MAKALAH
JENIS - JENIS WACANA
Makalah ini di susun
untuk memenuhi mata kuliah wacana
Dosen pembimbing: Diana
Mayasari,
S.Pd
Oleh
Kelompok 8 :
Lina Martianingsih (126746)
Siti Nur Halimah (126770)
Evi Nur Patmawati (126769)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA 2012-B
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN
DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK
INDONESIA
JOMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam praktek berbahasa
ternyata kalimat bukanlah satuan sintaksis terbesar seperti banyak diduga atau diperhitungkan
orang selama ini. Kalimat atau kalimat-kalimat ternyata hanyalah unsur
pembentuk satuan bahasa yang lebih besar yang disebut wacana(
inggris:discourse) bukti bahwa kalimat
bukan satuan terbesar dalam sintaksis, banyak kita jumpai kalimat yang jika
kita pisahkan dari kalimat-kalimat yang ada disekitarnya, maka kalimat itu
menjadi satuan yang tidak mandiri. Kalimat-kalimat itu tidak mempunyai makna
dalam kesendiriannya. Mereka baru mempunyai makna bila berada dalam konteks
dengan kalimat-kalimat yang berada disekitarnya.
wacana adalah satuan bahasa yang
lengkap. Sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal
tertinggi atau terbesar.
Sebagai satuan bahasa
yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti terdiri dari pembagian jenis-jenis yang
bisa dipahami oleh pembaca( dalam wacana tulis) atau pendengar( dalam wacana
lisan), tanpa keraguan apapun. Untuk itu kami akan membahas tentang jenis-jenis
wacana agar kita lebih tau dalam pembagian jenis-jenis wacana tersebut,
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa saja jenis-jenis
wacana itu?
2.
Apa ciri –ciri
jenis wacana berdasarkan tujuannya?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahuhui jenis-jenis wacana.
2. Untuk
mengetahui ciri-ciri jenis wacana berdasarkan tujuannya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Wacana.
Wacana
adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga
dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau
berarti terdapat konsep,gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang biasa
dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan).
Sebagai satuan gramatikal yang tertinggi atau terbesar, wacana itu dibentuk
dari kalimat atau kalimat-kalimat yangmemenuhi persyaratan gramatikal, dan
persyaratan kewacanaan lainnya (Chaer, 2007:267). Sebuah tulisan adalah sebuah
wacana, akan tetapi apa yang dinamakan wacana itu tidak hanya sesuatu yang
tertulis seperti diterangkan dalam kamus Websters (dalamSobur, 2006: 10) sebuah
pidato pun adalah wacana juga. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan (1993:
23) yang mengatakan bahwa istilah wacana dipergunakan untuk mencangkup bukan
hanya percakapan atau obrolan, tetapi juga pembicaraandimuka umum, tulisan,
serta upaya-upaya formal seperti laporan ilmiah dansandiwara.
Berdasarkan
beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa wacana adalah satuan
bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh,
paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap yang dapat
dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan).
B. Jenis
–Jenis Wacana
ü Menurut
Keraf (1995: 7-17) berdasarkan tujuannya, wacana dapat dibedakanmenjadi lima
yaitu: (a) wacana deskripsi, (b) wacana narasi, (c) wacana persuasi, (d)wacana
argumentasi, dan (e) wacana eksposisi.
Terdapat pada Yulianik dalam
http://journal.ui.ac.id/upload/artikel(/03Toleransi%20dalam%20jeniswacana_ Yulianik%20dkk.
Pdf)
a. Wacana
deskripsi.
Wacana deskripsi adalah
wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa,
sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan
para pembaca melihat sendiri objek itu. Deskripsi memberi suatu citra mental
mengenai sesuatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang atau sensasi.
Ciri-ciri karangan deskripsi yaitu:
1. Berhubungandengan panca indra.
2. Penggunaan objek didapat dengan
pengamatan bentuk, warna serta keadaan objek secara langsung.
3. Unsur perasaan lebih tajam daripada
pikiran.
Dilihat dari
sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitusebagai berikut.
a. Deskripsi Imajinatif/Impresionis ialah deskripsi yang menggambarkanobjek
benda sesuai kesan/imajinasi si penulis.
Contoh deskripsi Impresionistis dalam sebuah
cerita:
Jam dinding kamar menunjukkan pukul sepuluh lewatsembilan belas menit. Di
luar hujan masih saja turun denganderasnya.Angin yang menerobos masuk melalui
kisi-kisi terasadingin menusuk kulit.Piama yang melekat di tubuhku tidakbanyak
membantu menahan dingin sehingga agar lebih hangatkupakai lagi jaket tebal. Agak
menolong, memang.Akan tetapi, kantuk hebat datang. Padahal besok aku
harusbangun lebih pagi. Akhirnya, daripada melamun tidak menentu,kuputuskan
akan melanjutkan membaca. Aku kembali ke mejabelajar, kunyalakan kembali lampu
belajar dan mulai membacasambil duduk bersandar di kursi.Tiba-tiba kantuk hebat
datang menyerang. Belum lagi selesaikalimat yang sedang kubaca, buku yang
kupegang terlepas daritangan.
Aku tidak lagi berada di kamarku, tetapi di suatu ruanganbersama-sama
dengan sekelompok orang yang sama sekali belumpernah kulihat sebelumnya. Bau
asap tembakau memenuhiruangan itu, tapi tak seorang pun yang kelihatan
peduli.Kami semua duduk di kursi yang diatur membentuk sebuahlingkaran, mirip
dengan ruangan diskusi. Semua tampak duduktenang, semua kelihatan sedang
menulis, dan tidak seorang punyang kelihatan peduli pada orang lain di ruangan
itu.
Tidak ada yang ganjil terlihat.Malah terasa suasana persisseperti di ruang
kuliah. Di sebelah kananku ada sebuah pintu,di dekatnya beberapa jendela kaca.
Ada dua baris jendela kaca,masing-masing terdiri atas empat jendela, yang
menyebabkanruangan ini cukup terang. Di atas ruangan, tergantung di langit-langit,ada empat pasang lampu neon 40 watt.Dinding sebelah kiri kosong,
tidak ada apa-apa di sana. Warnahijau muda dinding itu sudah perlu dilebur
kembali, di sana-sinikelihatan coret-coretan tangan-tangan jahil.
(Dikutip dari wacana berjudul Banjir, oleh.
Ramadhan Syukur dalam
buku: Menulis secara Populer, karya Ismail Marahimin, 2001)
b.Deskripsi faktual/ekspositoris ialah deskripsi yang menggambarkanobjek berdasarkan
urutan logika atau fakta-fakta yang dilihat.
Contoh
deskripsi faktual dalam sebuah cerita:
Lantai tiga
kamar nomor tiga-nol-lima.Benar, ini dia kamaryang kucari; tanda pengenalnya
tertera di pintu, agak ke atas.Tepat di depan mataku, masih di pintu itu, ada
sebuah kotakkecil warna merah jambu. Sebuah note book kecil dijepitkan
padakotak itu, dengan sebuah perintah dalam bahasa Inggris, WriteYour
Massage! Pada note book itu kubaca pesan untukku, ”Masuksaja, Rat,
kunci dalam kotak ini. Tunggu aku!”
Di sebelah
kiri pintu tergantung sebuah penanggalan dan sebuahcermin yang bertuliskan
”Anda manis, Nona.” Di bawahnyamerapat sebuah meja belajar yang diberi alas
kertas berbungabungamerah jambu, dan dilapisi lagi dengan plastik bening.Di
atas meja ada sebuah tape recorder kecil, sebuah mesin ketik,jam weker,
alat-alat tulis, beberapa helai kertas berserakan danbuku-buku dalam keadaan
terbuka. Pasti semalam dia habis
mengerjakanpaper,
pikirku.
(Sumber: “Kamar Sebuah
Asrama,” oleh Ni Made Tuti Marhaeni,
dalam buku Menulis Secara
Populer, karya Ismail Marahimin,
2001)
Kita dapat
membuat karangan deskripsi secara tidak langsung,yaitu dengan mengamati
informasi dalam bentuk nonverbalberupa gambar, grafik, diagram, dan
lain-lain.Apa saja yangtergambarkan dalam bentuk visual tersebut dapat
menjadibahan atau fakta yang akurat untuk dipaparkan dalam karangandeskripsi
karena unsur dasar karangan ini adalah pengamatanterhadap suatu objek yang
dapat dilihat atau dirasakan.
Tahapan menulis karangan
deskripsi, yaitu:
(1)
menentukan objek pengamatan
(2)
menentukan tujuan
(3)
mengadakan pengamatan dan mengumpulkan bahan
(4) menyusun
kerangka karangan
(5)
mengembangkan kerangka menjadi karangan.
b. Wacana
Narasi
Wacana narasi adalah
bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatuperistiwa atau kejadian, sehingga
peristiwa itu tampak seolah-olah dialami sendiri oleh para pembaca. Narasi
menyajikan peristiwa dalam sebuah rangkaian peristiwa kecil yang bertalian. Ia
mengisahkan sebuah atau suatu kelompok aksi sedemikian rupa untuk menghasilkan
sesuatu yang secara populer disebut ceritera.adapun ciri-ciri wacana narasi :
1. Menggunakan urutan waktu dan tempat yang
berhubungan secara kausalitas.
2. Terdapat unsur tokoh yang digambarkan
mempunyai perwatakan yang jelas.
3. Terdapat alur cerita, setting dan konflik.
Narasi
diuraikan dalam bentuk penceritaan yang ditandai oleh adanya uraian secara
kronologis (urutan waktu).Penggunaan kata hubung yang menyatakan waktu atau
urutan, seperti lalu, selanjutnya, keesokan harinya, atau setahun
kemudian kerap dipergunakan.
Tahapan menulis narasi, yaitu
sebagai berikut.
(1)
menentukan tema cerita
(2)
menentukan tujuan
(3)
mendaftarkan topik atau gagasan pokok
(4) menyusun
gagasan pokok menjadi kerangka karangan secara kronologis atau urutan waktu.
(5)
mengembangkan kerangka menjadi karangan. Kerangka karangan yang bersifat
naratif dapat dikembangkan dengan pola urutan waktu.Penyajian berdasarkan
urutan waktu adalah urutan yang didasarkan pada tahapan-tahapan peristiwa atau
kejadian.Pola urutan waktu ini sering digunakan pada cerpen, novel, roman,
kisah perjalanan, cerita sejarah, dan sebagainya.
Contoh
wacana narasi
Kejadian
yang menggelikan sekaligus menegangkan ini terjadi pada pertengahan bulan Juli
1993, ketika saya baru masuk bekerja di sebuah klinik yang terletak di daerah
Lemabang, dekat dengan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri). Rumah saya berada di daerah
Bukit Besar sehingga membutuhkan waktu lebih kurang 45 menit untuk pergi dari
rumah ataupun pulang daridinas. Saat itu, rumah saya belum dilewati oleh bus
kota jurusan Bukit Besar, karena rute bus kota pada waktu itu hanya sampai di
dekat wilayah Kembang Manis. Jadi, terpaksa saya turun di simpang empat lampu
merah Jl. Kapten Arivai, cukup jauh dari rumah untuk berjalan pulang. Malam
itu, jalanan sangat sepi dan gelap karena wilayah yang saya lewati adalah TPU
(Tempat Pemakaman Umum) dan wilayahnya juga masih banyak hutan serta lampu
jalan belum dipasang. Akibatnya, saya sangat takut berjalan pulang ke rumah
sendirian.Apalagi kawasan yang saya lewati merupakan daerah rawan dan
angker.Orang-orang yang lewat sering diganggu kuntilanak, pocong, serta suara
wanita menangis.Tetapi, kekhawatiran saya agaknya terobati karena dari kejauhan
saya melihat tiga orang lelaki yang tampaknya juga baru pulang dari kerja dan
jalannya searah denganku. Tanpa pikir panjang langsung saja saya berlari
mendekati dan memanggil mereka, ”Mas ..., Mas ... tunggu, Mas!” Tapi bukannya
mendekat, mereka malah berlari dan berteriak ketakutan, ”Tolooong ... ada
pocong ..., ada pocong ...!” Karena saya orang yang agak telmi (telat mikir),
setelah mendengar itu saya sendiri malah tambah ketakutan.Sebab, saya juga
sangat takut dengan yang namanya setan atau semacamnya.
Tetapi, makin saya mendekat, tiga lelaki itu tambah kencang sehingga tidak
terkejar lagi oleh saya. Bahkan satu orang dari mereka nekat memanjat pagar
rumah orang lain untuk menyelamatkan diri. Setelah melihat baju dinas berwarna
putih yang saya kenakan, saya baru sadar ternyata yang mereka kira pocong
adalah saya. Dalam hati saya berkata, ”Sialan, kirain ada pocong beneran.
Ternyata yang disangka pocong itu aku. Jangankan mendapat kawan, mendekat saja
orang takut kepada saya.” Setelah saya sampai di rumah dan menceritakan
semuanya kepadaanggota keluarga, spontan mereka tertawa terbahak-bahak. Bahkan
seorang keponakan saya memanggil saya dengan sebutan ’Tante Pocong’. Sejak
kejadian itu, tiap kebagian jadwal dinas siang lagi, saat pulang malam saya
tidak pernah memakai baju putih lagi.
c.
Wacana Persuasi.
Wacana
persuasi adalah suatu bentuk wacana yang merupakan penyimpangandari
argumentasi, dan khusus berusaha mempengaruhi orang lain atau para pembaca,
agar para pendengar atau pembaca melakukan sesuatu bagi orang yang mengadakan
persuasi, walaupun yang dipersuasi sebenarnya tidak terlalu percaya akan apa
yangdikatakan itu. Karena itu persuasi lebih condong menggunakan atau
memanfaatkan aspek-aspek psikologis untuk mempengaruhi orang lain.
d. Wacana
argumentasi.
Wacana
Argumentasi adalah wacana yang berusaha membuktikan suatu kebenaran. Lebih jauh
sebuah argumentasi berusaha mempengaruhi serta mengubah sikap dan pendapat
orang lain untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti-bukti obyek
yang diargumentasikan itu. Argumentasi dilihat dari sudut proses berpikir
adalah suatu tindakan untuk membentuk penalaran dan menurunkan kesimpulan serta
menerapkannya pada suatu kasus dalam perdebatan.
Ciri-ciri wacana argumentasi yaitu :
1. Terdapat pernyataan, idea tau gagasan yang
dikemukakan.
2. Pembenaran berdasarkan fakta dan data yang
disampaikan.
Tahapan
menulis karangan argumentasi, sebagai berikut.
(1)
menentukan tema atau topik permasalahan,
(2)
merumuskan tujuan penulisan,
(3)
mengumpulkan data atau bahan berupa: bukti-bukti, fakta, atau
pernyataan yang mendukung,
(4) menyusun
kerangka karangan, dan
(5)
mengembangkan kerangka menjadi karangan.
Pengembangan
kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebabakibat,akibat-sebab, atau pola
pemecahan masalah.
1). Sebab-akibat
Pola urutan
ini bermula dari topik/gagasan yang menjadi sebabberlanjut topik/gagasan yang
menjadi akibat.
Contoh:
a. Sebab-sebab kemacetan di DKI Jakarta
a) Jumlah penggunaan kendaraan
b) Ruas jalan yang makin sempit
c) Pembangunan jalur busway
b.
Akibat-akibat kemacetan
a) Terlambat sampai di kantor
b) Waktu habis di jalan
2). Akibat-sebab
Pola urutan
ini dimulai dari pernyataan yang merupakan akibat
dan dilanjutkan dengan hal-hal
yang menjadi sebabnya.
Contoh : Menjaga kelestarian
hutan
1. Keadaan
hutan kita
2. Fungsi
hutan
3.
Akibat-akibat kerusakan hutan
3). Urutan Pemecahan Masalah
Pola urutan
ini bermula dari aspek-aspek yang menggambarkan
masalah
kemudian mengarah pada pemecahan masalah.
Contoh : Bahaya narkoba dan
upaya mengatasinya
1.
Pengertian narkoba
2. Bahaya
kecanduan narkoba
a. pengaruh terhadap kesehatan
b. pengaruh terhadap moral
c. ancaman hukumannya
3. Upaya
mengatasi kecanduan narkoba
4.
Kesimpulan dan saran
Contoh wacana
argumentasi:
Lagi-lagi
kecelakaan kereta api terjadi. Kereta api Citra Jaya tergulingdi Cibatu, Jawa
Barat, Sabtu lalu. Pada hari yang sama, sepur eksekutifArgo Lawu juga anjlok di
Banyumas, Jawa Tengah. Ini makin menunjukkanperkeretaapian kita dalam kondisi
gawat.Pemerintah mesti segeramembenahinya sebelum korban jatuh lebih banyak
akibat kecelakaan.
Musibah
kereta api Argo Lawu tak memakan korban. Tapi kecelakaankereta Citra Jaya
menyebabkan puluhan orang terluka.Daftar kecelakaanpun bertambah panjang. Dalam
kurun waktu empat bulan terakhir sudahterjadi 10 kali kecelakaan kereta api.
Angka ini naik hampir tiga kali lipatdibanding periode yang sama tahun
lalu.Tidaklah salah pernyataan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa kemarinbahwa
anjloknya dua sepur itu seharusnya bisa dideteksi. Tanda-tandaamblesnya tanah
di bawah bantalan rel kereta tentu bisa diamati jauh
hari. Dengan kata lain,
semestinya manajemen PT Kereta Api lebih seriusmengawasi jalur kereta
api.Persoalannya, Pak Menteri Cuma melihat sisi ketidakberesan PT KeretaApi.Yang
terjadi sebenarnya pemerintah juga salah urus perusahaan inisehingga terus
merugi. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, Rp 1,4 triliunper tahun. Inilah yang
menyebabkan perusahaan milik negara tersebut taksanggup memberikan layanan yang
baik.Kerugian besar muncul karena PT Kereta Api diwajibkan memeliharajaringan
rel di Indonesia. Total duit yang dikeluarkan untuk perawatanreguler per tahun
mencapai Rp 2,1 triliun.
Sementara
itu, anggaran daripemerintah hanya Rp 750 miliar.Di luar perawatan rutin, PT
Kereta Api jelas tak mampu lagimenanggungnya.Padahal sebagian besar bantalan
rel itu perlu diganti.Dari total panjang lintasan rel kereta api 4.676
kilometer, separuh lebih
berusia di atas 50 tahun.
Jangan heran jika banyak bantalan rel yang sudahlapuk. Kondisi ini sangat mudah
membuat kereta api anjlok. Faktanya,sebagian besar kecelakaan kereta api yang
terjadi pada 2001-2006 akibatkurang beresnya rel.Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional tahun lalu menghitungdibutuhkan Rp 6 triliun untuk menyehatkan kereta
api dan jaringan rel.Dalam keadaan anggaran negara yang sedang tekor,
angka itu memangtampak besar. Tapi, kalau pemerintah bisa menalangi Lapindo
Brantas Inc.Sekitar Rp 7,5 triliun buat membangun infrastruktur di Porong
Sidoarjo,kenapa untuk urusan yang ini tidak?
Pemerintah
tak perlu ragu mengucurkan dana untuk pembenahanperkeretaapian. Jika dikelola
dengan benar, kereta api sebetulnya berpotensimenunjang perekonomian. Dengan
pengelolaan di bawah standar pun,setiap tahun kereta api mampu mengangkut 150
juta penumpang dan 5 jutaton barang. Kalau ditangani lebih baik, jumlah
penumpangnya tentu akanjauh meningkat. Pendapatan PT Kereta Api pun akan
bertambah.Membiarkan kereta api berlari di atas bantalan rel yang lapuk atau
takterurus sungguh berbahaya. Jika pemerintah peduli keselamatan
warganya,kondisi perkeretaapian yang amburadul harus segera dibenahi.
(Dikutip dari Koran Tempo, 24
April 2007)
e. Wacana
Eksposisi.
Wacana
eksposisi adalah wacana yang berusaha menguraikan suatu objek sehingga memperluas pandangan
atau pengetahuan pembaca. Wacana ini digunakan untuk menjelaskan wujud dan
hakekat suatu obyek. Penjenisan wacana dari pendapat tersebut, dapat
disimpulkan ada empat, yaitu berdasarkan :
media penyampaian, jumlah penutur, sifat, dan tujuannya. Dalam
penelitian ini penulis membatasi penggunaan teori wacana hanya berdasarkan
tujuannya yaitu wacana deskriptif.
Ciri-ciri wacana
eksposisi yaitu:
1. Memberikan informasi kepada pembaca.
2. Adanya fakta dan informasi.
3. Berfungsi untuk memperjelas apa yang akan
disampaikan.
Karangan
eksposisibiasanya digunakan pada karya-karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalahuntuk seminar, simposium, atau
penataran.Untuk mendukung akurasi pemaparannya, sering pengarangeksposisi
menyertakan bentuk-bentuk nonverbal seperti grafik, diagram,tabel, atau bagan
dalam karangannya. Pemaparan dalam eksposisi dapat
berbentuk uraian proses,
tahapan, cara kerja, dan sebagainya dengan polapengembangan ilustrasi,
definisi, dan klasifikasi.
Berikut contoh-contoh pengembangan
karangan eksposisi:
a. Contoh eksposisi dengan
pengembangan ilustrasi
Kepemimpinan
seorang Bapak dalam rumah tangga baknakhoda mengemudikan kapal.Bapak menjadi
kepala keluargayang bertanggung jawab terhadap istri dan
keluarganya.Samaseperti nakhoda yang mampu memimpin dan melaksanakan tugasdan
tanggung jawabnya. Bila kepemimpinan kepala keluargabaik, akan baiklah keluarga
tersebut, sama halnya dengan kapalyang dikemudikan nakhoda.
b. Contoh eksposisi dengan
pengembangan definisi.
Telepon genggam
yang lebih dikenal dengan sebutan ponsel(telepon seluler) atau HP (hand
phone) merupakan alat komunikasiyang berbentuk kecil serta ringan.Selain
mudah digenggam sertadibawa ke mana-mana, bentuknya yang mungil memudahkanorang
untuk berkomunikasi di mana saja berada.Telepon genggamadalah produk canggih
era komunikasi nirkabel, telepon tanpakabel. Dengan variasi bentuk, merek, dan
model yang selalu baru,
jenis telepon ini banyak
diminati berbagai kalangan masyarakat.
c. Contoh eksposisi dengan
pengembangan klasifikasi.
Ada dua
jenis tanaman mini.Pertama, tanaman miniyang bukan asli mini. Bila ditanam di
tanah, ia akan tumbuhbesar dan normal seperti biasa. Bila ditempatkan di pot
kecil,pertumbuhannya jadi lambat.Tanaman jenis ini misalnya,tanaman palem udang,
pohon rhapis, pohon asem, beringin,dan jambu kerikil.Jenis kedua tanaman mini
asli yang aslinyamemang kecil.Tanaman ini kalau ditanam di tanah tidak
dapatbesar seperti ukuran biasa (normal). Jika ditanam di pot kecil, iaakan
makin kecil, mungil, dan cantik. Tanaman ini antara lainagave, chriptanthus
panseviera, dan anthurium chrystallium.
Karangan
eksposisi juga dapat ditulis berdasarkan fakta suatuperistiwa, misalnya,
kejadian bencana alam, kecelakaan, atau sejenis liputanberita. Meskipun bentuk
karangannya cenderung narasi, namun kita dapatmembuatnya menjadi bentuk paparan
dengan memusatkan uraian padatahapan, atau cara kerja, misalnya cara
menanggulangi penyebaran virusflu furung, mengantisipasi wabah DBD dengan 3 M,
atau evakuasi korban
banjir.
Contoh karangan eksposisi dari suatu peristiwa.
Dua pekerja
yang tertimbun tanah longsor akhirnya ditemukan olehpetugas kepolisian setelah
sejak kemarin mereka menggali gundukan pasirsetinggi sepuluh meter.Dari sejak
subuh kemarin hingga pukul 03.00 WIBpenggalian terus dilakukan dengan
menggunakan backhoe. Penggalianyang memakan waktu hampir 20 jam itu berakhir
saat dua korbanberhasil ditemukan. Mundari ditemukan dalam keadaan tubuh
melingkar.Sementara Itok ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
Tahapan
menulis karangan eksposisi, yaitu sebagai berikut:
(1) menentukan objek
pengamatan,
(2) menentukan tujuan dan pola
penyajian eksposisi,
(3) mengumpulkan data atau
bahan,
(4) menyusun kerangka
karangan, dan
(5) mengembangkan kerangka
menjadi karangan.
ü Menurut
Mulyana (2005: 51-55) jenis-jenis wacana dapat diklasifikasikanmenjadi tiga
bagian yaitu:
a. Berdasarkan
Media Penyampaian
Berdasarkan
media penyampaiannya wacana dapat dipilah menjadi dua yaitu :
1)
Wacana Tulis
Wacana tulis (written discourse) adalah jenis wacana yang disampaikanmelalui
tulisan. Sampai saat ini, tulisan masih merupakan media yang sangat efektifdan
efisien untuk menyampaikan berbagai gagasan, wawasan, ilmu pengetahuan,
atauapapun yang dapat mewakili kreativitas manusia.
2)
Wacana Lisan
Wacana lisan (spoken
discourse) adalah jenis wacana yang disampaikan secaralisan atau langsung
dengan bahasa verbal. Jenis wacana ini sering disebut sebagai tuturan (speech) atau
(utterance). Adanya kenyataan bahwa pada dasarnya bahasa pertama kali lahir
melalui mulut atau lisan.
b. Berdasarkan
jumlah penutur
Berdasarkan jumlah
penuturnya, wacana dapat dikelompokan menjadi dua yaitu :
1)
Wacana Monolog
Wacana monolog adalah
jenis wacana yang dituturkan oleh satu orang. Bentukwacana monolog antara lain
adalah pidato, pembacaan puisi, pembacaan berita, dan sebagainya.
2) Wacana Dialog
Wacana dialog adalah
jenis wacana yang dituturkan oleh dua orang atau lebih.Jenis wacana ini bisa
berbentuk tulis maupun lisan. Bentuk wacana dialog antara lain dialog ketoprak,
lawakan, dan sebagainya.
c. Berdasarkan
Sifat
Berdasarkan sifatnya,
wacana dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Wacana
Fiksi.
Wacana fiksi adalah
yang bentuk dan isinya berorientasi pada imajinasi.Bahasanya menganut aliran
konotatif, analogis, dan multi
interpretabble. Umumnya penampilan dan rasa bahasanya dikemas secara
literal atau estesis (indah), disamping itu tidak menutup kemungkinan bahwa
karya-karya fiksi mengandung fakta, dan bahkan hampir sama dengan kenyataan.
Namun sebagaimana proses kelahiran dan sifatnya, karya semacam ini tetap
termasuk dalam kategori fiktif. Bahasa yang digunakan wacana fiksi umumnya
menganut azas licentia puitica (kebebasan berpuisi) dan licentia gramatica
(kebebasan bergramatika). Wacana fiksi dapat dipilih menjaditiga jenis yaitu:
wacana prosa, wacana puisi, dan wacana drama.
a. Wacana
Prosa
Wacana prosa adalah
wacana yang disampaikan atau ditulis dalam bentukprosa. Wacana ini dapat
berbentuk tulis atau lisan (HG Taarigan,
1987:57). Novel,cerita pendek, artikel, makalah, buku, laporan penelitian,
skripsi, tesis, disertasi, danbeberapa bentuk kertas kerja dapat digolongkan
sebagai wacana prosa.
b. Wacana
Puisi.
Wacana puisi adalah
jenis wacana yang dituturkan atau disampaikan dalambentuk puisi. Wacana puisi
juga dapat berbentuk tulisan atau lisan. Contoh wacanatulis misalnya puisi dan
syair, sedangkan puisi yang dideklamasiakan dan lagu-lagu
merupakan contoh jenis wacana puisi
lisan. Nafas bahasa yang digunakan dan isinyaberorientasi pada kualitas
estetika (keindahan). Lagu, tembang geguritan (Jawa), dansejenisnya merupakan
contoh-contoh wacana puisi.
c. Wacana
Drama.
Wacana drama adalah
jenis wacana yang disampaikan dalam bentuk drama.Pola yang digunakan umumnya
bentuk percakapan atau dialog oleh karena itu, dalam wacana ini harus ada pembicaraan
dan pasangan bicara.
2. Wacana
Non Fiksi.
Wacana nonfiksi disebut
juga wacana ilmiah. Jenis wacana ini disampaikandengan pola dan cara-cara
ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.Bahasa yang digunakan
bersifat denotative, lugas, dan jelas. Aspek estetika bukan lagimenjadi tujuan
utama. Secara umum penyampaiannya tidak mengabaikan kaidah-kaidah gramatika
bahasa yang bersangkutan. Beberapa contoh wacana nonfiksi antaralain laporan
penelitian, buku materi perkuliahan, petunjuk mengoperasikan pesawat
terbang dan sebagainya.
Fitri Mulya dalam
http://journal.ui.ac.id/upload/artikel(/03Toleransi%20dalam%20jeniswacana_
Hilman%20dkk. Pdf)
BAB III
ANALISIS DATA
Untuk lebih memahami tentang materi
yang telah diuraikan diatas. Dibawah ini terdapat contoh dari jenis-jenis
wacana.
1.
Berdasarkan Media
Penyampaian.
v Wacana
Tulis.
Banyak sekali contoh
yang dapat kita ambil dari wacana tulis yang ada disekitar kita, salah satunya
ketika kita akan memasuki sebuah daerah baru pastinya kita sering melihat
sebuah kalimat yang terdapat pada gapura “Selamat Datang di Jombang “ kalimat tersebut merupakan wacana tulis yang
mana dalam kalimat tersebut tersirat satu gagasan bahwa kita telah memasuki
daerah jombang dan ini sangat efektif sekali karena dapat dilihat dan dibaca
oleh banyak orang.
v Wacana
Lisan
Wacana lisan merupakan
salah satu wacana yang sering kita pratikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena sebagai manusia kita selalu menggunakan lisan atau mulut kita untuk bisa
saling berkomunikasi dengan orang lain. Seperti contohnya “aku pulang sekitar
pukul 3 sore Vir, soalnya aku ada les tambahan !! “
pada kalimat diatas dapat dilihat bahwa si aku memberikan gagasan dia pulang jam 3 sore karena dia ada les
tambahan.
2.
Berdasarkan Jumlah
Penutur.
v Wacana
Monolog.
BPOM
Semarang: 25 Merk Susu Aman Dikonsumsi
Pemirsa Headline news,
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di
Semarang, Jawa Tengah, Selasa (5/4), menyatakan 25 merk susu formula bayi tidak
mengandung Enterobacter Sakazakii. Jadi, susu itu dinyatakan aman dikonsumsi.
Pernyataan itu disampaikan usai BPOM Semarang menguji 25 merek susu formula.
Pengujian tersebut merupakan tindak lanjut dari dugaan adanya Enterobacter
Sakazakii pada sejumlah merk susu yang beredar luas di masyarakat. Kepala BPOM
Semarang Supriyanto meminta masyarakat tidak khawatir lagi atas peredaran susu
tercemar. Pasalnya, hasil penelitian menyimpulkan, 25 merk susu aman dikonsumsi
karena terbebas Enterobacter Sakazakii. Namun, BPOM Semarang tetap mengimbau
masyarakat, terutama ibu yang memiliki anak, untuk selalu mengikuti petunjuk
penyajian, penyimpanan dan juga menjaga kebersihan botol susu. Warga juga
diimbau menggunakan air matang saat menyeduh susu.(RAS)
Paragraf diatas merupakan contoh dari berita yang
dibacakan seorang pembaca berita pada media elektronik dan merupakan wacana
monolog karena, disitu seorang presenter menyampaikan satu gagasan tentang susu
yang aman untuk dikonsumsi. kemudian didalam penyampaian berita tersebut dia
menyampaikan secara runtut dan saling berkesinambungan antar kalimat yang
diucapkan.
v Wacana Dialog.
Rani : Rio sini deh !!
Rio : ada apa Ran?
Rani : kamu kenal sama cowok imut itu?
Rio : eeemmmhhh,, yang pakek kacamata itu ?
Rani: bener,,bener,,bener..
Rio : awas jangan deket-deket sama dia !!!
Rani : lho kenapa? Apa dia udah punya cewek ? atau dia Playboy ? atau...
Rio : iyeeee,, dese’ itu brondong ekeee ....
Rani : @#%$%^%#?????
Pada dialog diatas, terdapat satu cuplikan lawakan
yang didialogkan dan itu merupakan contoh dari wacana dialog.
3. Berdasarkan Sifat.
v Wacana
fiksi (Puisi)
Perhatikan contoh wacana puisipada sebait
lagu Balada karya Ebiet G. Ade berikut ini.
mari kita tunggu
datangnya hujan
duduk
bersanding di pelataran
sambil menjaga
mendung di langit
agar tak ingkar
agar tak pergi
lagi
Keindahan wacana di atas, antara
lain terletak pada penggunaan gaya bahasapersonifikasi:
mendung dan hujan diibaratkan manusia. Diksi
datang, ingkar, dan pergi menjadi
mudah dipahami dan terkesan indah untuk
menggambarkan perilaku alam tersebut.
v Wacana
Non Fiksi.
Perhatikan
kutipan berikut :
Gelombang
Tsunami
bahkan tak
sepasang matapun tahu dari mana datangmu
kau renggut
begitu saja
harta benda,
bahkan:
jiwa
saudara-saudaraku,
anak-anak tak
terdengar lagi jeritannya
kemurkaan lautMu
menyadarkan hati dan pikiran
masih tersisa
secuil semangat: harap dan kepasrahan
tolong, sisakan
cintaMu buat bangsa ini.
Kutipan di atas merupakan wacana fiksi
(berupa puisi) dengan judul
Gelombang Tsunami. Sementara itu, pada kutipan dibawah
ini merupakan contohdari wacana nonfiksi
(berupa artikel).
Gelombang
Tsunami terjadi karena daya dorong dan letupan yang sangat kuatdari dasar laut,
yang dipicu oleh gempa tektonik. Letupan gempa itu kemudianmenghasilkan badai
dan gelombang pasang yang dasyat. Berdasarkancatatan, bencana Tsunami di
Amerika beberapa tahun silam, pernah mencapaiketinggian hampir 27 meter.
Gerakan air pasang menyebar ke segala penjuruarah,
termasuk menuju daratan (pulau terdekat). Ketika gelombang pasangmendekati
pantai, ketinggian dan daya dorongnya semakin meningkat karenaair laut semakin
dangkal di wilayah pantai. Itulah sebabnya, ketika mencapaidaratan, gelombang
itu tidak mungkin ditahan lagi. Gempa berkekuatan 8,9skala Richter yang terjadi
di Indonesia itu, dianggap oleh para ahli sebagaigempa dan bencana Tsunami yang
paling dahsyat. Banyaknya korban, berupaharta benda dan nyawa yang mencapai
ratusan ribu orang itu, antara laindisebabkan oleh : (1) tidak adanya
peringatan dini, (2) bangunan dan tempat tinggal tidak dirancan antibencana.
Dari landasan teori tersebut terdapat berbagai macam jenis-jenis
wacana dilihat dari sudut pandangnya, karena beberapa para ahli meninjau
jenis-jenis wacana berbeda-beda. Jenis
–jenis wacana tersebut antara lain apabila di klasifikasikan yaitu : jenis
–jenis wacana berdasarkan tujuan pemaparanya, jenis wacana berdasarkan media
penyampaian, jenis wacana berdasarkan jumlah penuturnya,jenis wacana
berdasarkan acuan atau sifatnya, jenis wacana berdasarkan langsung atau
tidaknya pengungkapan, jenis wacana berdasarkan cara penuturannya, jenis wacana
berdasarkan eksitensinya.
Agar
kami mengarah dan fokus pada sasaran objek analisis maka kami menganalisis
jenis wacana berdasarkan klasifikasinya dan juga yang berdasarkan jumlah
penuturnya. Di dalam makalah ini kami
menganalisis wacana monolong yang berupa iklan sponsor.
Iklan
adalah sebuah karya kreatif yang menggunakan media visual, audio, audio visual
dan media verbal. Dengan media verbal manipulasi kata-kata dan ungkapan
seringkali dilakukan secara leluasa sehingga dalam beberapa hal ada
kecenderungan melanggar kaidah kebahasaan yang berlaku. (Sugiono: 2009) Wreight
(dalam Mulyana, 2005:63- 64) menambahkan bahwa iklan merupakan proses
berkomunikasi yang mempunyai kekuatan penting sebagai sarana pemasaran,membantu
layanan,serta gagasan dan ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk
informasi yang bersifat persuasif.
(Sugiono: 2009) Wreight (dalam Mulyana, 2005:63- 64) dalamhttp://digilib.ump.ac.id/download.php?id=864)
Alwi
dkk. (2005:421) menyebutkan bahwa iklan adalah (a) berita pesanan untuk
mendorong,membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang
ditawarkan, (b) pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang
dijual,
dipasang
di dalam media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat umum.
Moeliono,
(peny) (2007:471) menyebutkan bahwa iklan adalah (a) berita atau jasa yang
ditawarkan, (b) pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang
dijual, dipasang di dalam media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di
tempat
umum.
(Alwi dkk.
(2005:421) dalam http://digilib.ump.ac.id/download.php?id=864)
è Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa iklan adalah
pesan yang menawarkan suatu barang atau jasa yang ditujukan kepada masyarakat
melalui suatu media.
·
Tujuan
Iklan
Produsen
di dalam membuat iklan mempunyai beberapa tujuan (Susanto, 1989:213). Adapun
tujuan iklan adalah sebagai berikut:
a.
Menyadarkan komunikan dan memberi informasi tentang suatu barang, jasa, atau
ide.
b.
Menimbulkan dalam diri komunikan suatu perasaan suka akan barang, jasa ataupun
ide yang disajikan dengan memberikan preferensi kepadanya.
c.
Meyakinkan komunikan akan kebenaran sesuatu yang dianjurkan dalam iklan dan
menggerakkan mereka untuk berusaha memiliki atau menggunakan barang atau jasa
yang dianjurkan.
(Susanto,
1989:213).dalamhttp://digilib.ump.ac.id/download.php?id=864)
Analisis 1.:
Dalam makalah ini kami menganalisis Iklan media cetak yang berupa
media visual. Dalam iklan tersebut seseorang mengajak orang lain untuk
melestarikan bumi dengan cara membeli pulsa. Di dalam iklan tersebut juga
terdapat kutipan “senangnya pulsa terisi bumu pun makin lestari”. Maksud dari
iklan diatas adalah memberikan manfaat kepadakhalayak ramai dengan cara mereka
membeli pulsa sekaligus mereka menyumbang
dan melestarikan alam indonesia.
Analisis 2
v Wacana
Monolog.
BPOM
Semarang: 25 Merk Susu Aman Dikonsumsi
Pemirsa Headline news,
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di
Semarang, Jawa Tengah, Selasa (5/4), menyatakan 25 merk susu formula bayi tidak
mengandung Enterobacter Sakazakii. Jadi, susu itu dinyatakan aman dikonsumsi.
Pernyataan itu disampaikan usai BPOM Semarang menguji 25 merek susu formula.
Pengujian tersebut merupakan tindak lanjut dari dugaan adanya Enterobacter
Sakazakii pada sejumlah merk susu yang beredar luas di masyarakat. Kepala BPOM
Semarang Supriyanto meminta masyarakat tidak khawatir lagi atas peredaran susu
tercemar. Pasalnya, hasil penelitian menyimpulkan, 25 merk susu aman dikonsumsi
karena terbebas Enterobacter Sakazakii. Namun, BPOM Semarang tetap mengimbau
masyarakat, terutama ibu yang memiliki anak, untuk selalu mengikuti petunjuk
penyajian, penyimpanan dan juga menjaga kebersihan botol susu. Warga juga
diimbau menggunakan air matang saat menyeduh susu.(RAS).
Paragraf diatas merupakan contoh dari berita yang
dibacakan seorang pembaca berita pada media elektronik dan merupakan wacana
monolog karena, disitu seorang presenter menyampaikan satu gagasan tentang susu
yang aman untuk dikonsumsi. kemudian didalam penyampaian berita tersebut dia
menyampaikan secara runtut dan saling berkesinambungan antar kalimat yang
diucapkan.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan.
Berdasarkan pemaparan materi diatas tentang jenis-jenis
wacana dapat terbagi atas beberapa bagian dan menurut para
ahli pembaagiannya berbeda-beda. Menurut Mulyana (2005:
51-55)
jenis-jenis wacana terbagi menjadi tiga yaitu :
(a) berdasarkan media penyampaian: (1)
wacana tulis, (2)wacana lisan.
(b) berdasarkan jumlah penutur: (1) wacana
monolog, (2)wacana dialog.
(c) berdasarkan sifat: (1) wacana fiksi,
(2) wacana nonfiksi.
Menurut
Keraf (1995: 7-17) wacana dapat
dibedakan menjadi lima yaitu: (a) wacana deskripsi, (b) wacana narasi, (c)
wacana persuasi, (d) wacana argumentasi, dan (e) wacana eksposisi.
Jadi dapat disimpulkan
bahwa dari setiap para ahli mempunyai pendapat tersendiri tentang pembagian
jenis-jenis wacana itu semua tegantung dari penggunaannya dan tujuan dalam
menggunakan wacana tersebut.
B. Daftar
Pustaka.
http://journal.ui.ac.id/upload/artikel(/03Toleransi%20dalam%20jeniswacana_
Fitri Mulya%20dkk. Pdf)
(di akses tanggal 20 april 2015)
http://journal.ui.ac.id/upload/artikel(/03Toleransi%20dalam%20jeniswacana_
yulianik%20dkk. Pdf)
(di akses tanggal 20 April Maret 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar