MAKALAH
KONTEKS WACANA
Makalah ini di susun
untuk memenuhi mata kuliah wacana
Dosen pembimbing: Diana
Mayasari,
S.Pd
Oleh
Kelompok 6 :
Maskartika Kholifatul
Iftitah (126765)
Ayu Puspitasari (126669)
Husnia Mazidah (126736)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA 2012-B
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN
DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK
INDONESIA
JOMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Konteks
wacana ada beberapa konsep yang berkaitan dengan konteks wacana, yaitu pertama,
praanggapan memiliki peran penting dalam menetapkan keruntutan wacana. Karena
kesalahan dalam praanggapan memiliki efek yang besar dalam ujaran manusia. Kedua,
Implikatur yang berfungsi untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang
disarankan atau yang dimaksud penutur. Implikatur dibagi menjadi dua bagian,
yaitu implikatur konvensional yang bersifat nontempore dan implikatur
percakapan yang bersifat temporer. Pada implikatur percakapan ada beberapa
prinsip percakapan, yakni prinsip
kuantitas, prinsip kualitas, prinsip hubungan, dan prinsip cara. Ketiga, inferensi
(penarikan kesimpulan), yaitu proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi
dan konteks percakapan. Inferensi terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu
inferansi ujaran, inferensi yang menarik, inferensi mata rantai yang hilang. Keempat,
dieksis yaitu salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan dan prinsip
interpretasi terbagi menjadi dua, yakni lokal dan analogi.
Peranan
konteks, konteks memiliki dalam menentukan makna sebuah teks. Pengertian dari
konteks adalah teks yang menyertai teks lain (lisan, tulis, nirkata). Menurut Mulyana (2005: 71) bahwa pengertian
konteks adalah situasi atau latar
terjadinya suatu komunikasi. Konteks juga dapat dianggap sebagai sebab dan
alasan terjadinya suatu pembicaraan atau dialog. Dalam hal ini konteks pemakian
bahasa dibedakan menjadi empat bagian, yaitu konteks fisik, konteks epistemis,
konteks linguistik, dan konteks sosial. Melalui perbuatannya pengguna bahasa
memiliki rincian ciri fisik, rincian emosional, rincian perbuatan, rincian
campuran (Dajasudarma, 2010: 35).
Unsur-unsur
konteks, ada beberapa pendapat mengenai unsur-unsur konteks. Pendapat pertama
Brown yang menyatakan bahwa ada delapan unsur, yaitu penutur, pendengar, topik
pembicaraan, latar peristiwa, penghubung, kode, bentuk pesan, dan peristiwa
tutur. Sedangkan Hymes dalam Darma (2009: 4-6) memiliki perbedaan mengenai
pembagian unsur konteks, yaitu latar, peserta, hasil, amanat, cara, sarana,
norma, dan jenis. Mulyana (2005: 22), menyatakan bahwa salah satu unsur konteks
yang cukup penting ialah waktu dan tempat. Dari berbagai pendapat tersebut
dapat disimpulkan bahwa konteks memiliki peran penting dalam memeberi bantuan
untuk menafsirkan suatu wacana, terutama dalam komunikasi.
Menurut
Brown dan Yule (1983) menganalisis wacana semestinya menggunakan
pendekatan pragmatis untuk memahami pemakaian bahasa. Misalnya,
penganalisis wacana haruslah mempertimbankan konteks tempat terdapatnya bagian
sebuah wacana. Beberapa unsur bahasa yang paling jelas memerlukan informasi
kontekstual adalah bentuk-bentuk deiktis, seperti di sini, sekaran, saya, kamu,
ini, dan itu. Untuk menafsirkan bentuk-bentuk deiktis itu, analisis wacana
bahasa Indonesia perlu mengetahui siapa penutur dan pendengarnya, waktu dan tempat
ujaran itu.
Menurut Halliday dan Hassan (1985:5), yang dimaksud dengan konteks wacana adalah
teks yang meyertai teks lain. Menurut kedua penulis itu, pengertian hal yang
menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan dan dituliskan, tetapi
termasuk pula kejadian yang nonverbal lainnya keseluruhan lingkungan teks itu.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa itu Praanggapan?
2.Apa itu Implikatur?
3.Apa itu Inferensi?
4. Apa itu Dieksis?
C.
Tujuan
1. Mengetahui apa itu Praanggapan.
2. Mengetahui apa itu Implikatur
3. Mengetahui apa itu Inferensi
4. Mengetahui apa itu Dieksis
BAB II
LANDASAN TEORI
A. PRAANGGAPAN (Presupposisi)
·
Pengertian Praanggapan :
Praanggapan
(presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa
Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti
sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan
sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.
Menurut George Yule
(1996:43) Presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai
kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan, yang memiliki presupposisi adalah
penutur, bukan kalimat.
Menurut Filmore (1981), dalam setiap percakapan selalu digunakan
tingkatan-tingkatan komunikasi yang implisit atau praaggapan dan eksplisit dan
ilokusi. Sebagai contoh, ujaran dapat dinilai tidak tidak relevan atau salah
bukan hanya dilihat dari segi cara pengungkapan pistiwa yang salah
pendeskripsiannya, tetapi juga pada cara membuat peranggapan yang salah.
Kesalahan membuat praanggapan mempunyai efek dalam ujaran manusia. Dengan
kata lain, praanggapan yang tepat dapat memprtinggi nilai komunikatif sebuah
ujaran yang diungkakan. Makin tepat praanggapan yang dihipotesiskan, makin
tinggi nilai komunikasi suatu ujaran. Dalam beberapa hal, makna wacana dapat
dicari melalui praaggapan, namun disisi lain terdapat makna yang tidak
dinyatakan secara eksplisit.
Dari beberapa
definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah
kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang
akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini,
perhatikan contoh berikut :
(1) a:“Aku
sudah membeli bukunya Pak Udin kemarin”
b : “Dapat potongan 30 persen kan?
b : “Dapat potongan 30 persen kan?
Contoh percakapan di atas
menunjukkan bahwa sebelum bertutur (1A) memiliki praanggapan bahwa B mengetahui
maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo.
Kesalahan membuat praanggapan
efek dalam ujaran manusia. Dengan kata lain, praanggapan yang tepat dapat
mempertinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan. Makin tepat
praanggapan yang dihpotesiskan, makin tinggi nilai komunikatif sebuah ujaran
yang diungkapkan.
·
Ciri Praanggapan
Ciri praanggapan yang mendasar adalah sifat keajegan di bawah
penyangkalan (Yule, 2006:45). Hal ini memiliki maksud bahwa
praanggapan (presuposisi) suatu pernyataan akan tetap ajeg (tetap benar)
walaupun kalimat itu dijadikan kalimat negatif atau dinegasikan. Sebagai contoh
perhatikan beberapa kalimat berikut :
(1) a:
“Gitar Budi itu baru”.
b:
“Gitar Budi tidak baru”.
Kalimat (b) merupakan bentuk negatif dari kaliamt (4a). Praanggapan dalam
kalimat (4a) adalah Budi mempunyai gitar. Dalam kalimat (b), ternyata
praanggapan itu tidak berubah meski kalimat (b) mengandung penyangkalan tehadap
kalimat (4a), yaitu memiliki praanggapan yang sama bahwa Budi mempunyai gitar.
·
Jenis –
Jenis Praanggapan
Praanggapan (presuposisi) sudah
diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata, frasa, dan struktur (Yule, 2006:46).
Selanjutnya Gorge Yule mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 jenis
praanggapan, yaitu presuposisi eksistensial, presuposisi faktif,
presuposisi non-faktif, presuposisi leksikal, presuposisi struktural, dan
presuposisi konterfaktual.
1. Presuposisi
Esistensial
Presuposisi (praanggapan)
eksistensial adalah preaanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati
diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definit.
(1) a. Orang itu berjalan
b. Ada orang berjalan
b. Ada orang berjalan
2. Presuposisi Faktif
Presuposisi (praanggapan) faktif
adalah praanggapan di mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja
dapat dianggap sebagai suatu kenyataan.
(1) a. Dia tidak menyadari bahwa ia sakit
b. Dia sakit
(2) a. Kami menyesal mengatakan kepadanya
b. Kami mengatakan kepadanya
b. Dia sakit
(2) a. Kami menyesal mengatakan kepadanya
b. Kami mengatakan kepadanya
3. Presuposisi Leksikal
Presuposisi (praanggapan) leksikal
dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara
konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain (yang tidak
dinyatakan) dipahami.
(1) a. Dia berhenti merokok
b. Dulu dia biasa merokok
(2)a. Mereka mulai mengeluh
b. Sebelumnya mereka tidak mengeluh
b. Dulu dia biasa merokok
(2)a. Mereka mulai mengeluh
b. Sebelumnya mereka tidak mengeluh
4. Presuposisi Non-faktif
Presuposisi (praanggapan) non-faktif
adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar.
(1) a. Saya membayangkan bahwa saya kaya
b. Saya tidak kaya
(2) a. Saya membayangkan berada di Hawai
b. Saya tidak berada di Hawai
b. Saya tidak kaya
(2) a. Saya membayangkan berada di Hawai
b. Saya tidak berada di Hawai
5. Presuposisi Struktural
Presuposisi (praanggapan) struktural
mengacu pada sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai
praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah
diasumsikan kebenarannya. Hal ini tampak dalam kalimat tanya, secara
konvensional diinterpretasikan dengan kata tanya (kapan dan di mana) seudah
diketahui sebagai masalah.
(1) a. Di mana Anda membeli sepeda itu?
b. Anda membeli sepeda
(2) a. Kapan dia pergi?
b. Dia pergi
b. Anda membeli sepeda
(2) a. Kapan dia pergi?
b. Dia pergi
6. Presuposisi konterfaktual
Presuposisi (praanggapan)
konterfaktual berarti bahwa yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar,
tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang
dengan kenyataan.
(1) a. Seandainya
B. IMPLIKATUR
Implikatur
berasal dari bahasa latin implicare yang berarti "melipat". hal ini
dijelaskan oleh Mey melalui Nadar (2009:60) bahwa untuk mengetahui apa yang
dilipat harus dengan cara membukanya. dengna kata lain, implikatur dapat
dikatakan sebagai sesuatu yang terlipat.
Implikatur
secara sederhana dapat diartikan sebagai makna tambahan yang disampaikan oleh
penutur yang terkadang tidak terdapat dalam tuturan itu sendiri. Sebuah tuturan
dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan
tersebut. Proposisi yang diimplikasikan tersebut oleh Grice disebut sebagai
implikatur percakapan. Secara
garis besar terdapat dua jenis implikatur. Yang pertama adalah implikatur
konvensional. Implikatur ini lebih menjelaskan pada apa yang yang diutarakan.
Sedangkan yang kedua telah disebut pada paragraf sebelumnya yaitu implikatur
percakapan. Implikatur percakapan lebih menekankan maksud lain dari apa yang
dituturkan.
Menurut George Yule (1996:62)
implikatur adalah contoh utama dari banyaknya informasi yang disampaikan dari
pada dikatakan. Supaya implikatur – implikatur tersebut dapat ditafsirkan maka
beberapa prinsip kerja sama dasar harus lebih dini diasumsikan dalam
pelaksanaannya.
Konsep implikatur kali pertama dikenalkan oleh H.P.Grice (1975) untuk
memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori
semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan
atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang
dinyatakan secara harfiah (Brown dan Yule, 1983:31).
C.
INFERENSI
Inferensi
adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam
membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna
tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan
(eksplikatur).
Menurut
Gumperz (1982) Inferensi yaitu penarikan kesimpulan sebagai proses interpretasi
yang ditentukan oleh situasi dan konteks percakapan. dengan demikian pendengar
menduga kemauan penutur, dan dengan itu pula pendengar meresponsnya. Dengan
begitu inferensi percakapan tidak hanya ditentukan oleh kata-kata pendukung ujaran
itu saja, melainkan juga didukung oleh konteks dan situasi. Sebuah gagasan yang
terdapat dalam otak penutur direlisasikan dalam bentuk kalimat-kalimat. Jika
penutur tidak pandai dalam menyusun kalimat maka akan terjadi
kesalahpahaman.
D. DIEKSIS
Dalam
penggunaannya, kata yang bersifat deiktis adalah kata yang referen atau
acuannya dapat berpindah-pindah. Kefleksibelan kata-kata atau leksem-leksem
deiktis acapkali berpengaruh pada makna kata dan maksud penutur. Hal ini
merupakan fenomena-fenomena tindak tutur yang bukan pada tempatnya kata-kata
itu digunakan.
Menurut George Yule (1996:13)
dieksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu hal
mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Dieksis berarti “penunjukan” melalui
bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan “penunjukan” disebut
ungkapan dieksis. Ketika anda menunjuk objek asing dan bertanya “Apa itu?”,
maka anda menggunakan ungkapan dieksis (“itu”) untuk menunjuk suatu dalam
konteks secara tiba – tiba. Ungkapan – umgkapan dieksis kadang kala juga
disebut dengan indeksial.
BAB
III
PEMBAHASAN
Untuk lebih memahami tentang Praanggapan,
Implikatur, Inferensi dan Dieksis. Berikut
dibawah ini contoh dari Praanggapan,
Implikatur, Inferensi dan Dieksis.
A.Praanggapan
(1)
Saudara laki – laki Mary membeli 3 ekor kuda
Ketika menghasilkan tuturan dalam (1),
penutur tentunya diharapkan memiliki praanggapan bahwa seseorang yang bernama
Mary dan dia memiliki seorang saudara laki – laki. Penutur mungkin juga
menyimpan presupposisi yang lebih khusus bahwa mary hanya memiliki seorang
saudara laki – laki dan dia memiliki banyak uang. Sebenarnya semua presupposisi
ini menjadi milik penutur dan semua praanggapan itu boleh jadi salah. Dalam
kalimat (1) akan dianggap memiliki entailmen jika saudara laki – laki Mary
membeli sesuatu, membeli 3 ekor binatang, membeli 2 ekor kuda dan akibat –
akibat logis lainyang sama.
(2) Ibu saya datang dari Surabaya
Dalam contoh (2) praanggapan adalah: (1) saya mempunyai ibu, (2) Ibu saya ada di Surabaya. Oleh krena itu, fungsi praanggapan ialah membantu mengurangi hambatan
respon orang terhadap penafsiran suatu ujaran.
B.
Implikatur
(1) Dia orang Jawa karena itu dia rajin.
Pada contoh (1) tersebut, penutur tidak secara langsung menyatakan bahwa
suatu ciri (rajin) disebabkan oleh ciri lain (jadi orang Jawa), tetapi bentuk
ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti
itu ada. Kalau individu yang dimaksud itu orang Jawa dan tidak rajin,
implikaturnya yang keliru, tetapi ujarannya tida salah. Contoh lain kata pria,
kata’ pria’ tentu mengimplikasikan mempunyai rambut, hidung, atau bibir
sehingga hunbungan antarkalimat pada contoh dibawah ini bersifat koheren,
meskipun tanpa kalimat Pria itu mempunyi rambut, hidung, dan bibir.
(2) Dia orang Madura, oleh karena itu dia pemberani.
Dalam
kalimat (2) penutur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri pemberani
adalah ciri lain dari orang Madura, bentuk ungkapan yang dipakai itu secara
konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Jika orang Madura
adalah bukan pemberani, maka implikaturnya yang keliru, tetapi ujarannya tidak
salah.
Yang lebih
menarik bagi analisis wacana adalah konsep implikatur percakapan yang
diturunkan dari asas umum percakapan ditambah sejumlah bidal (maxims) yang biasanya dipatuhi para
penitur (Brown da Yule, 1983). Implikatur percakapan itu mengutip prinsip kerja
sama atau kesepakatan bersama, yakni kesepakatan bahwa hal yang dibicarakan
oleh partisipan harus saling terkait (Grice, 1975).
C. Inferensi
(1) Contoh:
Ada dua
orang teman berjumpa dan perjumpaan itu diceritakan oleh salah satunya kekawan
lainnya. Terjadilah percakapan berikut,
Yulia
: “Saya baru bertemu dengan si Ana.”
Halimah
: “Oh, si Ana kawan kita di SMA itu?”
Yulia
:
“Bukan, tapi Ana kawan kita waktu kuliah
dulu.”
Halimah
: “Ana yang berambut panjang itu?”
Yulia
: “Bukan Ana yang berambut panjang, tapi Ana yang berjilbab itu loh?”
Halimah
: “Oh, ya, saya tahu.”
Pada ujaran pertama Halimah salah tangkap. Yang tergambar dibenaknya adalah
si Ana teman SMA. Setelah diterangkan oleh Yulia bahwa Ana teman waktu kuliah, Halimah salah tangkap lagi, karea yang diduga adalah Ana yang berambut panjang. Sesudah kalimat ke tiga dari Yulia, barulah Halimah paham siapa si Ana sebenarnya.
Walaupun tanggapan tentang si Ana sudah
jelas, akan tetapi apa yang dipikirkan oleh Yulia tidaklah dapat ditanggapi seluruhnya oleh Halimah karena masih banyak hal
yang masih tersembunyi, misalnya kapan Yulia bertemunya, di mana betemunya, berapa jam, dapat dikatakan bahwa yang
ditanggapi pendengar dari ucapan penutur itu hanya beberapa bagian saja dan
tidak seluruhnya.
D. Dieksis
(1) Saya akan meletakkan ini di sini
(Tentu
saja, Anda paham bahwa jim berkata kepada Anne bahwa ia akan meletakkan kunci
duplikat rumah di dalam salah satu laci di dapur).
Jelas
sekali bahwa diekasis mengacu pada bentuk yang terikat dengan konteks penutur,
yang dibedakan secara mendasar anatara ungkapan – ungkapan dieksis “dekat
penutur” dan “jauh dari penutur”. Dalam bahasa inggris “dekat penutur” atau
istilah – istilah proksimal adalah “ini”, “di sini”, “sekarang”, sedangkan
“jauh dari penutur” atau istilah distal adalah “itu”, “di sana”, “pada saat
itu”. Istilah – istilah proksimal biasanya ditafsirkan sebagai istilah tempat
pembicara atau pusat deiksis, sehingga “sekarang” umumnya dipakai sebagai acuan
terhadap titik atau keadaan pada saat tuturan penutur terjadi di tempatnya. Sementara
itu istilah distal menunjukkan “jauh dari penutur” tetapi dalam bebrapa bahasa
dapat digunakan untuk membedakan antara “dekat lawan tutur” dan “jauh dari
penutur maupun lawan tutur”.
BAB IV
PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan paparan diatas mengenai Konteks
Wacana yang mencakup Praanggapan, Implikatur, Inferensi dan Dieksis, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
a.
PRAANGGAPAN (Presupposisi)
Menurut George Yule
(1996:43) Presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai
kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan, yang memiliki presupposisi adalah
penutur, bukan kalimat.
Jadi praanggapan adalah suatu dugaan sebelum pembicara atau
penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan
bicara atau hal yang dibicarakan.
b.
IMPLIKATUR
Menurut George Yule (1996:62)
implikatur adalah contoh utama dari banyaknya informasi yang disampaikan dari
pada dikatakan. Supaya implikatur – implikatur tersebut dapat ditafsirkan maka
beberapa prinsip kerja sama dasar harus lebih dini diasumsikan dalam
pelaksanaannya.
Jadi implikatur adalah makna tambahan yang
disampaikan oleh penutur yang terkadang tidak terdapat dalam tuturan itu
sendiri.
c. INFERENSI
Menurut
Gumperz (1982) Inferensi yaitu penarikan kesimpulan sebagai proses interpretasi
yang ditentukan oleh situasi dan konteks percakapan. dengan demikian pendengar
menduga kemauan penutur, dan dengan itu pula pendengar meresponsnya.
Jadi inferensi adalah membuat simpulan
berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya.
d.
DIEKSIS
Menurut George Yule (1996:13)
dieksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu hal
mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Dieksis berarti “penunjukan” melalui
bahasa.
Jadi dieksis adalah salah satu hal mendasar
yang kita lakukan dengan tuturan. Dieksis berarti “penunjukan” melalui bahasa.
B. DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bustanul. 2004. Analisis Wacana. Malang: Bayumedia Publishing
(di akses tanggal 25 Maret 2015)
(di akses
tanggal 28 Maret 2015)
(di akses tanggal 25 Maret 2015)
Yule George.
1996. Pragmatik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar