruhi oleh pemikir sosioligi diantaranya Pierre Bourdieu dan Michel Foucault. Ketiga, Norman Fairclough cukup dipengaruhi oleh teori-teori tentang ideologi, yakni hasil pemikiran Antonio Gramsci dan Louis Althusser. Khusus Louis Althusser dan Antonio Gramsci, pemikiran keduanya memiliki akar teoritis cukup kuat pada pemikiran Karl Marx.  Oleh karena itu, analisis wacana kritis milik Norman Fairclough,Menganggap bahwa teks di dalam media bukanlah sebuah entitas netral dan terlepas dari kepentingan. Untuk mengetahui kepentingan yang ada di balik media diperlukan analisis mendalam terhadap teks di dalam media, proses produksi teks dan latar belakang sosial-budaya-politik melalui analisis wacana kritis.  Bahwasanya dalam analisis wacana seorang peneliti atau penulis melihat teks sebagai hal yang memiliki konteks baik berdasarkan “process of production” atau “text production”, “process of interpretation” atau “text consumption” maupun berdasarkan praktik sosio-kultural. Dengan demikian, untuk memahami wacana (naskah/teks) kita tak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks.

B.     Klasifikasi Sebuah Makna Norman fairclough
Dikarenakan dalam sebuah teks tidak lepas akan kepentingan yang yang bersifat subyektif. Didalam sebuah teks juga dibutuhkan penekanannya pada makna (Meaning) (lebih jauh dari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya pikir dan akal budi). Artinya: Setelah kita mendapat sebuah teks yang telah ada dan kita juga telah mendapat sebuah gambaran tentang teori yang akan dipakai untuk membedah masalah, maka langkah selanjutnya adalah kita memadukan kedua hal tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut kita memakai sebuah teori untuk membedahnya. Kemudian Norman fairclough mengklasifikasikan sebuah makna dalam analisis wacana sebagai berikut:
Translation (mengemukakan subtansi yang sama dengan media). Artinya: . Pada dasarnya teks media massa bukan realitas yang bebas nilai. Pada titik kesadaran pokok manusia, teks selalu memuat kepentingan. Teks pada prinsipnya telah diambil sebagai realitas yang memihak. Tentu saja teks dimanfaatkan untuk memenangkan pertarungan idea, kepentingan atau ideologi tertentu kelas tertentu. Sedangkan sebagai seorang peneliti memulainya dengan membuat sampel yang sistematis dari isi media dalam berbagai kategori berdasarkan tujuan penelitian.
Interpretation (berpegang pada materi yang ada, dicari latarbelakang, konteks agar dapat dikemukakan konsep yang lebih jelas). Artinya: Kita konsentrasi pada satu pokok permasalahan supaya dalam menafsirkan sebuah teks tersebut kita bisa mendapat latar belakang dari masalah tersebut sehingga kemudian kita bisa menentukan sebuah konsep rumusan masalah untuk membedah masalah tersebut.Ekstrapolasi (menekankan pada daya pikir untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan). Artinya: kita harus memakai sebuah teori untuk bisa menganalisis masalah tersebut, karena degnan teori tersebut kita bisa dengan mudah menentukan isi dari teks yang ada.
Meaning (lebih jauh dari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya pikir dan akal budi). Artinya: Setelah kita mendapat sebuah teks yang telah ada dan kita juga telah mendapat sebuah gambaran tentang teori yang akan dipakai untuk membedah masalah, maka kita langkah selanjutnya adalah kita memadukann kedua hal tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut kita memakai sebuah teori untuk membedahnya.
Dalam analisis wacana, Norman Fairclough juga memberikan tingkatan, sebagai berikut:
1)      Analisis Mikrostruktur (Proses Produksi)              :Menganalisis teks dengan cermat dan fokus supaya dapat memperoleh data yang dapat menggambarkan representasi teks. Dan juga secara detail aspek yang dikejar dalam tingkat analisis ini adalah garis besar atau isi teks, lokasi, sikap dan tindakan tokoh tersebut dan seterusnya.
2)      Analisis Mesostruktur (Proses interpretasi)            :Terfokus pada dua aspek yaitu produksi teks dan konsumsi teks.
3)      Analisis Makrostruktur (Proses wacana)               :Terfokuspada fenomena dimana teks dibuat. Dengan demikian, menurut Norman Fairclough untuk memahami wacana (naskah/teks) kita tidak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. 
Posisi metodologis analisis wacana kritis Norman Fairclough. Sebagai sebauh hasil pemikiran yang bisa dikategorikan sebagai hasil pemikiran kontemporer di bidang komunikasi, analisis wacana kritis milik Norman Fairclough cukup gencar manyatakan bahwa teks/naskah di media selalu tidak lepas dari konteks sosial. Dengan mengetahui pertautan dan bahkan pertarungan kepentingan dibalik teks/naskah di media akan mematahkan sebuah anggapan yang menyatakan bahwa teks/naskah di media merupakan produk yang netral-obyektif. 
Dengan demikian, secara tegas analisis wacana kritis masuk dalam kategori teori yang menggunakan perspektif subyektif. Analisis wacana kritis juga masuk dalam kategori teori yang menggunakan pendekatan kualitatif-naturalistik. Hal tersebut tercermin dari usaha analisis wacana kritis untuk mengungkapkan kenyataan di balik teks/naskah di media dengan keterkaitannya dengan konteks produksi teks, konsumsi teks dan aspek sosial-budaya-politik yang mempengaruhi pembuatan teks. Berbeda dengan teori komunikasi lain semisal teori Shannon dan Weaver yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Mathematical Theory of Communication tahun 1949. Dalam teori Shannon dan Weaver tersebut, untuk menganalisa proses komunikasi, maka bisa diteliti menggunakan rumus matematika. Teori Shannon dan Weaver tersebut masuk dalam kategori Obyektif-Positvistik, sedangkan analisis wacana kritis masuk dalam teori yang menggunakan pendekatan Subyektif-Kualitatif dan tentu saja Naturalistik.
Selain masuk dalam teori yang menggunakan pendekatan kualitatif-naturalistik, analisis wacana kritis juga masuk dalam kategori non-linier. Berbeda dengan teori Laswell yang menjelaskan proses komunikasi sebagai proses yang linier antara siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa dan memiliki pengaruh apa. Analisis wacana kritis mencoba mengurai proses komunikasi melalui media massa dengan cara yang tidak linier seperti teori Laswell. Sebagai sebuah hasil pemikiran yang mencoba untuk memberikan pencerahan bagi khalayak, analisis wacana kritis mendahulukan ‘kecurigaan’ pada awal analisisnya. Teks media, media, para pekerja media dianggap sebagai sebuah entitas yang memiliki keterkaitan ideologis tertentu.



BAB III
PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Data
Dua media yang berbeda dalam “pelaksanaan pemilihan presiden”
Untuk mengetahui secara lebih dalam bagaimana pola operasional analisis wacana kritis, maka penulis mencoba untuk menganalisis teks media dari dua media yang berbeda tentang pelaksanaan pemilihan presiden pada tanggal 8 Juli 2014. Media yang akan dicoba diteliti oleh penulis adalah koran harian Jawa Pos dan Media Indonesia. Penulis memfokuskan analisis pada isi editorial (tajuk rencana) dua koran tersebut pada tanggal 8 Juli 2014. Pada editorial koran Jawa Pos tanggal 8 Juli 2009 tertulis Selamat Mencontreng , dalam editorial tersebut terdapat sejumlah kalimat berisi adanya persoalan menjelang pelaksanaan pemilihan presiden pada tanggal 8 Juli 2009. Salah satu persoalan tersebut adalah daftar pemilih tetap. Di editorial koran Jawa Pos tersebut tertulis kalimat: “Di tengah ribut soal daftar pemilih tetap (DPT), kita bangga bangsa ini akhirnya bisa menyelenggarakan pilpres kedua (setelah 2004) secara langsung sesuai jadwal.”
Meski dalam editorial tersebut tertulis adanya persoalan daftar pemilih tetap (DPT), namun si penulis dalam editorial mengungkapkan rasa bangganya karena pemilihan presiden akhirnya berjalan sesuai jadwal. Di akhir tulisan editorial, terdapat kalimat yang relatif mirip dengan sebuah iklan politik milik salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Kita butuh pemimpin yang bersih, cakap, tegas dan punya komitmen membawa kemakmuran bagi negeri ini. Pilihan itu kita serahkan kepada para pemilih dari Aceh hingga pegunungan Jaya Wijaya Papua, yang semoga hari ini bisa mencontreng secara aman, langsung, bebas dan rahasia di TPS masing-masing.” 
Kemiripan kalimat yang digarisbawahi dengan slogan salah satu kandidat capres-cawapres tersebut kalau dianalisis dengan analisis wacana kritis milik Norman Faicrclough bisa menimbulkan pernyataan, kenapa koran Jawa Pos pada tanggal 8 Juli 2009 tersebut memilih membuat editorial dengan judul, isi dan penutup seperti itu. Kemudian, penulis mencoba membandingkan editorial koran Jawa Pos dengan koran Media Indonesia. Di koran Media Indonesia editorialnya berjudul “Dua Putaran Lebih Seru”. Dari judulnya, Media Indonesia mencoba menghadirkan wacana bahwa pilpres dua putaran akan lebih seru dibanding dengan pilpres satu putaran. Pilpres satu putaran pernah dimunculkan oleh salah satu lembaga survei yang diduga menjadi ‘tim pemenangan’ salah satu pasangan capre-cawapres. Selain membuat judul yang cukup berbeda dengan koran Jawa Pos, isi di dalam editorial Media Indonesia tanggal 8 Juli 2009 juga tertulis cara pandang yang berbeda tentang persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Berikut petikan isi editorial Media Indonesia terkait persoalan DPT. “Contoh paling kentara penyakit demokrasi prosedural adalah daftar pemilih tetap yang masif dengan pemilih fiktif. Komisi Pemilihan Umum tahu dan terus diprotes karena memberlakukan DPT yang fiktif itu. Namun, KPU tidak mau memperbaiki karena takut melanggar undang-undang. Padahal ada ruang KPU untuk mengubah.” 
Dalam isi editorial tersebut cukup jelas tergambar bahwa ada persoalan DPT yang dinilai menjadi penyakit demokrasi prosedural. Bahkan, di situ tertulis bahwa KPU sebenarnya bisa memperbaiki DPT, namun dinilai tidak mau memperbaiki DPT. Paragraf berikutnya dari isi editorial Media Indonesia tertulis sebagai berikut: “Pemerintah pun tahu tentang DPT yang sarat dengan nama fiktif. Tetapi pemerintah cuci tangan dengan mengatakan soal DPT adalah wewenang KPU. Padahal presiden memiliki hak memberlakukan perppu untuk memperbaiki kesalahan yang sangat kasatmata. Bagaimana mungkin sebuah negara dan pemerintahan berjalan bila tidak ada lembaga yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap DPT?.” Pada kalimat yang bergaris bawah, tertera cukup jelas bahwa editorial Media Indonesia tersebut mengkritikp pemimpin pemerintahan nasional yang juga sedang ikut menjadi kontestan pilpres.



BAB IV
KESIMPULAN
Dari uraian di atas, terdapat perbedaan judul dan isi tulisan di dalam editorial dua surat kabar tersebut. Dari teks atau tulisan di dalam editorial kedua baik koran Jawa Pos maupun Media Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks produksi teks, konsumsi teks dan latar belakang sosial-budaya-politik lembaga produksi kedua koran harian tersebut. Lembaga produksi diantaranya meliputi, kepemilikan saham perusahaan, ideologi politik yang dianut oleh pemilik media. Hasil tulisan yang disajikan kedua koran harian tersebut juga tidak lepas dari segementasi pasar pembaca mana yang menjadi sasaran konsumen kedua koran harian ini.
Dengan membandingkan dan menganalisis isi teks dalam editorial koran Jawa Pos dan Media Indonesia dengan konteks yang ada, kita bisa sedikit paham wacana apa yang dominan dan menjadi anutan media tersebut. Di sinilah alur kerja analisis wacana kritis milik Norman Fairclough bisa menyuguhkan sebuah ‘realita’ di balik tulisan dalam editorial kedua koran harian tersebut.



DAFTAR PUSTAKA
Barker, chris. (2005) cultural studies; Teori dan praktik, yogyakarta, Bentang
Eriyanto. 2012. Analisis Wacana : Pengantar Analisa Teks Media. Yogyakarta: LkiS.

Fairclough, Norman. 1992(a). Discourse and Social Change. Polity Press Cambridge.

Analisis wacana teori VAN DJIK

ANALISIS WACANA (TEORI VAN DJIK DALAM KAJIAN TEKS PEMBERITAAN JULIA PEREZ “ANCAM DEMO TELANJANG” OLEH GALAMEDIA)

Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas
Mata kuliah Wacana

Logo STKIP.jpg

KELOMPOK 9
1.        Ana Faizatuz Zuhroh      (126766)
2.        Indah Sulistiyorini          (126)
3.        Mahmud Zein                  (126)
4.        Evi Nur Patmawati          (126)


PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2012-B
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
JOMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Wacana adalah proses pengembangan komunikasi yang menggunakan simbol-simbol dan peristiwa-peristiwa di dalam sistem kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana pesan-pesan komunikasi, seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain, ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, misalnya konteks peristiwa yang berkenaan dengannya, situasi masyarakat luas yang melatar belakangi keberadaannya, dan lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai, ideologi, emosi, dan kepentingan-kepentingan. Jadi, analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.
Pemahaman mendasar analisis wacana adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa. Bahasa tentu digunakan untuk menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dalam analisis wacana kritis selain pada teks juga pada konteks bahasa sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik ideologi. Analisis wacana kritis dalam lapangan psikologi sosial di-artikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud disini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana kritis adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap didalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana kritis. Analisis wacana (atau yang juga disebut analisis wacana kritis) adalah pendekatan yang relative baru dari sistematika pengetahuan yang timbul dari tradisi teori sosial dan analisis linguistik yang kritis.
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur/tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya kedalam 3 tingkatan. Petama, struktur makro. Ini merupaka makna global/umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka sutau teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun kedalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro. Adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase, dan gambar.
Topik yang saya ambil dalam analisis ini yaitu mengenai teks pemberitaan Julia Perez “Ancam Demo Telanjang” oleh Galamedia edisi kamis 24 Februari 2011 dengan memakai konsep analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Teun Van Djik. Alasan saya memilih konsep Van Dijk ini karena buah pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen dan unsur-unsur wacana. Selain itu, model analisis wacana kritis ini terkesan mendapat tempat tersendiri di kalangan analis wacana kritis.
Kajian ini menarik karena bersinggungan dengan berbagai aspek. Adapun aspek yang saya kaji dan analisa yaitu dari aspek obyektifitas dan ideologi yang terkandung dalam pemberitaan media cetak tersebut.
Analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini, adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis dengan mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat di ketahui.Untuk masyarakat, agar mengetahui bagaimana sebuah berita diproduksi sehingga diharapkan dapat lebih kritis dan selektif dalam memahami berita yang disajikan oleh sebuah media tidak selalu bersifat netral.
Menurut Littejohn, antar bagian teks dan model van Dijk dilihat saling mendukung, mengandung arti yang koheren satu sama lain. Hal ini karena semua teks dipandang van dijk memiliki suatu aturan yang dapat dilihat sebagai suatu piramida. Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat dan proposisi yang dipakai. Pertanyaan/tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat atau retorika tertentu. Proses ini membantu peneliti untuk mengamati bagaimana suatu teks terbangun oleh elemen-elemen yang lebih kecil. Skema ini juga memberikan peta untuk mempelajari suatu teks. Kita tidak hanya mengerti apa isi dari suatu teks berita, tetapi juga elemen yang membentuk teks berita, kata, kalimat, paragraf, dan proposisi. Kita tidak hanya mengetahui apa yang diliput oleh media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa kedalam pilihan bahasa tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu.
Pemakaian kata, kalimat, proposisi, retorika tertentu oleh media dipahami van Dijk sebagai bagian dari strategi wartawan. Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi, tetapi dipandang sebagai politik berkomunikasi, suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau penentang. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan. Kata-kata tertentu mungkin dipilih untuk mempertegas pilihan dan sikap, membentuk kesadaran politik, dan sebagainya.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimanakah analisis wacana pada teks pemberitaan Julia Perez “Ancam Demo Telanjang” oleh Galamedia edisi kamis 24 Februari 2011 melalui teori Van Djik?

C.    Tujuan Masalah

1.    Untuk mengetahui analisis wacana pada teks pemberitaan Julia Perez “Ancam Demo Telanjang” oleh Galamedia edisi kamis 24 Februari 2011 melalui teori Van Djik







BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Definisi Wacana dan Analisis Wacana
Wacana merupakan satuan bahasa berdasarkan kata yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu merupakan deretan kata atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antara penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana dapat dlihat sebagai hasil dari pengungkapan idea/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Bagaimana Terbentuknya Wacana. Penggunaan bahasa berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kata atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kata atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent). Wacana dikatakan utuh apabila kata-kata dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kata-katanya disusun secara teratur dan sistematik sehingga menunjukkan kebenaran ide yang diungkapkan. Analisis wacana di dalam ilmu komunikasi bersumber dari pemikiran Marxis Kritis. (Stephen W. Littlejohn, 2002; Stanley J. Baran and Denis K. Davis, 2000). Ada tiga aliran pemikiran yang termasuk ke dalam kategori ini, iaitu: (1). Aliran Frankfurt (Frankfurt School); (2). Pengajian Budaya (Cultural Studies); (3). Pengajian Wanita (Feminist Study). (Stephen W. Littlejohn, 2002).
Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi yang besardari berbagai definisi, titik singgungnya adalah analisis wacanaa berhubungan dengan studi mengenai bahasa/pemakaian bahasa. Bagaimana bahasa dipandang dalam analisis wacana? Disini ada beberapa perbedaan pandangan. Mohammad A. S. Hikam dalam suatu tulisannya telah membahas dengan baik perbedaan paradigma analisis wacanaa dalam melihat bahasa ini yang akan diringkas sebagai berikut.Paling tidak ada tiga pandangan mengeneai bahasa dalam analisis wacanaa. Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivme-empiris. Oleh kaum ini , bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek diluar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala atau distorsi, sejauh ia dinyatakan dengan memakaipenyataan-pernyataan yang logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris.
Salah satu cirri daripemikiran ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas. Dalam kaitannya dengan analisis wacanaa, konsekuensi logis dari pemahaman ini orangtidak perlu mengetahui makna-makna subjektif ataunilaiyangmendasari pernyataannya, sebab yang penting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut kaidah sintaksis dan semantik. Oleh karena itu tata bahasa, kebenaran sintaksis adalah bidang utama dari aliranpositivme-empiris tentang wacanaa. Analisis wacanaa dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacanaa lantas diukur dengan pertimbangan kebenaran/ketidakbenaran (menurut sintaksis dan semantik). Pandangan kedua, disebut sebagai konstruktivisme.
Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran fenomenologi. Aliran ini menolak pandangan empirisme/positivisme yang memisahkan subjek dan objek bahasa. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacanaa serta hubungan-hubungan sosialnya. Dalam hal ini, seperti dikatakan A.S. Hikam, subjek memiliki kemampuan-kemampuan melakukan control terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacanaa. Bahasa dipahami dalam paradigm ini diatur dan dihidupkan oleh pernyatan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri dari sang pembicara. Oleh karena itu, analisis wacanaa dimaksudkan sebagai suatu analisis untuk membonhgkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacanaa adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subjek yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan itu dilakukan diantaranya dengan memnempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara.
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Pandangan ini ingin mengoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitive pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Seperti ditulis A.S. Hikam, pandangan konstruktivisme masih belummenganalisis faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacanaa, yang pada gilirannya berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek tertentu berikut perilaku-perilakunya. Hal inilah yang melahirkan paradigm kritis. Analisis wacanaa tidak dipusatkan pada kebenaran/ketidakbenaran struktur tata bahasa atau proses penafsiran seperti pada analisis konstruktivisme. Analisis wacanaa dalam paradigm ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya, karena sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat. bahasa disini tidak difahami sebagai medium netral yang terletak diluar diri si pembicara.
Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi didalamnya. Oleh karena itu, analisis wacanaa dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa: batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacanaa, perspektif yang merti dipakai, topic apa yang dibicarakan. Dengan pandangan semacam ini, wacanaa melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat. karena memakai perpektif kritis, analisis wacanaa kategori ketiga itu juga disebut sebagai analisis wacanaa kritis (Critical Discourse Analysis/CDA). Ini untuk membedakan dengan analisis wacanaa dalam kategori yang pertama atau kedua (Discourse Analysis). Analisis wacana muncul sebagai suatu reaksi terhadap linguistik murni yang tidak bisa mengungkap hakikat bahasa secara sempurna. Dalam hal ini para pakar analisis wacana mencoba untuk memberikan alternative dalam memahami hakikat bahasa tersebut. Analisis wacana mengkaji bahasa secara terpadu, dalam arti tidak terpisah-pisah seperti dalam linguistik, semua unsure bahasa terikat pada konteks pemakaian. Oleh karena itu, analisis wacana sangat penting untuk memahamihakikat bahsa dan perilaku berbahasa termasuk belajar bahasa.
Analisis wacana adalah suatu disiplin ilmu yang berusaha mengkaji penggunaan bahasa yang nyata dalam komunikasi. Stubbs (1983:1) mengatakan bahwa analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti dan menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik lisan maupun tulis, misalnya pemakaian bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Selanjutnya stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankankajiannya pada penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam penggunaan bahasa antar penutur. Jadi jelasnya analisis wacan bertujuan untuk mencari keteraturan bukan kaidah. Yang dimaksud dengan keteraturan, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan keberterimaan penggunaan bahasa di masyarakatsecara realita dan cenderung tidak merumuskan kaidah bahasa seperti dalam tata bahasa. Kartomiharjo (1999:21) mengungkap bahwa analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Analisis wacana lazim digunakan untuk menemukan makna wacana yang persis sama atau paling tidak sangat ketat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis.
B.     Teori Kognisi Sosial Teun A. Van Djik
Dari begitu banyak model analisis wacana yang diintoduksikan dan dikembangkan oleh beberapa ahli, model van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Hal ini mungkin disebabkan karena van Dijk menformulasikan elemen-elemen wacana, sehingga bisa dipakai secara praktis. Model yang dipakai oleh van Dijk ini sering disebut sebagai “kognisi sosial” (Eriyanto 2001:221). Menurut van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati. Di sini harus dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi. Proses produksi itu melibatkan suatu proses yang disebut sebagai kognisi sosial. Teks dibentuk dalam suatu praktik diskursus, suatu praktik wacana. Di sini ada dua bagian, yaitu teks yang mikro yang merepresentasikan suatu topik permasalahan dalam berita, dan elemen besar berupa struktur sosial. van Dijk membuat suatu jembatan yang menghubungkan elemen besar berupa struktur sosial tersebut dengan elemen wacana yang mikro dengan sebuah dimensi yang dinamakan kognisi sosial. Kognisi sosial tersebut mempunyai dua arti. Di satu sisi ia menunjukkan bagaimana proses teks tersebut diproduksi oleh wartawan/ media, di sisi lain ia menggambarkan nilai-nilai masyarakat itu menyebar dan diserap oleh kognisi wartawan dan akhirnya digunakan untuk membuat teks berita (Eriyanto 2001:222).
Dalam buku Eriyanto, Van Dijk melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi/ pikiran dan kesadaran membentuk dan berpengaruh terhadap teks tertentu. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi/ bangunan : teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Dalam dimensi teks yang pertama, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan aspek ketiga mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Ketiga dimensi ini merupakan bagian yang integral dan dilakukan secara bersama-sama dalam analisis Van Dijk (Eriyanto 2001:225).
Ø  Teks
Van Dijk membagi struktur teks ke dalam tiga tingkatan. Pertama, struktur makro. Ini merupakan makna global/ umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka atau skema suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga,struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, parafrase dan lain-lain.
Meskipun terdiri atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan satu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya. Makna global dari suatu teks (tema) didukung oleh kerangka teks dan baru kemudian pilihan kata dan kalimat yang dipakai. Kita bisa membuat pemberitaan tentang demonstrasi mahasiswa terhadap isu kenaikan BBM. Misalnya, Koran A mengatakan bahwa aksi ini terjadi karena kekecewaan mahasiswa dan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM semata tanpa ada motif atau tuntutan yang lain.
Tema ini akan didukung dengan skematik tertentu. Misalnya dengan menyusun cerita yang mendukung gagasan tersebut. Media tersebut juga akan menutupi fakta tertentu dan hanya akan menjelaskan peristiwa itu semata pada masalah BBM. Pada tingkat yang lebih rendah, akan dijumpai pemakaian kata-kata yang menunjuk dan memperkuat pesan bahwa demonstrasi tersebut semata kasus kenaikan harga. Semua teks dipandang van Dijk mempunyai suatu aturan yang dapat dilihat sebagai sebuah piramida. Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat, dan proposisi yang dipakai. Pernyataan atau tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat, atau retorika tertentu. Pemakaian kata, kalimat, proposisi, retorika tertentu oleh media dipahami van Dijk sebagai bagian dari strategi wartawan.
Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata dipandang sebagai cara berkomunikasi melainkan sebagai politik berkomunikasi, suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau penentang. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan. Berikut ini akan dijelaskan satu per satu elemen dalam teks. Kalau digambarkan maka struktur teks adalah sebagai berikut:
Struktur Makro
Makna global dari suatu teks yang dapat diamati
Dari topic/tema yang diangkat oleh suatu teks
Superstruktur
Kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan,
Isi, penutup, dan kesimpulan
Struktur Mikro
Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati
Dari pilihan kata, kalimat dan gaya
yang dipakai oleh suatu teks


1.                   Struktrur makro (thematic structure)

Struktur makro merupakan makna global sebuh teks yang dapat dipahami melalui topiknya. Topik direpresentasikan ke dalam suatu atau beberapa kalimat yang merupakan gagasan utama/ide pokok wacana. Topik juga dikatakan sebagai “semantic macrostructure” (van Dijk, 1985:69). Makrostruktur ini dikatakan sebagai semantik karena ketika kita berbicara tentang topik atau tema dalam sebuah teks, kita akan berhadapan dengan makna dan refrensi.
                                
2.                   Superstruktur (superstructure)

 Superstruktur merupakan struktur yang digunakan untuk mendeskripsikan sehemata, di mana keseluruhan topik atau isi global berita diselipkan. Superstruktur ini mengorganisikan topik dengan cara menyusun kalimat atau unit-unit beritanya berdasarkan urutan atau hiraki yang diinginkan. Teks atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga membentuk kesatuan arti. Meskipun mempunyai bentuk dan skema yang beragam, berita umumnya mempunyai dua kategori skema besar. Pertama, summary yang biasanya ditandai dengan dua elemen yakni judul dan lead. Elemen skema ini merupakan elemen yang dipandang paling penting. Judul umumnya menunjukkan tema yang ingin ditampilkan oleh wartawan dalam pemberitaannya. Lead umumnya sebagai pengantar ringkasan apa yang ingin dikatakan sebelum masuk dalam isi berita secara lengkap. Kedua, story yakni isi berita secara keseluruhan. Isi berita ini juga mempunyai dua subkategori. Yang pertama berupa situasi yakni proses atau jalannya peristiwa, sedang yang kedua komentar yang ditampilkan dalam teks.
Subkategori situasi yang menggambarkan kisah suatu peristiwa umumnya terdiri atas dua bagian. Yang pertama mengenai episode atau kisah utama dari peristiwa tersebut, dan yang kedua latar untuk mendukung episode yang disajikan kepada khalayak. Misalnya berita tentang konser Dewi Persik yang batal diselenggarakan karena mendapat protes dan kecaman keras dari masyarakat. Episode ini umumnya juga akan didukung oleh latar, misalnya, dengan mengatakan ini pembatalan konser Dewi Persik yang kesekian kali. Dengan demikian, latar umumnya dipakai untuk memberi konteks agar suatu peristiwa lebih jelas ketika disampaikan kepada khalayak.
Sedangkan subkategori komentar yang menggambarkan bagaimana pihak-pihak yang terlibat memberikan komentar atas suatu peristiwa terdiri atas dua bagian. Pertama, reaksi atau komentar verbal dari tokoh yang dikutip wartawan. Kedua, kesimpulan yang diambil oleh wartawan dari komentar beberapa tokoh. Menurut van Dijk, arti penting dari skematik adalah strategi wartawan untuk mendukung topik tertentu yang ingin disampaikan dengan menyusun bagian-bagian dengan urutan-urutan tertentu. Skematik memberikan tekanan mana yang didahulukan, dan bagian mana yang disembunyikan. Upaya penyembunyian itu dilakukan dengan menempatkan di bagian akhir agar terkesan kurang menonjol.

3.    Struktur Mikro
Struktur mikro adalah struktur wacana itu sendiri yang terdiri atas beberapa elemen, yaitu:

1)   Elemen sintaksis
Elemen sintaksis merupakan salah satu elemen penting yang dimaanfaatkan untuk mengimplikasikan ideologi. Dengan kata lain, melalui struktur sintaksis tertentu, pembaca dapat menangkap maksud yang ada dibalik kalimat-kalimat dalam berita. Melalui struktur sintaksis, wartawan dapat menggambarkan aktor atau peristiwa tertentu secara negafit maupun posifit.
a.       Koherensi
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarakata, atau kalimat dalam teks, Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Proposisi “demontrasi mahasiswa” dan “nilai tukar rupian melemah” adalah dua buah fakfa yang bernilai. Dua buah proposisi itu menjadi berhubung sebab-akibat ketika ia dihubungkan dengan kata hubung “mengakibatkan” sehingga kalimatnya menjadi “Demontrasi” mahasiswa mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah. Dua buah kalimat itu menjadi tidak berhubungan ketika dipakai kata hubung “dan”. Kalimatnya kemudian menjadi “Demonstrasi mahasiswa dan nilai tukar rupiah melemah”. Dalam kalimat ini, antara fakta banyaknya demonstrasi dan nilia tukar rupiah dipandang tidak saling berhubungan, kalimat satu tidak menjelaskan kalimat lain atau menjadi penyebab kalimat lain.
b.      Koherensi Kondisional
Koherensi Kondisianal diantaranya ditandai dengan pemakian anak kalimat sebagai penjelas. Di sini ada dua kalimat,di mana kalimat kedua adalah penjelas atau keterangan dari proposisi pertama, yang dihubungkan dengan kata hubung konjungsi, seperti “yang” atau “dimana”. Kalimat kedua fungsinya hanya sebagai penjelas (anak kalimat), sehingga ada atau tidak anak kalimat itu,tidak akan mengurangi arti kalimat. Anak kalimat itu menjadi cermin kepentingam komunikator karena ia dapat memberi keterangan yang baik/buruk terhadap suatu pertanyaan. Seperti dalam sebuah kalimat “PSSI, yang selalu kalah dalam pertandingan internasional. Tidak jadi dikirim ke Asian Games”. Arti kalimat tersebut tidak akan berubah jika seandainya diubah menjadi “PSSI tidak jadi dikirim ke Asean Games”. Anak kalimat “yang selalu kalah dalam pertandingan” selain menjadi penjelas juga bermakna ejekan terhadap PSSI.
c.       Koherensi pembeda
Jika koherensi kondisional berhubungan dengan pertanyaan bagaimana dua peristiwa dihubungkan/dijelaskan. Koherensi pembeda berhubungan dengan pertanyaan, bagaimana dua buah peristiwa atau fakta itu hendak dibedakan. Seperti mengenai kebebasan pers di ers Gus Dur, pada era Gus Dur kebebasan pers dijamin, namun terjadi peristiwa penduduk banser terhadap harian jawa post hingga menyebabkan koran tersebut tidak bisa terbit. Dua buah peristiwa itu terpisah, tidak berhubungan, juga tidk menyulut peristiwa lain. Akan tetapi, kedua masalah tersebut bisa dibuat berhubungan dengan cara membuat satu peristiwa sebagai kebalikan/kontras dari peristiwa lain. Dalam contoh kasus tersebut, bisa saja dikatakan alangkah berbedanya masa pemerintahan Habibie dan Gus Dur, atau pemerintah Habibie lebih baik dari pada pemerintah Gus Dur.
d.      Pengingkaran
Elemen wacana pengingkaran adalah bentuk praktik wacana yang menggambarkan bagai mana wartawan menyembunyikan apa yang anggin diekpresikan secara amplisit. Penginakaran ini menunjukkan seolah wartawan menyetujui sesuatu, pahal ia tidak setuju dengan memberikan argumentasi atau fakta yang menyangkal persetujuannya tersebut.
e.   Bentuk kalimat
Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Di mana ia menyatakan apakah A yang menjelaskan B, atau B yang menjelaskan A. Logika kausalitas ini jika diperjemahkan ke dalam bahasa menjadi susunan objek (diterangkan) dan predikat (menerangkan). Bentuk lain adalah dengan pemakian urutan kata-kata yang mempunyai dua fungsi sekaligus. Pertam, menekankan atau menghilangkan dengan penempatan dan pemakian kata atau frase yang mencolok dengan menggunakan pemakian semantik. Yang juga penting dalam sintaksis selain bentuk kalimat adalah posisi proposisi dalam kalimat. Bagaiman proposisi-proposisi diatur dalam satu rangkaian kalimat. Termasuk ke dalam bagian bentuk kalimat ini adalah apakah berita itu memakai bentuk deduktif atau indukfit. Dedukfit adalah bentuk penulisan kalimat dimana inti kalimat (umum) ditempatkan di bagian mukak, kemudian disusul dengan keterangan tambahan (khusus). Sebaliknya, bentuk induktif adalah bentuk penulisan di mana inti kilimat ditempatkan di akhir setelah keterangan tambahan.
f.     Kata Ganti
Elemen kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imanjinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menujukkan di mana posisi seseorang dalam wacana. Dalam mengungkapkan sikapnya, seseoarang dapat menggunakan “kami” atau “saya” yang menggambarkan bahwa sikap tersebut merupakan sikap resmi komunikator. Namun, ketika menggunakan kata ganti “kita”, sikap tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dalam suatu komunitas tersebut. pemakian kata ganti yang jamak seperti “kita” (atau“kami”)http://sastrawanmania.blogspot.com/2012/01/analisis-wacana-vandijk.html mempunyai implikasi menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian, yang pada dasarnya merupakan upaya merangkul dan menghilangkan oposisi yang ada. Pemakian kata ganti “kita” menciptakan komunitas antara wartawan dan para pembaca.

2)   Elemen Semantik (makna lokal)
Elemen semantik ini sangat erat hubunganya dengan elemen leksikon dan sintaksis sebab penggunaan leksikon dan struktur sintaksis tertentu dalam berita dapat memunculkan makna tertentu. Berikut ini adalah unsur-unsur wacana yang tergolong ke dalam elemen semantik.
1.      Latar
Latar merupakan bagian berita yang dapat mengpengaruhi semantik (arti) yang inggin ditampilkan. Latar dapat menjadi alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam suatu teks (Eriyanto, 2006.235). oleh karena itu, latar teks merupakan elemen yang berguna karena dapat membongkar apa maksud yang inggin disampaikan oleh wartawan. Latar peristiwa itu dipakai untuk menyediakan dasar hendak ke mana teks dibawah.
2.      Detil
Elemen wacana detil berhunungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang (Eriyanto, 2006: 238). Detil yang lengkap dan panjang merupakan penonjolan yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak. Detil yang lengkap itu akan dihilangkan kalau berhubungan dengan sesuatu yang menyangkut kelemahan atau kegagalan komunikator.

3.      Maksud
Elemen wacana maksud hampir sama dengan detil, hanya saja elemen maksud meliat informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraikan secara tersamar, implisit, dan tersembunyi.
4.      Pranggapan
Elemen wacana pranggapan merupakan pertanyaan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Pranggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya. Pranggapan hadir dengan pernyataan yang dipandang terpercaya sehingga tidk perlu dipertanyakan. Seperti dalam suatu domonstrasi mahasiswa. Seseorang yang setuju dengan gerakan mahasiswa akan memakai praanggapan berupa pernyataan “perjuangan mahasiswa menyuarakan hati nurani rakyat”. Pernyataan ini  merupakan suatu premis dasar yang akan menentukan proposisi dukunganya terhadap gerakan mahasiswa pada kalimat berikutnya.

3)    Elemen leksikon
Elemen leksikom menyangkut pemilihan diksi. Pemilihan diksi telah diketahui dapat mengeskspresikan idiologi maupun persuai, sebagaimana yang terjadi pada “terrorist” dan “freedomfighter”. Bagaimana aktor yang sama digambarkan dengan dua diksi yang berbeda berimplikasi pada pemahaman pembaca tenteng aktor tersebut.


4)   Elemen Retorik
Elemen ritorik menyangkut penggunaan repetisi, alitersi, metafora yang dapat berfungsi sebagai “idiologi control” manakalah sebuah informasi yang kurang baik tentang aktor tertentu dibuat kurang mencolok sementara informasi tentang aktor lain ditekankan. Dengan kata lain, retorik ini digunakan untuk memberi penekanan posifif atau negatif terhadap aktor atau peristiwa dalam berita.
a.       Grafis
Elemem ini merupakan bagian untuk memberikan apa yang ditekankan atau ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. Dalam berita elemen grafis ini biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat berbeda dibandingkan tulisan lain, seperti pemakian huruf tebal, huruf miring, garis bawah, huruf dengan ukuran lebih besar,termasuk pemakian caption, raster, grafik, gambar, foto dan tabel untuk mendukung pesan. Pemakian angka-angka dalam berita diantaranyadigunakan untuk menyugestikan kebenaran, ketelitian, dan posisi dara suatu laporan. Pemakian jumlah, ukuran statistik menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2006:258) bukan semata bagian dari standar jurnalistik, melainkan juga menyugestikan presisi dari apa yang hendak dikatakan dalam teks.
b.      Metafora
Dalam suatu wacana, seorang wartawan tidak hanya menyampaikan pesan pokok lewat teks, tetapi juga kiasan,ungkapan, metafora yang dimaksudkan sebagian ornamen atau bumbuu dari suatu berita. Akan tetapi, pemakian metafora tertentu bisa jadi pakian oleh wartawan secara strategi sebagai landasan berfikir, alasan pembenar atas pendapat tertentu kepada publik. Penggunaan ungkapan sehari-hari, peribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata kuno, bahkan ungkapan ayat suci dipakai untuk memperkuat pesan utama.














BAB III
PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Data
Julia Perez “Ancam Demo Telanjang”

Julia perez kembali membuat ulah. Belum lagi usai kasus perseteruannya dengan Dewi Perssik, kekasih Gaston tersebut kembali mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan publik.
Hal itu diakibatkan karena dirinya merasa kesal karena hingga saat ini pemerintah belum mengumumkan merek susu yang tercemar akibat bakteri.
Belakangan ini memang heboh kabar seputar susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacteri Sakazakii. Enterobacteri Sakazakii merupakan salah satu pathogen gram negative yang sangat mematikan pada bayi baru lahir, usia 0-6 bulan.
Lewat akun Twitter pribadinya, pelantun Belah Duren itu menuangkan kekesalannya terhadap pemerintah yang sangat lambat menangani kasus susu berbakteri. “Gue demo telanjang kalo pemerintah enggak  umumkan nama-nama susu yang tercemar”, tulis Jupe pada selasa (22/2).
Aksi protes Jupe melalui akun Twitter itu sebagai bukti bahwa ia sangat peduli dengan nasib bayi-bayi yang ada di Indonesia. Jika pemerintah lambat menangani masalah ini bagaimana dengan nasib generasi penerus bangsa ini? “Aneh, masalah susu aja enggak kelar? Trus susu mana si yg ada bakteri?? Help bayi2 indonesia dong? Egois! Semoga…”, tulis Jupe lagi.
Tentunya niat Jupe untuk demo telanjang bukan suatu hal yang serius. Kata-kata yang menjurus ke arah vulgar memang kerap dilontarkan Jupe. Namun, ucapan Jupe hanya di mulut, tak ada maksud lain, hanya mengungkapkan kekesalan.
Sebelumnya ketika ditanya soal mangkirnya dewi Persik dari panggilan polisi untuk melakukan Berita Acara Perkara (BAP) terkait statusnya sebagai tersangka melalui handphone-nya, selaku pihak pelapor Jupe tak terlalu dipedulikannya. Meski mangkirnya Depe makin memperlambat proses hukum, Jupe tetap akan mengikuti proses hukum yang berlaku.“Sebenarnya ini bukan kapasitas aku untuk menanggapi kehadiran dia. Tapi, kalau terjadi sama saya , saya pasti hadir. Kalau aku, saat dipanggil pertama dan kedua aku datang karena sebagai warga negara yang baik aku harus mengikuti proses hukum yang berlaku”, katanya.
Dia mengaku enggan mengomentari alasan ketidakhadiran Dewi. “Aku enggak tahu sama sekali,ditanyakan langsung aja, aku enggak ikutan, nanti kena lagi”, katanya. (tot/”GM”/ net)**

B.     Analisis Data

Kajian analisa
1.      Struktur Makro (Tema)
Temanya adalah kekesalan Jupe terhadap pemerintah yang lambat dalam menangani kasus susu berbakteri.
2.      Superstruktur (Tematik/ kerangka susunan)

a. Pendahuluan
Awal berita menampilkan seorang artis kontroversial Julia Perez dengan kutipan kalimat “Gue demo telanjang kalo pemerintah enggak umumkan nama-nama susu yang tercemar”,
b. Isi
-          Penekanan kekesalan Jupe terhadap pemerintah.
-          Cara Jupe mengekspresikan kekesalannya
-          Kecaman Jupe terhadap pemerintah
-          Kepedulian Jupe terhadap nasib bayi-bayi Indonesia
-          Pertimbangan aspirasi penulis
c. Penutup
Dalam wacana ini diakhiri dengan pemberitaan mengenai mangkirnya Dewi Perssik dari panggilan polisi, dan bagaimana tanggapan Jupe mengenai kabar tersebut.
3.      Struktur Mikro
Struktur mikro yang menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika.
a.               Struktur Mikro Semantik (tanda atau makna eksplisit/implisit)
·         Detail
Adanya penonjolan informasi berita mengenai profil Jupe yang konroversial. Mulai dari kasusnya dengan Dewi persik hingga ancamannya terhadap pemerintah yang dia tulis dalam sebuah jejaring sosial.
·         Kata Ganti
“Hal itu diakibatkan karena dirinya merasa kesal”(Jupe)
“Lewat akun Twitter pribadinya, pelantun Belah Duren itu”(Jupe)
.“Sebenarnya ini bukan kapasitas aku untuk menanggapi kehadiran dia” (Dewi Persik)
b.              Struktur Mikro Sintaksis (bagaimana pendapat di sampaikan)
Pendapat tema disampaikan dengan menggunakan kalimat tidak langsung berupa ancaman  pada baris kalimat keempat (“Gue demo telanjang kalo pemerintah enggak umumkan nama-nama susu yang tercemar”, tulis Jupe pada selasa ) dan kalimat tidak langsung berupa kecaman pada baris kalimat kelima (Jika pemerintah lambat menangani masalah ini bagaimana dengan nasib generasi penerus bangsa ini? “Aneh, masalah susu aja enggak kelar? Trus susu mana si yg ada bakteri?? Help bayi2 indonesia dong? Egois! Semoga…”, tulis Jupe lagi) yang dilontarkan oleh Jupe.

c.  Struktur Mikro Stilistik (pilihan kata yang dipakai)
-          Kata-kata yang tidak baku atau kata-kata gaul yang sering digunakan oleh Jupe.Seperti  gue, enggak, aja, dan kalo.
-          Kata-kata ilmu kedokteran, seperti Enterobacteri Sakazakii dan Patogen gram negatif.
-          Kata-kata Hukum, seperti Berita Acara Perkara (BAP)
-          Kata-kata Vulgar, seperti Telanjang.
d.      Struktur Mikro Retorika
Aspek retorika suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan.
Dalam pemberitaan di atas ada bebera siasat dan cara yang digunakan, diantaranya:
-          Penggunaan gaya bahasa. Seperti majas (sindiran) dan gaya bahasa yang bermakna denotatif (“Aku enggak tahu sama sekali,ditanyakan langsung aja, aku enggak ikutan, nanti kena lagi”, katanya)
-          Menonjolkan kepribadian Jupe yang Kontroversial
-          Menonjolkan kekesalan Jupe terhadap pemerintah
    -    Menonjolkan opini penulis mengenai ketidakseriusan ancaman Jupe


BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan       
Analisis wacana ini di lakukan sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.
Analisis dengan menggunakan teori Van Djik ini membantu untuk mengamati bagaimana suatu teks terbangun oleh elemen-elemen yang lebih kecil. Skema ini juga memberikan peta untuk mempelajari suatu teks. Kita tidak hanya mengerti apa isi dari suatu teks berita, tetapi juga elemen yang membentuk teks berita, kata, kalimat, paragraf, dan proposisi. Kita tidak hanya mengetahui apa yang diliput oleh media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa kedalam pilihan bahasa tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu.
Berdasarkan analisis data mengenai teks pemberitaan Julia Perez “Ancam Demo Telanjang” oleh Galamedia edisi kamis 24 Februari 2011 dapat di simpulkan bahwa terdapat tiga elemen sesuai dengan kajian dari Van Djik yaitu struktur makro, superstruktur, dan mikro.

B.     Saran
Dengan penulisan makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami tentang konsep dari analisis struktur teks van Dijk.  Selain itu diharapkan pula dalam membuat sebuah makalah jangan hanya mengandalkan satu referensi buku saja karena masih banyak buku-buku lainnya yang menjelaskan tentang konsep analisis struktur teks van Dijk.



DAFTAR PUSTAKA

Eryanto. 2006. Analisis Wacana. Yogyakarta: Ikis Pelangi Aksara Jogjakarta
Mulyana.2005.  Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana