Kata Pengantar
Segala puji dan syukur
saya panjatkan kepada tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmatnyalah
maka kami dapat menyelesaikan sebuah karya tulis berupa makalah dengan tepat
waktu. Berikut ini kami mempersembahkan sebuah makalah dengan judul“
Jenis-Jenis Wacana” yang menurut kami dapat
memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari mata kuliah wacana .
Melalui kata pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman karena setiap insan pasti tidak ada yang sempurna, maka apabila isi
makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kurang baik atau kurang tepat
harap makhlum karena kami semua masih proses belajar.
Sebelumnya terima saya
ucapkan kepada :
1. Bapak Winardi SH.M.Hum.Selaku ketua STKIP PGRI
Jombang,yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat kuliah di
STKIP Jombang.
2.
Ibu
dosen Diana Mayasari, M.Pd,selaku dosen pembimbing matakuliah Wacana.Terima
kasih atas bimbingannya karena sebelum kami mengerjakan makalah, ibu dosen telah banyak memberikan teori dan arahan
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima
kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.
Jombang, April 2015
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Wacana
diperkenalkan oleh para linguis di Indonesia sebagai terjemahan dari istilah
bahasa Inggris discourse. Namun, para ilmuan sosial lebih banyak
menggunakan istilah diskursus. Wacana, di dalam buku Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi, Dardjowidjojo, Lapoliwa, dan
Moeliono, 2003: 41 ) didefinisikan sebagai „rentetan kalimat yang bertautan
sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat tersebut‟. Sementara
itu, Kridalaksana (2008:259) mendefinisikan wacana sebagai satuan bahasa
terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi
atau terbesar‟. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh
(novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat, atau kata
yang membawa amanat lengkap.
Hal yang perlu
diperhatikan dalam wacana adalah kepaduan wacana, baik antarkalimat, maupun
antarparagraf. Kepaduan antarkalimat akan tampak pada keutuhan dalam paragraf.
Adapun kepaduan antarparagraf akan tampak dalam keutuhan sebuah wacana.
Membentuk suatu wacana yang padu dan utuh akan membentuk sebuah hubungan dan
makna yang jelas antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Wacana
yang utuh adalah wacana yang lengkap, yaitu mengandung aspek-aspek yang terpadu
dan menyatu. Aspek-aspek yang dimaksud di antaranya adalah kohesi dan
koherensi. Untuk menciptakan wacana utuh tersebut, diperlukan kemampuan untuk
memahami dan menggunakan sarana kohesi dan koherensi dengan tepat. .
Dalam sebuah wacana pastinya terdapat jenis
wacana , karena wacana tidak hanya mempunyai satu jenis saja , yang bisa di
tulis atau diucapkan seseorang namun didalamnya terdapat jenis wacana . Jenis
–jenis wacana tersebut berbeda-beda tergantung sudut pandang seseorang dalam melihatnya.
Oleh
karena itu dalam makalah ini kami akan memaparkan jenis –jenis wacana beserta
contohnya. Berdasarkan media penyampaiannya,
wacana terbagi atas dua jenis, yaitu wacana lisan dan wacana tulis. Wacana
lisan adalah jenis wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung dengan
bahasa verbal. Sebaliknya, wacana tulis adalah jenis wacana yang disampaikan
secara tertulis dsb. Untuk lebih jelasnya , akan kami paparkan dalam BAB
selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Untuk
menghindari adanya kesimpangsiuran dalam makalah ini,maka kami membatasi
masalah-masalah yang akan dibahas diantaranya :
1) Apa saja
jenis-jenis wacana ?
2) Apa ciri
–ciri jenis wacana berdasarkan cara
pemaparnya?
3) Bagaimana
contoh dari jenis-jenis wacana yang sudah di klasifikasikan?
C.Tujuan
1)
Untuk
mengetahui jenis-jenis wacana
2)
Untuk
mengetahui ciri –ciri wacana berdasarkan cara pemaparnya
3)
Untuk
mengetahui contoh-contoh dari jenis-jenis wacana
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian wacana
Wacana
adalah satuan bahasa yang terlengkap dan terbesar/ tertinggi diatas kalimat
atau klausa dengan koherensi dan kohesi
yang berkesinambungan , yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan
secara lisan atau tertulis. ( Tarigan, 2009 : 19 ).
·
Menurut Alwi, dkk (2003:42) Wacana adalah rentetan kalimat
yang berkaitan sehingga membentuk makna yang serasi di antara kalimat-kalimat
itu.
·
Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma, 1994:5)Wacana adalah
satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau
klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu
mempunyai awal dan akhir yang nyata.
·
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai
rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal
(subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang
koheren, dibentuk dari unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
Wacana merupakan
satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam
konteks sosial.Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau
ujaran.Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis . Dalam peristiwa komunikasi
secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa
dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai
hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari
wacana disebut dengan analisis wacana.Analisis wacana merupakan suatu kajian
yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik
dalam bentuk tulis maupun lisan. Istilah wacana berasal dari kata sansekerta
yang bermakna ucapan atau tuturan.
(dikutip dalam http://yulitamarchita.blogspot.com/2012/12/makalah-wacana.html
07 April 2015.)
è
Jadi dari beberapa pendapat ahli di atas kami memberikan
kesimpulan disimpulkan bahwa wacana
adalah satuan bahasa yang lengkap yang dipaparkan secara teratur kohesi dan
koherensi dan membentuk suatu makna yang logis.
B. Jenis-jenis wacana
Jenis wacana
dapat diklasifikasikan dengan berbagai bentuk , tergantung dari sudut pandang
kita antara lain :
Berdasarkan cara dan tujuan pemaparannya, wacana dapat
dibedakan menjadi wacana deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan
narasi.
(Sumarlan, 2003 : 17 dalam ejournal.umm.ac.id/index.php/.../1349_umm_scientific_journal.pdf ).
v Jenis wacana berdasarkan tujuan
pemaparannya
a.
Wacana Narasi
Wacana narasi adalah salah satu jenis wacana yang menceritakan / mengisahkan
sesuatu peristiwa secara berurutan berdasarkan urutan kejadiannya. Unsur-unsur penting
dalam sebuah narasi adalah kejadian, tokoh, konfik, alur/plot, serta latar yang
terdiri atas latar waktu, tempat, dan suasana.
Dengan demikian wacana jenis ini tidak bermaksud untuk mempengaruhi
seseorang melainkan hanya menceritakan sesuatu kejadian yang telah disaksikan,
dialami dan didengar oleh pengarang (penulisnya). Narasi dapat bersifat fakta
atau fiksi (cerita rekaan). Narasi yang bersifat fakta, antara lain biografi ,autobiografi,pengalaman sedangkan yang berupa fiksi
diantaranya cerpen dan novel.
·
Ciri-ciri narasi :
1. Berupa
cerita tentang peristiwa atau pengalaman penulis.
2.
Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar
terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya. atau berupa
rekaan
3.
Berdasarkan konfliks, karena tanpa konflik biasanya narasi tidak menarik.
4.
Memiliki nilai estetika.
5.
Menekankan susunan secara kronologis.
·
Tujuan menulis karangan narasi yaitu:
1. Hendak
memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan
2.
Memberikan pengalaman estetis kepada pembaca
3.
memberikan hiburan kepada pembaca.
Contoh wacana narasi :
Kegiatan disekolahku demikian padatnya. Setiap hari, aku masuk pukul 07.00.
Agar tidak terlambat, aku selalu bangun pukul 04.30. Setelah mandi, akupun
shalat subuh. Kemudian, aku segera mengenakan seragam sekolah. Tak lupa aku
lihat-lihat lagi buku yang harus aku bawa. Yah, sekedar mengecek apakah
buku-buku yang aku bawa sudah sesuai dengan jadwal pelajaran hari itu.
Selanjutnya, aku makan pagi. Lalu, kira-kira pukul 06.00, aku berangkat ke
sekolah. Seperti biasanya, aku ke sekolah naik angkutan umum. Jarak rumah
dengan sekolahku tidak jauh, sekitar enam kilometer. Aku memang membiasakan
berangkat pagi-pagi. Maklum, angkutan kota sering berhenti lama untuk mencari
penumpang. Jika aku berangkat agak siang, wah, bisa terlambat sampai di
sekolah.
Di sekolah, aku belajar selama kurang lebih enam jam. Jam pelajaran
berakhir pukul 12.45. Itu untuk hari-hari biasa. Hari Rabu, aku pulang pukul
14.30, karena mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dulu. Khusus hari Jum’at, aku
bisa pulang lebih awal, yaitu pukul 11.00.
Paragraf narasi diatas berisi sebuah fakta berupa catatan kegiatan sehari-hari
yang dialami oleh penulis. Apbila dicermati, paragraf
tersebut berisi urutan peristiwa berikut : bangun pukul 04.30, mandi, shalat
subuh, berpakaian, mengecek buku, makan pagi, berangkat sekolah, belajar di
sekolah, pulang sekolah. Rangkaian
peristiwa tersebut dialami oleh tokoh aku. Aku mengalami “konflik”
dengan dirinya sendiri, yaitu kebiasaannya setiap hari.
b.
Wacana Deskripsi
Wacana deskripsi adalah wacana yang menggambarkan sesuatu dengan jelas
dan terperinci. Wacana deskripsi bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran
terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat
melihat, mendengar, membaca atau merasakan hal yang dideskripsikan, penulis merinci
objek dengan kesan, fakta, dan citraan. Oleh sebab itu deskripsi yang baik
adalah deskripsi yang dilengkapi dengan hal-hal yang dapat merangsang panca
indra. Contoh : seperti keadaan banjir, suasana dipasar dan sebagainya, melihat pemandangan
pegunungan, rumah, gedung , dll.
ü
Dilihat dari sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2
macam, yaitu sebagai berikut :
·
Deskripsi Imajinatif/Impresionis
Adalah deskripsi yang
menggambarkan objek benda sesuai kesan/imajinasi si penulis. Pengertian lain
tentang deskripsi impresionis yaitu ialah ragam pemaparan yang didasarkan
pada impresi (kesan atau perasaan) penulis terhadap peristiwa, kejadian, tempat,
perbuatan, karakter, dll.
Hal ini didasarkan
pada kuat lemahnya kesan yang didapat dari objek.
Contoh: Deskripsi mengenai kota Malang yang dingin, sejuk, dan segar. Banyak objek wisata yang menyenangkan di sana. Wahananya pun seru-seru dan asyik-asyik.
Contoh: Deskripsi mengenai kota Malang yang dingin, sejuk, dan segar. Banyak objek wisata yang menyenangkan di sana. Wahananya pun seru-seru dan asyik-asyik.
Contoh Deskripsi
Imajinatif
Aku tidak lagi berada
di kamarku, tetapi di suatu ruangan bersama-sama dengan sekelompok orang yang
sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya. Bau asap tembakau memenuhi ruangan
itu, tapi tak seorang pun yang kelihatan peduli. Kami semua duduk di kursi yang
diatur membentuk sebuah lingkaran, mirip dengan ruangan diskusi. Semua tampak
duduk tenang, semua kelihatan sedang menulis, dan tidak seorang pun yang
kelihatan peduli pada orang lain di ruangan itu
·
Deskripsi faktual/ekspositoris
Ialah deskripsi yang menggambarkan objek
berdasarkan urutan logika atau fakta-fakta yang dilihat. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia Faktual dapat diartikan sebagai hal (keadaan, peristiwa) yang
merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.atau juda biasanya
diartikan sebagai sesuatu hal yang berdasarkan kenyataan; mengandung dan
kebenaran. Ada juga pendapat lain mengenai deskripsi ekspositoris, yaitu ragam
pemaparan atau penggambaran secara logis.
Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa semua yang ada di dunia ini mempunyai “logika urut-urutan sendiri”.
Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa semua yang ada di dunia ini mempunyai “logika urut-urutan sendiri”.
Contoh: Bila kita
ingin mendeskripsikan manusia, maka logika urutannya: dari atas (kepala) ke
bawah (kaki)
Contoh Deskripsi
Faktual
Di sebelah kiri pintu
tergantung sebuah penanggalan dan sebuah cermin yang bertuliskan ”Anda manis,
Nona.” Di bawahnya merapat sebuah meja belajar yang diberi alas kertas
berbunga-bunga merah jambu, dan dilapisi lagi dengan plastik bening. Di atas
meja ada sebuah tape recorder kecil, sebuah mesin ketik, jam weker, alat-alat
tulis, beberapa helai kertas berserakan dan buku-buku dalam keadaan terbuka.
Pasti semalam dia habis mengerjakan paper, pikirku.
·
Ciri-ciri karangan deskripsi
1. Karangan ini berisi gambaran
mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar,
atau merasakan hal tersebut.
2. Menggambarkan atau melukiskan
sesuatu.
3. Penggambaran tersebut dilakukan
sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera.
4. Membuat pembaca atau pendengar
merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
c.
Wacana Argumentasi
Kata argumentasi
berarti alasan. Wacana Argumentasi yaitu paragraph yang mengemukakan berbagai
alasan , contoh, dan bukti yang kuat atau logis serta meyakinkan agar pembaca
terpengaruh dan membenarkan pendapat, gagsan, sikap dan keyakinan penulis.
Dalam berargumentasi, kita boleh mempertahankan pendapat tetapi juga harus
mempertimbangkan pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat kita.
Penalaran yang sehat dan didukung oleh penggunaan bahasa yang baik dan efektif
sangat menunjang sebuah karangan argumentative. Karangan argumentasi juga
dpat berisi tanggapan atas sanggahan terhadap suatu pendapat dengan memeparkan
alasan-alasan yang logis. Tujuan wacana argumentasi yaitu berusaha
meyakinkan pembaca akan kebenaran pendapat pengarang.
·
Ciri-Ciri wacana argumentasi
a)
Berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan pengarang sehingga kebenaran
itu diakui pembaca
b)
Pembuktian dilengkapi dengan data, fakta, grafik, table, atau gambar. (Ada alasan, data, atau fakta yang mendukung)
c)
Pengarang berusaha mengubah sikap, pendapat, atau pandangan pembaca
d) Dalam
membuktikan sesuatu, pengarang menghindarkan keterlibatan emosi dan menjauhkan
subjektifitas
e) Dalam
menyusun argumentasi, penulis menerapkan kerangka berfikir rasional, kritis dan
logis
f)
Membuktikan kebenaran pendapat pengarang dapat menggunakan macam-macam pola
pembuktian.
Data dan fakta yang digunakan
untuk menyusun wacana atau paragraf argumentasi dapat diperoleh melalui
wawancara, angket, observasi, penelitian lapangan, dan penelitian kepustakaan.
Pada akhir paragraf atau karangan perlu disajikan kesimpulan. Contoh : laporan penelitian ilmiah, karya tulis dsb. Pada akhir paragraf atau karangan perlu disajikan kesimpulan
Contoh :
Desa Tenggar Jaya adalah salah
satu desa di wilayah kabupaten Banyumas. Beberapa fasilitas umum seperti
poliklinik desa, Taman Kanak-Kanak dan dua Sekolah Dasar Negeri berdiri megah
disana. Bangunan megah ini sudah sangat permanen dengan arsitektur yang
beragam. Listrik pun sudah menerangi desa tersebut sejak 7 tahun terakhir.
Jaringan telepon sudah banyak dinikmati warga. Semua jalan yang ada di desa itu
juga sudah diaspal. Hampir 75% warganya telah berpendidikan sarjana. Jadi dapat
disimpulkan bahwa desa TEnggar Jaya adalah desa yang sudah maju.
d. Wacana Persuasi
Wacana persuasi merupakan wacana yang berisi imbauan atau ajakan kepada
orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penulisnya.
Oleh karena itu biasanya disertai penjelasan dan fakta-fakta sehingga
meyakinkan dan dapat mempengaruhi pembaca.
Pendekatan yang dipakai dalam persuasi adalah pendekatan emotif yang
berusaha membangkitkan dan merangsang emosi.
·
Ciri-ciri wacana
persuasif seharusnya :
1.
Berupa ajakan atau mempengaruhi pembaca
2.
Berisi imbauan
3.
Menarik pembaca atau pendengar
·
Syarat-syarat
membuat wacana Persuasi agar pembaca
atau pendengar tertarik :
a) Menggunakan Bahasa
Emotif
Bahasa emotif disini
bukanlah suatu bahasa yang membuat orang emosi karena marah, tetapi bahasa yang
bisa membuat seseorang merasakan sesuatu perasaan yang datang dari hati untuk
melakukan sesuatu. Bahasa emotif juga membuat seseorang penasaran terhadap
sesuatu untuk bisa mengalami dan terlibat didalamnya.
Contoh :
Bintang buana filter, Maju tak Gentar.
b) Menggunakan
Struktur Kalimat yang Unik
Stuktur kalimat
yang unik maksudnya adalah struktur kalimat yang cenderung membuat para pembaca
menikmati dan mudah mengerti serta terkesan ketika membaca wacana tersebut.
Contoh :
Diplomat, Arti Sebuah Kesuksesan
c) Pilihan Kata yang
Khusus
Kata-kata yang
digunakan adalah kata-kata umum yang mudah dipahami oleh pembacanya tidak
berbelit-belit. (kohesi dan koherensi )
Contoh : Nikki,
memang tangguh
d) Ajakan yang Efektif
Ajakan yang efektif
adalah ajakan yang tidak bertele-tele dan tidak tersembunyi secara makna,
tetapi bisa membuat seseorang tersentuh dan bergerak serta mendapat dorongan
untuk melakukan sesuatu.
Contoh :
Rindang, Pilihan Kita Semua.
e) Harus menghindari
konflik agar kepercayaan tidak hilang dan supaya kepercayaan untuk pembaca
tercapai.
f) Harus ada fakta dan
data
Wacana persuasif
dapat berupa :
1. Bentuk
pidato , misalnya
Propaganda
kelompok / golongan, kampanye, penjual jamu ,dll.
2. Bentuk tulisan brupa Iklan dalam media massa, selebaran, dll.
3. Berupa elektronik
misalkan televisi, radio, internet, dll.
Contoh wacana persuasif :
Pernahkah anda mencoba minum sari jahe Taka Tunga ? sungguh sangat
disayangkan jika anda melalui hidup anda tanpa sedikitpun mencoba minuman
tradisional berkashiat ini. Minuman ini adalah minuman berkasyat tinggi.
Diproduksi secara natural dari bahan alamiah, yaitu jahe-jahe pilihan dari
kampung Taka Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada dan dikemas menjadi sebuah produk
yang sangat bermutu.
Entah anda mau yakin atau tidak, tetapi
saya hanya mau mengatakan bahwa akan sangat disayangkan jika anda tidak
pernah mau mencobanya. Saya sendiri pernah mencobanya dan rasanya tidak seperti
meminum sari-sari jahe biasa. Ketika itu
saya sedang masuk angin akibat kehujanan saat mengendarai motor dari Mauponggo
ke Bajawa. Saya singgah sebentar di kampung Taka untuk membeli sebungkus sari
jahe. Saya meminta segelas air hangat kepada seorang ibu di kampung itu lalu
melarutkaan sari jahe ke dalam gelas air dan langsung diminum. Alhasil, perut
saya menjadi lebih baik dan masuk angin langsung hilang.
Di samping kashiatnya untuk menyebuhkan masuk angin, juga sari jahe Taka
Tunga juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti mag, lambung,
sesak napas, brongkitis, asma, sariawan, radang paru-paru, sakit kepala dan
juga batuk tidak berdahak. Kenyataan ini
sudah dibuktikan oleh sebagaian orang yang sudah mengkonsumsi minuman ini dan
menjadi sembuh dari penyakitnya akibat meminum minuman ini.
Sebagai sebuah minuman yanng diproduksi secara alamiah oleh tangan-tangan
trampil masyarakat Taka Tunga, anda tidak perlu harus berpikir tentang efek
samping dari minuman ini. Minuman ini dikemas tanpa ada polusi kimiawi ataupun
tanpa adanya bahan pengawet. Minuman ini sudah menjadi pilihan banyak orang
karena disamping sebagai obat juga dapat digunakan sebagai minuman pengganti
kopi pada pagi hari taupun sore hari. Sudah sejak tahun 2002 sari jahe Taka
Tunga sudah Go Internastional dan dan laris dikonsumsi di Cina, Kanada, Amerika
Serikat dan Bangkok.
Kalau anda sempat lewat, anda bisa membeli minuman ini di kios-kios yang
ada di kampung Taka Tunga atau mungkin ada yang berminat, anda dapat menghubung
langsung ke Nomor Telepon : 085253237046. Silahkan mencoba dan anda akan
langsung merasakan sendiri kashiatnya.
e. Wacana Eksposisi
Wacana eksposisi adalah karangan yang
memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan
tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya.
Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karya-karya ilmiah seperti artikel
ilmiah, makalah-makalah untuk seminar, simposium, atau penataran.Tahapan menulis
karangan eksposisi, yaitu menentukan objek pengamatan, menentukan tujuan dan
pola penyajian eksposisi, mengumpulkan data atau bahan, menyusun kerangka
karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi karangan.Pengembangan kerangka
karangan berbentuk eksposisi dapat berpola penyajian urutan topik yang ada dan
urutan klimaks dan antiklimaks
Contoh wacana eksposisi :
Jika kamu benar-benar membutuhkan sesuatu yang harganya tidak terjangkau
oleh orang tuamu, kamu bisa mencari pekerjaan guna memperoleh cukup uang untuk
membelinya sendiri. Berikut ini terdapat empat saran yang membantumu memperoleh
pekerjaan. Pertama, sebarkan berita. Beritahu kepada tetangga, teman ataupun
dosen bahwa kamu membutuhkan pekerjaan. Kalau kamu malu untuk langsung meminta
pekerjaan, kamu bisa menanyakan kepada mereka tentang pekerjaan mereka sewaktu
mereka seusiamu. Semakin banyak orang tahu bahwa kamu mencari pekerjaan maka
semakin banyak peluang untuk kemungkinan besar kamu dapatkan.
Kedua, tidak lanjuti setiap peluang. Tanggapi iklan lowongan pekerjaan yang
dimuat di surat kabar/harian-harian,seperti Flores Pos dan Pos Kupang ataupun
di radio, yang dipasang di depan toko dan tempat umum lainnya. Segera mencari
tahu informasinya atau kalau tidak berhasil,
bisa meyakinkan orang yang mempunyai usaha bahwa ia memebutuhkan jasa
yang bisa anda berikan.
Ketiga, tuliskan dan sebarkan lamaran serta daftar riwayat hidup. Tulis
surat lamaran yang dilampiri data diri, alamat, nomor telepon, serta daftar
keterampilan dan pengelaman kerjamu. Bagaimana kalau kamu merasa tidak memiliki
keterampilan atau pengelaman kerja ? coba diingat-ingat bahwa anda mungkin
pernah mengasuh adikmu ketika orang tuamu pergi atau pernah diminta untuk
menjaga orang-orang lain. Hal itu menunjukan bahwa anda bisa dipercaya.
Cantumkan semuanya itu dalam daftar riwayat hidupmu dan berikan daftar itu
kepada calon atasanmu.
Keempat, ciptakan pekerjaan sendiri. Pertama-tama yang harus dipikirkan
adalah lingkungan tempat tinggalmu. Adakah barang atau jasa yang belum ada penyediaannya
? misalnya, kalau kamu suka binatang,
kamu bisa menawarkan diri untuk memandikan atau mencukur bulu hewan kesayangan
tetanggamu dengan tarif tertentu. Atau
jika kamu bisa memainkan alat musik,
bagaimana kalau kamu memberikan les musik ? atau kamu bisa melakukan pekerjaan
yang biasanya orang lain tidak melakukannya, seperti membersihkan jendela, atau
rumah. Tentu saja yang paling penting dari semuanya itu adalah bahwa kamu harus mempunyai motivasi diri, disiplin
dan mau berinisiatif.
v
Jenis wacana berdasarkan media penyampaiannya.
a.
Wacana
tulis
Adalah jenis wacana yang disampaikan melalui tulisan. Wacan
tulis dapat berwujud sebuah teks, sebuah alinea, dan sebuah wacana. Wacana tulis ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, bahasa yang dituliskan
dan penerapan sistim ejaan. Wacana tulis sering ditemukan pada bacaan majalah, koran,
buku, makalah , dll.
b.
Wacana
lisan
Adalah wacana yang disampaikan secara lisan ,sebagai media
komunikasi wacana lisan, wujudnya dapat berupa sebuah percakapan atau dialog
lengkap dan penggalan percakapan. Wacana lisan memiliki ciri adanya
penuturan dan mitra tutur, bahasa yang dituturkan, dan alih tutur yang menandai
giliran bicara.
Wacana lisan ini sangat produktif dalam sastra lisan seluruh tanah air, juga
dalam siaran –siaran televisi, radio, khotbah, pidato, ceramah , serta rkaman
–rekaman dalam kaset turut melestarikan wacana lisan.
v
Jenis
wacana berdasarkan langsung atau tidaknya pengungkapkan dibagi menjadi :
a. Wacana langsung atau direct dicourse
Kutipan wacana
yang sebenarnya dibtasi oleh intonasi atau pungtuasi. (Kridalaksana ,
1984 : 208 , dalam bukunya Tarigan : 2009 : 52)
contoh :
Pak guntur bercerita ,”mula- mula saya ragu
mengambil keputusan berhenti menajdi guru sgb negeri seribudolok . akan tetapi
mendengar cerita dan dorongan teman saya rajidin bangun , tekad saya telah
bulat . saya meningglakn sgb negeri seridolok bu, tempat saya bertugas selama
tiga tahun. saya berangkat ke jawa melanjutkan , melanjutkan pelajaran pada
jurusan bahasa indonesia fkip unpad bandung . setelah hidup menderita bersama
istri saya intan br. purba selama selama tiga tahun saya pun lulus ujian
sarjana muda tahun 1960 dan langsung diangkat menjadi asisten dosen.
b. Wacana tidak langsung atau indirect
discourse.
Pengungkapan kembali wacana tanpa mengutip harfiah kata-kata yng dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan kontruksi gramatikal
atau kata tertentu , antar alain dnegan klausa subordinatif , seperti kata :
bahwa , dsb. (Kridalaksana , 1984 : 208-9, dalam bukunya Tarigan : 2009 :
52)
contoh :
Pak guntur bercerita bahwa mula- mula memang dia
ragu mengambil keputusan berhenti menajdi guru sgb negeri seribudolok . akan
tetapi mendengar cerita dan dorongan tempatny bertugas selama tiga tahun. dia
berangkat ke jawa melanjutkan pelajaran pada jurusan bahasa indonesia fkip unpad
bandung . setelah hidup menderita bersama istrinya intan br. purba selama tiga
tahun dia pun lulus ujian sarjana muda tahun 1960 dan langsung diangkat menjadi
asisten dosen.
v
Jenis
wacana berdasaran cara menuturnya , diklasifikasikan atas:
a. Wacana pembeberan atau eksplository
discourse
Wacana yang tidak mementingkan waktu dan
penutur , berorientasi pada waktu pembicaraan , dan bagian lainnya diikat
secara logis. (Kridalaksana , 1984 : 208-9, dalam bukunya Tarigan : 2007
:53)
contoh :
karangan
itu memang bagus dan menarik temanya sesuai dengan tuntutan zaman , sesuai
dengan kemajuan bangsa .cara memaparkan isinya sangat sistimatis . hubungan
paragraf dengan paragraf sangat logis. bahasanya sangat baik .singkat , padat
menuju sasaran , ejaanya rapi , sesuai dengan EYD .pendek bentuk dan isi
karangan itus erasi benar .pantas saja karangan itu mendapat hadiah pertama
b. wacana
penuturan (Narattive discourse)
wacana yang mementingkan urutan waktu ,
dituturkan oleh pesona pertama atau ketiga dalam waktu tertentu , berorientasi
pada pelaku dan seluruh bagiannya diikat oleh kronologi. (Kridalaksana , 1993 :
231)
Contoh :
“ Pada pukul 05.00 WIB
, Widya bangun tidur , dengan meninggalkan sholat shubuh ia segera smsan dengan
pacarnya, setelah satu jam sibuk berpacaran melalui sms , ia pun segera mandi
dan sarapanm. Pukul 06.30 ia siap ber make-up, ssetelah usai bermake up ia siap
berangkat ke kampus . Ia sampai kampus pukul 07.30. Sesampai di Kampus ia
ternyata tak ada satui pun orang yang kuliah , tenyata hari itu merupakan
tanggal merah , akhirnya Widya pun pergi ke rumah pacarnya untuk berpacaran.(
Aizvyan,2011 :1 )dalam -http://cahyohasanudin./blopgspot-struktur –wacan –yang
–memiliki-dimiliki.html)
v
Jenis
wacana berdasarkan acuannya atau sifatnya dibagi atas:
Ø
Wacana Fiksi.
Bentuk dan isi wacana
fiksi berorientasi pada imajinasi. Biasanya, tampilan bahasanya mengandung
keindahan (estetika). Mungkin sekali wacana fiksi bersifat kenyataan, tetapi
gaya penyampaiannya indah.
Wacana fiksi
bedarsarkan bentuknya terdiri dari tiga jenis yaitu :
- Wacana Prosa, Wacana prosa adalah wacana yang
disampaikan atau ditulis dalam bentuk prosa. Wacana prosa dapat berbentuk
tulis atau lisan. Contoh : novel, cerpen, hikayat, roman, hikayat, cerita
rakyat dll
- Wacana Puisi. Wacana puisi dituturkan dalam bentuk
puisi, bisa berbentuk tulis atau lisan. Bahasa dan isinya berorentasi pada
keindahan. Contoh : Puisi nasihat, puisi jenana, lagu, tembang dan belada dll.
Contoh
pantun anak-anak :
cimen
simolah-molah
palu-palu
–i kutabuluh
adi
enggo sebenaken sekolah
mela-malu
adi la beluh
(‘mentimun
bergantung-gantung
palu
pemukul di kutabuluh
kalau sudah
dimulai sekolah
malu
kalau tidak pandai’)
- Wacana Drama. Wacana drama disampaikan dalam bentuk
drama. Biasanya, drama berbentuk percakapan atau dialog. Oleh karena itu,
dalam wacana harus ada pembicara dan yang di ajak bicara.
Contoh : A : Aku sama
sekali tidak membutuhkanmu , jadi silakan kamu pergi !
B: Aku tidak akan pergi sebelum
kamu mau memaafkanku.
Ø
Wacana Nonfiksi.
Wacana nonfiksi
adalah suatu wacana dari hasil olah pikir manusia yang melibatkan data dan
informasi nyata dan kadang menggunakan kaidah-kaiadah penulisan yang baku.
Contoh wacana nonfiksi : opini, essay, artikel dan laporan penelitian,skripsi,
dll.
v Jenis wacana
berdasarkan jumlah penutur.
a.Wacana
monolog
Adalah
jenis wacana yang dituturkan oleh satu orang. Umumnya wacana monolog tidak
menghendaki dan tidak menyediakan alokasi waktu terhadap respon pendengar.
Contoh: pidato, ceramah, presenter, dll.
b.Wacana
Dialog
Adalah wacana yang
dituturkan oleh dua orang atau lebih, wacana ini bisa berbentuk tulisan atau
lisan. Wacana dialog tulis memiliki bentuk yang sama dengan wacana drama (
misal : skenario ketoprak, naskah drama ,dll).
v Jenis Wacana Berdasarkan Eksistensi
Wacana
Djajasudarma (2006) membedakan wacana
berdasarkan eksistensinya. Dalam hal ini Djajasudarma memandang bahwa wacana
merupakan bahasa yang digunakan dalam pembicaraan. Sehingga Djajasudarma
menggolongkan eksistensi wacana menjadi wacana verbal dan nonverbal.
(Djajasudarma (2006) dalam eprints.uny.ac.id/8341/3/BAB%202-06204241001.pdf)
a.
Wacana verbal
Dapat diidentikkan dengan
kelengkapan struktur bahasa. Struktur bahasa yang dimaksud adalah bagaimana
menggunakan fonem, morfem, frasa, dan kalimat dalam berbahasa, baik menyangkut
bahasa tertulis maupun secara lisan. Jadi struktur kebahasaan yang disampaikan
secara verbal dan memenuhi kriteria sebagai wacana, memiliki awal dan akhir
yang jelas, dapat dianggap sebagai wacana verbal.
b.Wacana
nonverbal
Adalah wacana yang terdiri
dari unsur-unsur nonkebahasaan. Unsur-unsur nonkebahasaan ini sering juga disebut
bahasa tubuh (body language). Wacana jenis ini disebut bahasa tubuh
karena penutur berkomunikasi dengan mitra tuturnya dengan memainkan anggota
tubuh. Wacana nonverbal juga dapat berupa simbol-simbol umum yang telah menjadi
kesepakatan masyarakat yang menjadi pendukung wacana tersebut. Simbol-simbol
tersebut seperti tanda-tanda rambu lalu lintas atau bunyi-bunyi yang dihasilkan
melalui kentongan.
Suatu fenomena yang sangat umum
terjadi dalam suatu wacana adalah kombinasi antara wacana verbal dan nonverbal.
Bila kita cermati wacana-wacana dalam bentuk khotbah, sastra lisan, pantun,
drama, puisi dan lainnya, penyampaiannya adalah dalam bentuk kombinasi antara
wacana verbal dan nonverbal. Ketika seorang berbicara, anggota tubuhnya seperti
tangan, mata, dan kepala senantiasi bergerak mengikuti nada suara, dan situasi
psikologinya. Semakin memuncak emosi seseorang, semakin cepat pula gerakan
anggota tubuhnya. (eprints.uny.ac.id/8341/3/BAB%202-06204241001.pdf)
BAB III
ANALISIS DATA
Dari landasan teori tersebut terdapat berbagai
macam jenis-jenis wacana dilihat dari sudut pandangnya, karena beberapa para
ahli meninjau jenis-jenis wacana berbeda-beda.
Jenis –jenis wacana tersebut antara lain apabila di klasifikasikan yaitu
: jenis –jenis wacana berdasarkan tujuan pemaparanya, jenis wacana berdasarkan
media penyampaian, jenis wacana berdasarkan jumlah penuturnya,jenis wacana
berdasarkan acuan atau sifatnya, jenis wacana berdasarkan langsung atau
tidaknya pengungkapan, jenis wacana berdasarkan cara penuturannya, jenis wacana
berdasarkan eksitensinya.
Agar
kami mengarah dan fokus pada sasaran objek analisis maka kami menganalisis
jenis wacana berdasarkan tujuan pemaparanya yaitu jenis wacana persuasif. Di
dalam makalah ini kami menganalisis wacana persuasif berupa iklan tentang
pendidikan.
Iklan
adalah sebuah karya kreatif yang menggunakan media visual, audio, audio visual
dan media verbal. Dengan media verbal manipulasi kata-kata dan ungkapan
seringkali dilakukan secara leluasa sehingga dalam beberapa hal ada
kecenderungan melanggar kaidah kebahasaan yang berlaku. (Sugiono: 2009) Wreight
(dalam Mulyana, 2005:63- 64) menambahkan bahwa iklan merupakan proses
berkomunikasi yang mempunyai kekuatan penting sebagai sarana pemasaran,membantu
layanan,serta gagasan dan ide-ide melalui saluran tertentu dalam bentuk
informasi yang bersifat persuasif.
(Sugiono: 2009) Wreight (dalam Mulyana, 2005:63- 64) dalam http://digilib.ump.ac.id/download.php?id=864)
Alwi
dkk. (2005:421) menyebutkan bahwa iklan adalah (a) berita pesanan untuk
mendorong,membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang
ditawarkan, (b) pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang
dijual,
dipasang
di dalam media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat umum.
Moeliono,
(peny) (2007:471) menyebutkan bahwa iklan adalah (a) berita atau jasa yang
ditawarkan, (b) pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang
dijual, dipasang di dalam media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di
tempat
umum.
(Alwi dkk. (2005:421) dalam http://digilib.ump.ac.id/download.php?id=864)
è Dari definisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa iklan adalah pesan yang menawarkan suatu barang atau jasa yang ditujukan
kepada masyarakat melalui suatu media.
·
Tujuan
Iklan
Produsen
di dalam membuat iklan mempunyai beberapa tujuan (Susanto, 1989:213). Adapun
tujuan iklan adalah sebagai berikut:
a.
Menyadarkan komunikan dan memberi informasi tentang suatu barang, jasa, atau
ide.
b.
Menimbulkan dalam diri komunikan suatu perasaan suka akan barang, jasa ataupun
ide yang disajikan dengan memberikan preferensi kepadanya.
c. Meyakinkan
komunikan akan kebenaran sesuatu yang dianjurkan dalam iklan dan menggerakkan
mereka untuk berusaha memiliki atau menggunakan barang atau jasa yang
dianjurkan.
(Susanto,
1989:213). dalam http://digilib.ump.ac.id/download.php?id=864)
Analisis 1.:

Dalam makalah ini kami menganalisis Iklan media
cetak yang berupa media visual. Dalam iklan tersebut produsen memberikan jasa
kepada komunikan untuk mengikuti bimbingan belajar intensif yang dibuka
pada tanggal 14 Juni 2012 (Penuh) untuk
gelombang ke 3 dan gelombang ke 4 pada tanggal 18 juni 2012 (dibuka) dalam
iklan tersebut memberikan makna bahwa pada tanggal 14 Juni 2012 itu pendaftaran
sudah penuh sehingga penerima pesan (komunikan) agar bisa segara daftar sebelum
tanggal 14 juni 2012. Kemudian pendaftaran dibuka kembali pada gelombang ke 4
yaitu tanggal 18 juni 2012, dengan maksud komunikator memberikan kesempatan
lagi untuk komunikan agar dapat mendaftar kembali.
Yang menjadi acuan dalam iklan tersebut, agar
komunikan merasa tertarik ialah dengan menyediakan Free internet berupa hotspot
(wifi) atau internet bebas. Dengan mencantumkan kata Free internet
berupa hotspot (wifi) di dalam iklan , seseorang akan merasa tertarik.
Selain itu komunikator juga mencantumkan Call
center dengan tujuan agar komunikan
dapat lebih mudah menghubungi pihak bimbingan belajar intensif STAN,
misalkan bertanya lebih lanjut tentang pendaftaran bimbingan belajar intensif.
Investasi Rp 550.000 , yang dimaksud investasi Rp 550.000
komunikator memberikan maksud kepada komunikan , bahwa bimbingan belajar
intensif tersebut memberikan investasi sebesar Rp.550.000.
MasterPrima,Masternya Bimbingan Belajar, Komunikator memberikan slogan MasterPrima,Masternya
Bimbingan Belajar dengan maksud agar komunikan merasa yakin dan tertarik
dengan adanya slogan yang di cantumkan
dalam iklan tersebutm Kata Master dalam KBBI orang yang memimpin, orang yang
paling tinggi. Kata master pun tidak
asing lagi untuk didengar. Sehingga komunikator memberikan slogan tersebut
ingin menunjukkan dan meyakinkan kepada komunikan bahwa bimbingan belajar
intensif STAN ialah bimbingan belajar
yang berkwalitas dan bermutu untuk peserta didik.
Memberikan gambar atau foto pada iklan juga
membuat iklan lebih menarik. komunikator dalam memberikan foto pada iklan
tentunya sesuai dengan tema yang di iklankan .Pada iklan tersebut komunikator
memberikan gambar atau foto seorang siswa yang berseragam , membawa buku dan
terdapat leptop .Hal ini dengan komunikator memberikan penegasan untuk
lebih meyakinkan dan memberikan ketertarikan untuk memikat hati (emosi) kepada
komunikan bahwa bimbingan belajar tersebut digunakan untuk seorang pelajar
bukan seorang non pelajar.
èDari analisis wacana persuasif diatas dapat
disimpulkan bahwa komunikator memberikan pengaruh kepada komunikan agar mereka
segera daftar untuk bimbingan belajar intensif
di STAN. Karena dengan belajar bimbingan di STAN akan mencetak siswa
yang cerdas dan berkwalitas
BAB VI
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil analisis
kami, diperoleh kesimpulan bahwa wacana merupakan suatu komunikasi yang berupa
deretan kalimat, frase , klausa , morfem atau tanda yang berkesinambungan yang
terdiri dari awal, tubuh dan penutup . setiap bagian memiliki isi dan fungsi.
Bagian awal berisi tema atau masalh pokok permasalahan. Pada wacana tulis
bagian ini tampak pada bagian judul atau pengantar wacana yang berfungsi untuk
mengikat pemabaca. Bagian tubuh wacana berisi paparan pokok masalah yang ingin
disampaikan, berfungsi menyampaikan pesan atau inti wacana. Bagian penutup
berisi kesimpulan dari keseluruhan pesan dan berupaya meringkas seluruh teks
dengan tujuan penulis dan berfungsi mengulang atau menegaskan bagian tubuh
wacana.
Dari hasil analisis
kami menganalisis dua wacana ,yaitu :
Yang pertama analisis
wacana berbentuk iklan berupa media cetak yang cara penyampainnya secara tertulis.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan
Henry Guntur.1987.Pengajaran wacana. Bandung: Penerbit Angkasa.
Alwi, dkk (2003:42) ,Tarigan
(dalam Djajasudarma, 1994:5).Syamsuddin (1992:5)
(Sumarlam,
2003 : 17 dalam
ejournal.umm.ac.id/index.php/.../1349_umm_scientific_journal.pdf ).
(Djajasudarma (2006) dalam eprints.uny.ac.id/8341/3/BAB%202-06204241001.pdf)
(eprints.uny.ac.id/8341/3/BAB%202-06204241001.pdf)
(Alwi dkk. (2005:421)
dalam http://digilib.ump.ac.id/download.php?id=864)
(Sugiono: 2009) Wreight (dalam Mulyana, 2005:63- 64) dalam http://digilib.ump.ac.id/download.php?id=864)
( Aizvyan,2011 :1,
dalam -http://cahyohasanudin./blopgspot-struktur –wacan –yang
–memiliki-dimiliki.html)
(Kridalaksana , 1993 :
23, dalam -http://cahyohasanudin./blopgspot-struktur –wacan –yang
–memiliki-dimiliki.html)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar