ANALISIS
WACANA (TEORI VAN DJIK DALAM KAJIAN TEKS PEMBERITAAN JULIA PEREZ “ANCAM DEMO
TELANJANG” OLEH GALAMEDIA)
Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi
tugas
Mata kuliah Wacana

KELOMPOK 9
1.
Ana
Faizatuz Zuhroh (126766)
2.
Indah
Sulistiyorini (126)
3.
Mahmud
Zein (126)
4.
Evi
Nur Patmawati (126)
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA 2012-B
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
JOMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Wacana adalah proses pengembangan komunikasi
yang menggunakan simbol-simbol dan peristiwa-peristiwa di dalam sistem
kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana pesan-pesan komunikasi,
seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain, ditentukan oleh
orang-orang yang menggunakannya, misalnya konteks peristiwa yang berkenaan
dengannya, situasi masyarakat luas yang melatar belakangi keberadaannya, dan
lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai, ideologi, emosi, dan
kepentingan-kepentingan. Jadi, analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan
ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis)
yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan
diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna dari sang penulis
sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana
dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan
terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.
Pemahaman mendasar analisis wacana
adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa. Bahasa
tentu digunakan untuk menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam
pengertian linguistik tradisional. Bahasa dalam analisis wacana kritis selain
pada teks juga pada konteks bahasa sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan
praktik tertentu termasuk praktik ideologi. Analisis wacana kritis dalam
lapangan psikologi sosial di-artikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud
disini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari
pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana kritis adalah
praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek
sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap
didalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana kritis.
Analisis wacana (atau yang juga disebut analisis wacana kritis) adalah
pendekatan yang relative baru dari sistematika pengetahuan yang timbul dari
tradisi teori sosial dan analisis linguistik yang kritis.
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas
beberapa struktur/tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia
membaginya kedalam 3 tingkatan. Petama, struktur makro. Ini merupaka makna
global/umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema
yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan
struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka sutau teks, bagaimana
bagian-bagian teks tersusun kedalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro.
Adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni
kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase, dan gambar.
Topik yang saya ambil dalam analisis ini yaitu
mengenai teks pemberitaan Julia Perez “Ancam Demo Telanjang” oleh Galamedia
edisi kamis 24 Februari 2011 dengan memakai konsep analisis wacana kritis yang
dikembangkan oleh Teun Van Djik. Alasan saya memilih konsep Van Dijk ini karena buah
pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen dan
unsur-unsur wacana. Selain itu,
model analisis wacana kritis ini terkesan mendapat tempat tersendiri di
kalangan analis wacana kritis.
Kajian ini menarik karena bersinggungan dengan
berbagai aspek. Adapun aspek yang saya kaji dan analisa yaitu dari aspek
obyektifitas dan ideologi yang terkandung dalam pemberitaan media cetak
tersebut.
Analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini,
adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (penulis) yang
mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri
pada posisi sang penulis dengan mengikuti struktur makna dari sang penulis
sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana
dapat di ketahui.Untuk masyarakat, agar mengetahui
bagaimana sebuah berita diproduksi sehingga diharapkan dapat lebih kritis dan
selektif dalam memahami berita yang disajikan oleh sebuah media tidak selalu
bersifat netral.
Menurut Littejohn, antar bagian teks dan
model van Dijk dilihat saling mendukung, mengandung arti yang koheren satu sama
lain. Hal ini karena semua teks dipandang van dijk memiliki suatu aturan yang
dapat dilihat sebagai suatu piramida. Makna global dari suatu teks didukung
oleh kata, kalimat dan proposisi yang dipakai. Pertanyaan/tema pada level umum
didukung oleh pilihan kata, kalimat atau retorika tertentu. Proses ini membantu
peneliti untuk mengamati bagaimana suatu teks terbangun oleh elemen-elemen yang
lebih kecil. Skema ini juga memberikan peta untuk mempelajari suatu teks. Kita
tidak hanya mengerti apa isi dari suatu teks berita, tetapi juga elemen yang
membentuk teks berita, kata, kalimat, paragraf, dan proposisi. Kita tidak hanya
mengetahui apa yang diliput oleh media, tetapi juga bagaimana media
mengungkapkan peristiwa kedalam pilihan bahasa tertentu dan bagaimana itu
diungkapkan lewat retorika tertentu.
Pemakaian kata, kalimat, proposisi,
retorika tertentu oleh media dipahami van Dijk sebagai bagian dari strategi
wartawan. Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan
semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi, tetapi dipandang sebagai
politik berkomunikasi, suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan
dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau penentang.
Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan
persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan. Kata-kata
tertentu mungkin dipilih untuk mempertegas pilihan dan sikap, membentuk
kesadaran politik, dan sebagainya.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
analisis wacana pada teks pemberitaan Julia Perez “Ancam Demo Telanjang”
oleh Galamedia edisi kamis 24 Februari 2011 melalui teori Van Djik?
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui analisis wacana pada teks pemberitaan Julia Perez “Ancam
Demo Telanjang” oleh Galamedia edisi kamis 24 Februari 2011 melalui teori Van
Djik
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Definisi
Wacana dan Analisis Wacana
Wacana merupakan satuan bahasa
berdasarkan kata yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial.
Satuan bahasa itu merupakan deretan kata atau ujaran. Wacana dapat berbentuk
lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam
peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses
komunikasi antara penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis,
wacana dapat dlihat sebagai hasil dari pengungkapan idea/gagasan penyapa.
Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis
wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang
digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Bagaimana Terbentuknya Wacana.
Penggunaan bahasa berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun
wacana dapat berupa satu kata atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kata
atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan
(unity) dan kepaduan (coherent). Wacana dikatakan utuh apabila kata-kata dalam
wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana
dikatakan padu apabila kata-katanya disusun secara teratur dan sistematik
sehingga menunjukkan kebenaran ide yang diungkapkan. Analisis wacana di dalam ilmu
komunikasi bersumber dari pemikiran Marxis Kritis. (Stephen W. Littlejohn,
2002; Stanley J. Baran and Denis K. Davis, 2000). Ada tiga aliran pemikiran yang
termasuk ke dalam kategori ini, iaitu: (1). Aliran Frankfurt (Frankfurt
School); (2). Pengajian Budaya (Cultural Studies); (3). Pengajian Wanita
(Feminist Study). (Stephen W. Littlejohn, 2002).
Istilah analisis wacana adalah istilah
umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian.
Meskipun ada gradasi yang besardari berbagai definisi, titik singgungnya adalah
analisis wacanaa berhubungan dengan studi mengenai bahasa/pemakaian bahasa.
Bagaimana bahasa dipandang dalam analisis wacana? Disini ada beberapa perbedaan
pandangan. Mohammad A. S. Hikam dalam suatu tulisannya telah membahas dengan
baik perbedaan paradigma analisis wacanaa dalam melihat bahasa ini yang akan
diringkas sebagai berikut.Paling tidak ada tiga pandangan mengeneai bahasa
dalam analisis wacanaa. Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivme-empiris. Oleh kaum ini , bahasa dilihat sebagai
jembatan antara manusia dengan objek diluar dirinya. Pengalaman-pengalaman
manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa
tanpa ada kendala atau distorsi, sejauh ia dinyatakan dengan
memakaipenyataan-pernyataan yang logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan
pengalaman empiris.
Salah satu cirri daripemikiran ini
adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas. Dalam kaitannya dengan analisis
wacanaa, konsekuensi logis dari pemahaman ini orangtidak perlu mengetahui
makna-makna subjektif ataunilaiyangmendasari pernyataannya, sebab yang penting
adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut kaidah sintaksis
dan semantik. Oleh karena itu tata bahasa, kebenaran sintaksis adalah bidang
utama dari aliranpositivme-empiris tentang
wacanaa. Analisis wacanaa dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat,
bahasa, dan pengertian bersama. Wacanaa lantas diukur dengan pertimbangan
kebenaran/ketidakbenaran (menurut sintaksis dan semantik). Pandangan kedua, disebut sebagai konstruktivisme.
Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh
pemikiran fenomenologi. Aliran ini menolak pandangan empirisme/positivisme yang
memisahkan subjek dan objek bahasa. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa
tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka
dan yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan. Konstruktivisme
justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacanaa serta
hubungan-hubungan sosialnya. Dalam hal ini, seperti dikatakan A.S. Hikam,
subjek memiliki kemampuan-kemampuan melakukan control terhadap maksud-maksud
tertentu dalam setiap wacanaa. Bahasa dipahami dalam paradigm ini diatur dan
dihidupkan oleh pernyatan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada
dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri
serta pengungkapan jati diri dari sang pembicara. Oleh karena itu, analisis
wacanaa dimaksudkan sebagai suatu analisis untuk membonhgkar maksud-maksud dan
makna-makna tertentu. Wacanaa adalah suatu upaya pengungkapan maksud
tersembunyi dari sang subjek yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan
itu dilakukan diantaranya dengan memnempatkan diri pada posisi sang pembicara
dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara.
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Pandangan ini
ingin mengoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitive pada proses
produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun
institusional. Seperti ditulis A.S. Hikam, pandangan konstruktivisme masih
belummenganalisis faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap
wacanaa, yang pada gilirannya berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek
tertentu berikut perilaku-perilakunya. Hal inilah yang melahirkan paradigm
kritis. Analisis wacanaa tidak dipusatkan pada kebenaran/ketidakbenaran
struktur tata bahasa atau proses penafsiran seperti pada analisis
konstruktivisme. Analisis wacanaa dalam paradigm ini menekankan pada konstelasi
kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu tidak
dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai
dengan pikirannya, karena sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh kekuatan
sosial yang ada dalam masyarakat. bahasa disini tidak difahami sebagai medium
netral yang terletak diluar diri si pembicara.
Bahasa dalam pandangan kritis dipahami
sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema
wacana tertentu, maupun strategi didalamnya. Oleh karena itu, analisis wacanaa
dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa:
batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacanaa, perspektif yang merti
dipakai, topic apa yang dibicarakan. Dengan pandangan semacam ini, wacanaa
melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam
pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam
masyarakat. karena memakai perpektif kritis, analisis wacanaa kategori ketiga
itu juga disebut sebagai analisis wacanaa kritis (Critical Discourse
Analysis/CDA). Ini untuk membedakan dengan analisis wacanaa dalam kategori
yang pertama atau kedua (Discourse Analysis). Analisis wacana muncul sebagai suatu
reaksi terhadap linguistik murni yang tidak bisa mengungkap hakikat bahasa
secara sempurna. Dalam hal ini para pakar analisis wacana mencoba untuk
memberikan alternative dalam memahami hakikat bahasa tersebut. Analisis wacana
mengkaji bahasa secara terpadu, dalam arti tidak terpisah-pisah seperti dalam
linguistik, semua unsure bahasa terikat pada konteks pemakaian. Oleh karena
itu, analisis wacana sangat penting untuk memahamihakikat bahsa dan perilaku
berbahasa termasuk belajar bahasa.
Analisis wacana adalah suatu disiplin
ilmu yang berusaha mengkaji penggunaan bahasa yang nyata dalam komunikasi.
Stubbs (1983:1) mengatakan bahwa analisis wacana merupakan suatu kajian yang
meneliti dan menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik lisan
maupun tulis, misalnya pemakaian bahasa dalam komunikasi sehari-hari.
Selanjutnya stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankankajiannya pada
penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam penggunaan bahasa antar
penutur. Jadi jelasnya analisis wacan bertujuan untuk mencari keteraturan bukan
kaidah. Yang dimaksud dengan keteraturan, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan
keberterimaan penggunaan bahasa di masyarakatsecara realita dan cenderung tidak
merumuskan kaidah bahasa seperti dalam tata bahasa. Kartomiharjo (1999:21)
mengungkap bahwa analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan
untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat.
Analisis wacana lazim digunakan untuk menemukan makna wacana yang persis sama
atau paling tidak sangat ketat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara dalam
wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis.
B.
Teori
Kognisi Sosial Teun A. Van Djik
Dari begitu banyak model analisis wacana
yang diintoduksikan dan dikembangkan oleh beberapa ahli, model van Dijk adalah
model yang paling banyak dipakai. Hal ini mungkin disebabkan karena van Dijk
menformulasikan elemen-elemen wacana, sehingga bisa dipakai secara praktis.
Model yang dipakai oleh van Dijk ini sering disebut sebagai “kognisi sosial”
(Eriyanto 2001:221). Menurut van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya
didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu
praktik produksi yang harus juga diamati. Di sini harus dilihat juga bagaimana
suatu teks diproduksi. Proses produksi itu melibatkan suatu proses yang disebut
sebagai kognisi sosial. Teks dibentuk dalam suatu praktik diskursus, suatu
praktik wacana. Di sini ada dua bagian, yaitu teks yang mikro yang merepresentasikan
suatu topik permasalahan dalam berita, dan elemen besar berupa struktur sosial.
van Dijk membuat suatu jembatan yang menghubungkan elemen besar berupa struktur
sosial tersebut dengan elemen wacana yang mikro dengan sebuah dimensi yang
dinamakan kognisi sosial. Kognisi sosial tersebut mempunyai dua arti. Di satu
sisi ia menunjukkan bagaimana proses teks tersebut diproduksi oleh wartawan/
media, di sisi lain ia menggambarkan nilai-nilai masyarakat itu menyebar dan
diserap oleh kognisi wartawan dan akhirnya digunakan untuk membuat teks berita
(Eriyanto 2001:222).
Dalam buku Eriyanto, Van Dijk melihat
bagaimana struktur sosial, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam
masyarakat dan bagaimana kognisi/ pikiran dan kesadaran membentuk dan
berpengaruh terhadap teks tertentu. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai
tiga dimensi/ bangunan : teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti
analisis van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam
satu kesatuan analisis. Dalam dimensi teks yang pertama, yang diteliti adalah
bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu
tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita
yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan aspek ketiga
mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu
masalah. Ketiga dimensi ini merupakan bagian yang integral dan dilakukan secara
bersama-sama dalam analisis Van Dijk (Eriyanto 2001:225).
Ø Teks
Van Dijk membagi struktur teks ke dalam
tiga tingkatan. Pertama, struktur
makro. Ini merupakan makna global/ umum dari suatu teks yang dapat diamati
dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan
struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka atau skema suatu teks,
bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga,struktur
mikro adalah makna wacana
yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat,
parafrase dan lain-lain.
Meskipun terdiri atas berbagai elemen,
semua elemen tersebut merupakan satu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung
satu sama lainnya. Makna global dari suatu teks (tema) didukung oleh kerangka
teks dan baru kemudian pilihan kata dan kalimat yang dipakai. Kita bisa membuat
pemberitaan tentang demonstrasi mahasiswa terhadap isu kenaikan BBM. Misalnya,
Koran A mengatakan bahwa aksi ini terjadi karena kekecewaan mahasiswa dan
masyarakat terhadap kenaikan harga BBM semata tanpa ada motif atau tuntutan
yang lain.
Tema ini akan didukung dengan skematik
tertentu. Misalnya dengan menyusun cerita yang mendukung gagasan tersebut.
Media tersebut juga akan menutupi fakta tertentu dan hanya akan menjelaskan
peristiwa itu semata pada masalah BBM. Pada tingkat yang lebih rendah, akan
dijumpai pemakaian kata-kata yang menunjuk dan memperkuat pesan bahwa
demonstrasi tersebut semata kasus kenaikan harga. Semua teks dipandang van Dijk
mempunyai suatu aturan yang dapat dilihat sebagai sebuah piramida. Makna global
dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat, dan proposisi yang dipakai.
Pernyataan atau tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat, atau
retorika tertentu. Pemakaian kata, kalimat, proposisi, retorika tertentu oleh
media dipahami van Dijk sebagai bagian dari strategi wartawan.
Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat,
gaya tertentu bukan semata dipandang sebagai cara berkomunikasi melainkan
sebagai politik berkomunikasi, suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum,
menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau
penentang. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses
retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan.
Berikut ini akan dijelaskan satu per satu elemen dalam teks. Kalau digambarkan
maka struktur teks adalah sebagai berikut:
|
Struktur
Makro
Makna
global dari suatu teks yang dapat diamati
Dari
topic/tema yang diangkat oleh suatu teks
|
|
Superstruktur
Kerangka
suatu teks, seperti bagian pendahuluan,
Isi,
penutup, dan kesimpulan
|
|
Struktur
Mikro
Makna
lokal dari suatu teks yang dapat diamati
Dari
pilihan kata, kalimat dan gaya
yang
dipakai oleh suatu teks
|
1.
Struktrur makro (thematic
structure)
Struktur makro merupakan makna global sebuh teks yang
dapat dipahami melalui topiknya. Topik direpresentasikan ke dalam suatu atau
beberapa kalimat yang merupakan gagasan utama/ide pokok wacana. Topik juga
dikatakan sebagai “semantic macrostructure” (van Dijk, 1985:69).
Makrostruktur ini dikatakan sebagai semantik karena ketika kita berbicara tentang
topik atau tema dalam sebuah teks, kita akan berhadapan dengan makna dan
refrensi.
2.
Superstruktur (superstructure)
Superstruktur
merupakan struktur yang digunakan untuk mendeskripsikan sehemata, di
mana keseluruhan topik atau isi global berita diselipkan. Superstruktur ini
mengorganisikan topik dengan cara menyusun kalimat atau unit-unit beritanya
berdasarkan urutan atau hiraki yang diinginkan. Teks
atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir.
Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan
diurutkan sehingga membentuk kesatuan arti. Meskipun mempunyai bentuk dan skema
yang beragam, berita umumnya mempunyai dua kategori skema besar. Pertama, summary yang biasanya ditandai dengan dua
elemen yakni judul dan lead. Elemen skema ini merupakan elemen yang dipandang
paling penting. Judul umumnya menunjukkan tema yang ingin ditampilkan oleh
wartawan dalam pemberitaannya. Lead umumnya sebagai pengantar ringkasan apa
yang ingin dikatakan sebelum masuk dalam isi berita secara lengkap. Kedua, story yakni isi berita secara keseluruhan.
Isi berita ini juga mempunyai dua subkategori. Yang pertama berupa situasi
yakni proses atau jalannya peristiwa, sedang yang kedua komentar yang
ditampilkan dalam teks.
Subkategori
situasi yang menggambarkan kisah suatu peristiwa umumnya terdiri atas dua
bagian. Yang pertama mengenai episode atau kisah utama dari peristiwa tersebut,
dan yang kedua latar untuk mendukung episode yang disajikan kepada khalayak.
Misalnya berita tentang konser Dewi Persik yang batal diselenggarakan karena
mendapat protes dan kecaman keras dari masyarakat. Episode ini umumnya juga
akan didukung oleh latar, misalnya, dengan mengatakan ini pembatalan konser
Dewi Persik yang kesekian kali. Dengan demikian, latar umumnya dipakai untuk
memberi konteks agar suatu peristiwa lebih jelas ketika disampaikan kepada
khalayak.
Sedangkan
subkategori komentar yang menggambarkan bagaimana pihak-pihak yang terlibat
memberikan komentar atas suatu peristiwa terdiri atas dua bagian. Pertama,
reaksi atau komentar verbal dari tokoh yang dikutip wartawan. Kedua, kesimpulan
yang diambil oleh wartawan dari komentar beberapa tokoh. Menurut van Dijk, arti
penting dari skematik adalah strategi wartawan untuk mendukung topik tertentu
yang ingin disampaikan dengan menyusun bagian-bagian dengan urutan-urutan
tertentu. Skematik memberikan tekanan mana yang didahulukan, dan bagian mana
yang disembunyikan. Upaya penyembunyian itu dilakukan dengan menempatkan di
bagian akhir agar terkesan kurang menonjol.
3. Struktur
Mikro
Struktur mikro adalah struktur wacana itu sendiri yang
terdiri atas beberapa elemen, yaitu:
1) Elemen
sintaksis
Elemen sintaksis merupakan salah satu elemen penting
yang dimaanfaatkan untuk mengimplikasikan ideologi. Dengan kata lain, melalui
struktur sintaksis tertentu, pembaca dapat menangkap maksud yang ada dibalik
kalimat-kalimat dalam berita. Melalui struktur sintaksis, wartawan dapat
menggambarkan aktor atau peristiwa tertentu secara negafit maupun posifit.
a. Koherensi
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarakata,
atau kalimat dalam teks, Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda
dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Proposisi “demontrasi mahasiswa” dan
“nilai tukar rupian melemah” adalah dua buah fakfa yang bernilai. Dua buah
proposisi itu menjadi berhubung sebab-akibat ketika ia dihubungkan dengan kata
hubung “mengakibatkan” sehingga kalimatnya menjadi “Demontrasi” mahasiswa
mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah. Dua buah kalimat itu menjadi tidak
berhubungan ketika dipakai kata hubung “dan”. Kalimatnya kemudian menjadi
“Demonstrasi mahasiswa dan nilai tukar rupiah melemah”. Dalam kalimat ini,
antara fakta banyaknya demonstrasi dan nilia tukar rupiah dipandang tidak saling
berhubungan, kalimat satu tidak menjelaskan kalimat lain atau menjadi penyebab
kalimat lain.
b. Koherensi
Kondisional
Koherensi Kondisianal diantaranya ditandai dengan
pemakian anak kalimat sebagai penjelas. Di sini ada dua kalimat,di mana kalimat
kedua adalah penjelas atau keterangan dari proposisi pertama, yang dihubungkan
dengan kata hubung konjungsi, seperti “yang” atau “dimana”. Kalimat kedua
fungsinya hanya sebagai penjelas (anak kalimat), sehingga ada atau tidak anak
kalimat itu,tidak akan mengurangi arti kalimat. Anak kalimat itu menjadi cermin
kepentingam komunikator karena ia dapat memberi keterangan yang baik/buruk
terhadap suatu pertanyaan. Seperti dalam sebuah kalimat “PSSI, yang selalu
kalah dalam pertandingan internasional. Tidak jadi dikirim ke Asian Games”.
Arti kalimat tersebut tidak akan berubah jika seandainya diubah menjadi “PSSI
tidak jadi dikirim ke Asean Games”. Anak kalimat “yang selalu kalah dalam
pertandingan” selain menjadi penjelas juga bermakna ejekan terhadap PSSI.
c. Koherensi
pembeda
Jika koherensi kondisional berhubungan dengan
pertanyaan bagaimana dua peristiwa dihubungkan/dijelaskan. Koherensi pembeda
berhubungan dengan pertanyaan, bagaimana dua buah peristiwa atau fakta itu
hendak dibedakan. Seperti mengenai kebebasan pers di ers Gus Dur, pada era Gus
Dur kebebasan pers dijamin, namun terjadi peristiwa penduduk banser terhadap
harian jawa post hingga menyebabkan koran tersebut tidak bisa terbit. Dua buah
peristiwa itu terpisah, tidak berhubungan, juga tidk menyulut peristiwa lain.
Akan tetapi, kedua masalah tersebut bisa dibuat berhubungan dengan cara membuat
satu peristiwa sebagai kebalikan/kontras dari peristiwa lain. Dalam contoh
kasus tersebut, bisa saja dikatakan alangkah berbedanya masa pemerintahan Habibie
dan Gus Dur, atau pemerintah Habibie lebih baik dari pada pemerintah Gus Dur.
d. Pengingkaran
Elemen wacana pengingkaran adalah bentuk praktik
wacana yang menggambarkan bagai mana wartawan menyembunyikan apa yang anggin
diekpresikan secara amplisit. Penginakaran ini menunjukkan seolah wartawan
menyetujui sesuatu, pahal ia tidak setuju dengan memberikan argumentasi atau
fakta yang menyangkal persetujuannya tersebut.
e. Bentuk kalimat
Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan
dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Di mana ia menyatakan
apakah A yang menjelaskan B, atau B yang menjelaskan A. Logika kausalitas ini
jika diperjemahkan ke dalam bahasa menjadi susunan objek (diterangkan) dan
predikat (menerangkan). Bentuk lain adalah dengan pemakian urutan kata-kata
yang mempunyai dua fungsi sekaligus. Pertam, menekankan atau menghilangkan
dengan penempatan dan pemakian kata atau frase yang mencolok dengan menggunakan
pemakian semantik. Yang juga penting dalam sintaksis selain bentuk kalimat
adalah posisi proposisi dalam kalimat. Bagaiman proposisi-proposisi diatur
dalam satu rangkaian kalimat. Termasuk ke dalam bagian bentuk kalimat ini
adalah apakah berita itu memakai bentuk deduktif atau indukfit. Dedukfit adalah
bentuk penulisan kalimat dimana inti kalimat (umum) ditempatkan di bagian
mukak, kemudian disusul dengan keterangan tambahan (khusus). Sebaliknya, bentuk
induktif adalah bentuk penulisan di mana inti kilimat ditempatkan di akhir
setelah keterangan tambahan.
f. Kata
Ganti
Elemen kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi
bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imanjinatif. Kata ganti merupakan
alat yang dipakai oleh komunikator untuk menujukkan di mana posisi seseorang
dalam wacana. Dalam mengungkapkan sikapnya, seseoarang dapat menggunakan “kami”
atau “saya” yang menggambarkan bahwa sikap tersebut merupakan sikap resmi
komunikator. Namun, ketika menggunakan kata ganti “kita”, sikap tersebut sebagai
representasi dari sikap bersama dalam suatu komunitas tersebut. pemakian kata
ganti yang jamak seperti “kita” (atau“kami”)http://sastrawanmania.blogspot.com/2012/01/analisis-wacana-vandijk.html mempunyai
implikasi menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian, yang pada dasarnya
merupakan upaya merangkul dan menghilangkan oposisi yang ada. Pemakian kata
ganti “kita” menciptakan komunitas antara wartawan dan para pembaca.
2) Elemen
Semantik (makna lokal)
Elemen semantik ini sangat erat
hubunganya dengan elemen leksikon dan sintaksis sebab penggunaan leksikon dan
struktur sintaksis tertentu dalam berita dapat memunculkan makna tertentu.
Berikut ini adalah unsur-unsur wacana yang tergolong ke dalam elemen semantik.
1. Latar
Latar merupakan bagian berita yang dapat mengpengaruhi
semantik (arti) yang inggin ditampilkan. Latar dapat menjadi alasan pembenar
gagasan yang diajukan dalam suatu teks (Eriyanto, 2006.235). oleh karena itu,
latar teks merupakan elemen yang berguna karena dapat membongkar apa maksud
yang inggin disampaikan oleh wartawan. Latar peristiwa itu dipakai untuk
menyediakan dasar hendak ke mana teks dibawah.
2. Detil
Elemen wacana detil berhunungan dengan kontrol
informasi yang ditampilkan seseorang (Eriyanto, 2006: 238). Detil yang lengkap
dan panjang merupakan penonjolan yang dilakukan secara sengaja untuk
menciptakan citra tertentu kepada khalayak. Detil yang lengkap itu akan
dihilangkan kalau berhubungan dengan sesuatu yang menyangkut kelemahan atau
kegagalan komunikator.
3. Maksud
Elemen wacana maksud hampir sama dengan detil, hanya
saja elemen maksud meliat informasi yang menguntungkan komunikator akan
diuraikan secara eksplisit dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan
diuraikan secara tersamar, implisit, dan tersembunyi.
4. Pranggapan
Elemen wacana pranggapan merupakan pertanyaan yang
digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Pranggapan adalah upaya mendukung
pendapat dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya. Pranggapan hadir
dengan pernyataan yang dipandang terpercaya sehingga tidk perlu dipertanyakan.
Seperti dalam suatu domonstrasi mahasiswa. Seseorang yang setuju dengan gerakan
mahasiswa akan memakai praanggapan berupa pernyataan “perjuangan mahasiswa
menyuarakan hati nurani rakyat”. Pernyataan ini merupakan suatu
premis dasar yang akan menentukan proposisi dukunganya terhadap gerakan
mahasiswa pada kalimat berikutnya.
3) Elemen
leksikon
Elemen leksikom menyangkut pemilihan diksi. Pemilihan
diksi telah diketahui dapat mengeskspresikan idiologi maupun persuai,
sebagaimana yang terjadi pada “terrorist” dan “freedomfighter”. Bagaimana aktor
yang sama digambarkan dengan dua diksi yang berbeda berimplikasi pada pemahaman
pembaca tenteng aktor tersebut.
4) Elemen
Retorik
Elemen ritorik menyangkut penggunaan repetisi,
alitersi, metafora yang dapat berfungsi sebagai “idiologi control” manakalah
sebuah informasi yang kurang baik tentang aktor tertentu dibuat kurang mencolok
sementara informasi tentang aktor lain ditekankan. Dengan kata lain, retorik
ini digunakan untuk memberi penekanan posifif atau negatif terhadap aktor atau
peristiwa dalam berita.
a. Grafis
Elemem ini merupakan bagian untuk memberikan apa yang
ditekankan atau ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang
dapat diamati dari teks. Dalam berita elemen grafis ini biasanya muncul lewat
bagian tulisan yang dibuat berbeda dibandingkan tulisan lain, seperti pemakian
huruf tebal, huruf miring, garis bawah, huruf dengan ukuran lebih
besar,termasuk pemakian caption, raster, grafik, gambar, foto dan tabel untuk
mendukung pesan. Pemakian angka-angka dalam berita diantaranyadigunakan untuk
menyugestikan kebenaran, ketelitian, dan posisi dara suatu laporan. Pemakian
jumlah, ukuran statistik menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2006:258) bukan
semata bagian dari standar jurnalistik, melainkan juga menyugestikan presisi
dari apa yang hendak dikatakan dalam teks.
b. Metafora
Dalam suatu wacana, seorang wartawan tidak hanya
menyampaikan pesan pokok lewat teks, tetapi juga kiasan,ungkapan, metafora yang
dimaksudkan sebagian ornamen atau bumbuu dari suatu berita. Akan tetapi,
pemakian metafora tertentu bisa jadi pakian oleh wartawan secara strategi
sebagai landasan berfikir, alasan pembenar atas pendapat tertentu kepada
publik. Penggunaan ungkapan sehari-hari, peribahasa, pepatah, petuah leluhur,
kata-kata kuno, bahkan ungkapan ayat suci dipakai untuk memperkuat pesan utama.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Deskripsi
Data
Julia Perez “Ancam Demo Telanjang”
Julia perez kembali membuat ulah. Belum lagi usai
kasus perseteruannya dengan Dewi Perssik, kekasih Gaston tersebut kembali
mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan publik.
Hal itu diakibatkan karena dirinya merasa kesal karena
hingga saat ini pemerintah belum mengumumkan merek susu yang tercemar akibat
bakteri.
Belakangan ini memang heboh kabar seputar susu formula
yang terkontaminasi bakteri Enterobacteri Sakazakii. Enterobacteri Sakazakii
merupakan salah satu pathogen gram negative yang sangat mematikan pada bayi
baru lahir, usia 0-6 bulan.
Lewat akun Twitter pribadinya, pelantun Belah Duren
itu menuangkan kekesalannya terhadap pemerintah yang sangat lambat menangani
kasus susu berbakteri. “Gue demo telanjang kalo pemerintah enggak
umumkan nama-nama susu yang tercemar”, tulis Jupe pada selasa (22/2).
Aksi protes Jupe melalui akun Twitter itu sebagai
bukti bahwa ia sangat peduli dengan nasib bayi-bayi yang ada di Indonesia. Jika
pemerintah lambat menangani masalah ini bagaimana dengan nasib generasi penerus
bangsa ini? “Aneh, masalah susu aja enggak kelar? Trus susu mana si yg
ada bakteri?? Help bayi2 indonesia dong? Egois! Semoga…”, tulis Jupe lagi.
Tentunya niat Jupe untuk demo telanjang bukan suatu
hal yang serius. Kata-kata yang menjurus ke arah vulgar memang kerap
dilontarkan Jupe. Namun, ucapan Jupe hanya di mulut, tak ada maksud lain, hanya
mengungkapkan kekesalan.
Sebelumnya ketika ditanya soal mangkirnya dewi Persik
dari panggilan polisi untuk melakukan Berita Acara Perkara (BAP) terkait
statusnya sebagai tersangka melalui handphone-nya, selaku pihak
pelapor Jupe tak terlalu dipedulikannya. Meski mangkirnya Depe makin
memperlambat proses hukum, Jupe tetap akan mengikuti proses hukum yang
berlaku.“Sebenarnya ini bukan kapasitas aku untuk menanggapi kehadiran dia.
Tapi, kalau terjadi sama saya , saya pasti hadir. Kalau aku, saat dipanggil
pertama dan kedua aku datang karena sebagai warga negara yang baik aku harus
mengikuti proses hukum yang berlaku”, katanya.
Dia mengaku enggan mengomentari alasan ketidakhadiran
Dewi. “Aku enggak tahu sama sekali,ditanyakan langsung aja,
aku enggak ikutan, nanti kena lagi”, katanya. (tot/”GM”/ net)**
B.
Analisis
Data
Kajian analisa
1. Struktur Makro (Tema)
Temanya adalah kekesalan Jupe
terhadap pemerintah yang lambat dalam menangani kasus susu berbakteri.
2.
Superstruktur
(Tematik/ kerangka susunan)
a. Pendahuluan
Awal berita menampilkan seorang
artis kontroversial Julia Perez dengan kutipan kalimat “Gue demo telanjang
kalo pemerintah enggak umumkan nama-nama susu yang tercemar”,
b. Isi
- Penekanan kekesalan Jupe terhadap
pemerintah.
- Cara Jupe mengekspresikan
kekesalannya
- Kecaman Jupe terhadap pemerintah
- Kepedulian Jupe terhadap nasib
bayi-bayi Indonesia
- Pertimbangan aspirasi penulis
c. Penutup
Dalam wacana ini diakhiri dengan
pemberitaan mengenai mangkirnya Dewi Perssik dari panggilan polisi, dan
bagaimana tanggapan Jupe mengenai kabar tersebut.
3. Struktur Mikro
Struktur mikro yang menunjuk pada
makna setempat (local meaning) suatu wacana dapat digali dari aspek semantik,
sintaksis, stilistika, dan retorika.
a.
Struktur Mikro Semantik (tanda atau
makna eksplisit/implisit)
·
Detail
Adanya penonjolan
informasi berita mengenai profil Jupe yang konroversial. Mulai dari kasusnya
dengan Dewi persik hingga ancamannya terhadap pemerintah yang dia tulis dalam
sebuah jejaring sosial.
·
Kata Ganti
“Hal itu
diakibatkan karena dirinya
merasa kesal”(Jupe)
“Lewat akun
Twitter pribadinya, pelantun
Belah Duren itu”(Jupe)
.“Sebenarnya
ini bukan kapasitas aku untuk menanggapi kehadiran dia” (Dewi Persik)
b.
Struktur Mikro Sintaksis (bagaimana
pendapat di sampaikan)
Pendapat tema disampaikan dengan menggunakan kalimat
tidak langsung berupa ancaman pada baris kalimat keempat (“Gue demo
telanjang kalo pemerintah enggak umumkan nama-nama
susu yang tercemar”, tulis Jupe pada selasa ) dan kalimat tidak langsung berupa
kecaman pada baris kalimat kelima (Jika pemerintah lambat menangani masalah ini
bagaimana dengan nasib generasi penerus bangsa ini? “Aneh, masalah susu
aja enggak kelar? Trus susu mana si yg ada bakteri?? Help bayi2 indonesia dong?
Egois! Semoga…”, tulis Jupe lagi) yang dilontarkan oleh Jupe.
c. Struktur Mikro Stilistik (pilihan kata yang dipakai)
- Kata-kata yang tidak baku atau
kata-kata gaul yang sering digunakan oleh Jupe.Seperti gue,
enggak, aja, dan kalo.
- Kata-kata ilmu kedokteran, seperti
Enterobacteri Sakazakii dan Patogen gram negatif.
- Kata-kata Hukum, seperti Berita
Acara Perkara (BAP)
- Kata-kata Vulgar, seperti Telanjang.
d. Struktur Mikro Retorika
Aspek retorika suatu wacana
menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk
memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan.
Dalam pemberitaan di atas ada
bebera siasat dan cara yang digunakan, diantaranya:
- Penggunaan gaya
bahasa. Seperti majas (sindiran) dan gaya bahasa yang bermakna denotatif (“Aku enggak tahu
sama sekali,ditanyakan langsung aja, aku enggak ikutan, nanti kena
lagi”, katanya)
- Menonjolkan
kepribadian Jupe yang Kontroversial
- Menonjolkan
kekesalan Jupe terhadap pemerintah
- Menonjolkan opini penulis mengenai ketidakseriusan
ancaman Jupe
BAB IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Analisis wacana ini di lakukan sebagai
upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan
suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi
sang penulis yang mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk
distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat diketahui.
Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam
pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.
Analisis dengan menggunakan teori
Van Djik ini membantu untuk mengamati bagaimana suatu
teks terbangun oleh elemen-elemen yang lebih kecil. Skema ini juga memberikan
peta untuk mempelajari suatu teks. Kita tidak hanya mengerti apa isi dari suatu
teks berita, tetapi juga elemen yang membentuk teks berita, kata, kalimat,
paragraf, dan proposisi. Kita tidak hanya mengetahui apa yang diliput oleh
media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa kedalam pilihan bahasa
tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu.
Berdasarkan analisis
data mengenai teks pemberitaan Julia Perez “Ancam Demo Telanjang”
oleh Galamedia edisi kamis 24 Februari 2011 dapat di simpulkan bahwa terdapat
tiga elemen sesuai dengan kajian dari Van Djik yaitu struktur makro, superstruktur,
dan mikro.
B. Saran
Dengan penulisan
makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami tentang konsep dari analisis
struktur teks van Dijk. Selain
itu diharapkan pula dalam membuat sebuah makalah jangan hanya mengandalkan satu
referensi buku saja karena masih banyak buku-buku lainnya yang menjelaskan
tentang konsep analisis struktur teks van Dijk.
DAFTAR PUSTAKA
Eryanto. 2006. Analisis Wacana. Yogyakarta:
Ikis Pelangi Aksara Jogjakarta
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=9876&val=631
(di akses pada tanggal 12 Mei 2015 )
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/1306/1/TIA%20AGNES%20ASTUTI-FDK.PDF
(di akses pada tanggal 12 Mei 2015 )
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dr-suroso-mpd-mth/ppm-bahasapers-yang-mencerdaskan.pdf
(di akses pada tanggal 12 Mei 2015 )
Mulyana.2005. Kajian Wacana. Yogyakarta:
Tiara Wacana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar