Jumat, 12 Juni 2015

Makalah Konteks Wacana

MAKALAH
KONTEKS WACANA
Makalah ini di susun untuk memenuhi mata kuliah wacana
Dosen pembimbing: Diana Mayasari, S.Pd





Oleh
Kelompok 6 :
Maskartika Kholifatul Iftitah (126765)
Ayu Puspitasari (126669)
Husnia Mazidah (126736)


PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2012-B
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
JOMBANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Konteks wacana ada beberapa konsep yang berkaitan dengan konteks wacana, yaitu pertama, praanggapan memiliki peran penting dalam menetapkan keruntutan wacana. Karena kesalahan dalam praanggapan memiliki efek yang besar dalam ujaran manusia. Kedua, Implikatur yang berfungsi untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang disarankan atau yang dimaksud penutur. Implikatur dibagi menjadi dua bagian, yaitu implikatur konvensional yang bersifat nontempore dan implikatur percakapan yang bersifat temporer. Pada implikatur percakapan ada beberapa prinsip percakapan, yakni  prinsip kuantitas, prinsip kualitas, prinsip hubungan, dan prinsip cara. Ketiga, inferensi (penarikan kesimpulan), yaitu proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks percakapan. Inferensi terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu inferansi ujaran, inferensi yang menarik, inferensi mata rantai yang hilang. Keempat, dieksis yaitu salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan dan prinsip interpretasi terbagi menjadi dua, yakni lokal dan analogi.
            Peranan konteks, konteks memiliki dalam menentukan makna sebuah teks. Pengertian dari konteks adalah teks yang menyertai teks lain (lisan, tulis, nirkata).  Menurut Mulyana (2005: 71) bahwa pengertian konteks adalah situasi  atau latar terjadinya suatu komunikasi. Konteks juga dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan atau dialog. Dalam hal ini konteks pemakian bahasa dibedakan menjadi empat bagian, yaitu konteks fisik, konteks epistemis, konteks linguistik, dan konteks sosial. Melalui perbuatannya pengguna bahasa memiliki rincian ciri fisik, rincian emosional, rincian perbuatan, rincian campuran (Dajasudarma, 2010: 35).
            Unsur-unsur konteks, ada beberapa pendapat mengenai unsur-unsur konteks. Pendapat pertama Brown yang menyatakan bahwa ada delapan unsur, yaitu penutur, pendengar, topik pembicaraan, latar peristiwa, penghubung, kode, bentuk pesan, dan peristiwa tutur. Sedangkan Hymes dalam Darma (2009: 4-6) memiliki perbedaan mengenai pembagian unsur konteks, yaitu latar, peserta, hasil, amanat, cara, sarana, norma, dan jenis. Mulyana (2005: 22), menyatakan bahwa salah satu unsur konteks yang cukup penting ialah waktu dan tempat. Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa konteks memiliki peran penting dalam memeberi bantuan untuk menafsirkan suatu wacana, terutama dalam komunikasi.
Menurut Brown dan Yule (1983) menganalisis wacana semestinya menggunakan
pendekatan pragmatis untuk memahami pemakaian bahasa. Misalnya, penganalisis wacana haruslah mempertimbankan konteks tempat terdapatnya bagian sebuah wacana. Beberapa unsur bahasa yang paling jelas memerlukan informasi kontekstual adalah bentuk-bentuk deiktis, seperti di sini, sekaran, saya, kamu, ini, dan itu. Untuk menafsirkan bentuk-bentuk deiktis itu, analisis wacana bahasa Indonesia perlu mengetahui siapa penutur dan pendengarnya, waktu dan tempat ujaran itu.
Menurut Halliday dan Hassan (1985:5), yang dimaksud dengan konteks wacana adalah teks yang meyertai teks lain. Menurut kedua penulis itu, pengertian hal yang menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan dan dituliskan, tetapi termasuk pula kejadian yang nonverbal lainnya keseluruhan lingkungan teks itu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Praanggapan?
2.Apa itu Implikatur?
3.Apa itu Inferensi?
4. Apa itu Dieksis?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu Praanggapan.
2. Mengetahui apa itu Implikatur
3. Mengetahui apa itu Inferensi
4. Mengetahui apa itu Dieksis










BAB II
LANDASAN TEORI
A.    PRAANGGAPAN (Presupposisi)
·      Pengertian Praanggapan :
Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.
Menurut George Yule (1996:43) Presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan, yang memiliki presupposisi adalah penutur, bukan kalimat.
Menurut  Filmore (1981), dalam setiap percakapan selalu digunakan tingkatan-tingkatan komunikasi yang implisit atau praaggapan dan eksplisit dan ilokusi. Sebagai contoh, ujaran dapat dinilai tidak tidak relevan atau salah bukan hanya dilihat dari segi cara pengungkapan pistiwa yang salah pendeskripsiannya, tetapi juga pada cara membuat peranggapan yang salah.
Kesalahan membuat praanggapan mempunyai efek dalam ujaran manusia. Dengan kata lain, praanggapan yang tepat dapat memprtinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkakan. Makin tepat praanggapan yang dihipotesiskan, makin tinggi nilai komunikasi suatu ujaran. Dalam beberapa hal, makna wacana dapat dicari melalui praaggapan, namun disisi lain terdapat makna yang tidak dinyatakan secara eksplisit.
Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut :
(1) a:“Aku sudah membeli bukunya Pak Udin kemarin”
 b : “Dapat potongan 30 persen kan?
                        Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur (1A) memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo.
                        Kesalahan membuat praanggapan efek dalam ujaran manusia. Dengan kata lain, praanggapan yang tepat dapat mempertinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan. Makin tepat praanggapan yang dihpotesiskan, makin tinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan.
·      Ciri Praanggapan
Ciri praanggapan yang mendasar adalah sifat keajegan di bawah penyangkalan (Yule,   2006:45). Hal ini memiliki maksud bahwa praanggapan (presuposisi) suatu pernyataan akan tetap ajeg (tetap benar) walaupun kalimat itu dijadikan kalimat negatif atau dinegasikan. Sebagai contoh perhatikan beberapa kalimat berikut :
(1)   a:  “Gitar Budi itu baru”.
b:  “Gitar Budi tidak baru”.
Kalimat (b) merupakan bentuk negatif dari kaliamt (4a). Praanggapan dalam kalimat (4a) adalah Budi mempunyai gitar. Dalam kalimat (b), ternyata praanggapan itu tidak berubah meski kalimat (b) mengandung penyangkalan tehadap kalimat (4a), yaitu memiliki praanggapan yang sama bahwa Budi mempunyai gitar.
·      Jenis – Jenis Praanggapan
Praanggapan (presuposisi) sudah diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata, frasa, dan struktur (Yule, 2006:46). Selanjutnya Gorge Yule mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 jenis praanggapan,  yaitu presuposisi eksistensial, presuposisi faktif, presuposisi non-faktif, presuposisi leksikal, presuposisi struktural, dan presuposisi konterfaktual.
1.    Presuposisi Esistensial
Presuposisi (praanggapan) eksistensial adalah preaanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definit.
(1) a. Orang itu berjalan
      b. Ada orang berjalan
 2.   Presuposisi Faktif
Presuposisi (praanggapan) faktif adalah praanggapan di mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai suatu kenyataan.
(1) a. Dia tidak menyadari bahwa ia sakit
      b. Dia sakit
(2) a. Kami menyesal mengatakan kepadanya
      b. Kami mengatakan kepadanya
3.    Presuposisi Leksikal
Presuposisi (praanggapan) leksikal dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan) dipahami.
(1) a. Dia berhenti merokok
      b. Dulu dia biasa merokok
(2)a. Mereka mulai mengeluh
       b. Sebelumnya mereka tidak mengeluh
4.    Presuposisi Non-faktif
Presuposisi (praanggapan) non-faktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar.
(1) a. Saya membayangkan bahwa saya kaya
        b. Saya tidak kaya
(2) a. Saya membayangkan berada di Hawai
        b. Saya tidak berada di Hawai
5.    Presuposisi Struktural
Presuposisi (praanggapan) struktural mengacu pada sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Hal ini tampak dalam kalimat tanya, secara konvensional diinterpretasikan dengan kata tanya (kapan dan di mana) seudah diketahui sebagai masalah.
(1) a. Di mana Anda membeli sepeda itu?
      b. Anda membeli sepeda
(2) a. Kapan dia pergi?
      b. Dia pergi
6.    Presuposisi konterfaktual
Presuposisi (praanggapan) konterfaktual berarti bahwa yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan.
(1) a. Seandainya
B.     IMPLIKATUR
Implikatur berasal dari bahasa latin implicare yang berarti "melipat". hal ini dijelaskan oleh Mey melalui Nadar (2009:60) bahwa untuk mengetahui apa yang dilipat harus dengan cara membukanya. dengna kata lain, implikatur dapat dikatakan sebagai sesuatu yang terlipat.
Implikatur secara sederhana dapat diartikan sebagai makna tambahan yang disampaikan oleh penutur yang terkadang tidak terdapat dalam tuturan itu sendiri. Sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut. Proposisi yang diimplikasikan tersebut oleh Grice disebut sebagai implikatur percakapan. Secara garis besar terdapat dua jenis implikatur. Yang pertama adalah implikatur konvensional. Implikatur ini lebih menjelaskan pada apa yang yang diutarakan. Sedangkan yang kedua telah disebut pada paragraf sebelumnya yaitu implikatur percakapan. Implikatur percakapan lebih menekankan maksud lain dari apa yang dituturkan.
Menurut George Yule (1996:62) implikatur adalah contoh utama dari banyaknya informasi yang disampaikan dari pada dikatakan. Supaya implikatur – implikatur tersebut dapat ditafsirkan maka beberapa prinsip kerja sama dasar harus lebih dini diasumsikan dalam pelaksanaannya.
Konsep implikatur kali pertama dikenalkan oleh H.P.Grice (1975) untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah (Brown dan Yule, 1983:31).
C.    INFERENSI
Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).
Menurut Gumperz (1982) Inferensi yaitu penarikan kesimpulan sebagai proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks percakapan. dengan demikian pendengar menduga kemauan penutur, dan dengan itu pula pendengar meresponsnya. Dengan begitu inferensi percakapan tidak hanya ditentukan oleh kata-kata pendukung ujaran itu saja, melainkan juga didukung oleh konteks dan situasi. Sebuah gagasan yang terdapat dalam otak penutur direlisasikan dalam bentuk kalimat-kalimat. Jika penutur tidak pandai dalam menyusun kalimat maka akan terjadi kesalahpahaman. 

D.    DIEKSIS
Dalam penggunaannya, kata yang bersifat deiktis adalah kata yang referen atau acuannya dapat berpindah-pindah. Kefleksibelan kata-kata atau leksem-leksem deiktis acapkali berpengaruh pada makna kata dan maksud penutur. Hal ini merupakan fenomena-fenomena tindak tutur yang bukan pada tempatnya kata-kata itu digunakan.
Menurut George Yule (1996:13) dieksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Dieksis berarti “penunjukan” melalui bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan “penunjukan” disebut ungkapan dieksis. Ketika anda menunjuk objek asing dan bertanya “Apa itu?”, maka anda menggunakan ungkapan dieksis (“itu”) untuk menunjuk suatu dalam konteks secara tiba – tiba. Ungkapan – umgkapan dieksis kadang kala juga disebut dengan indeksial.


BAB III
PEMBAHASAN
Untuk lebih memahami tentang Praanggapan, Implikatur, Inferensi dan Dieksis. Berikut dibawah ini contoh dari Praanggapan, Implikatur, Inferensi dan Dieksis.
A.Praanggapan
     (1) Saudara laki – laki Mary membeli 3 ekor kuda
       Ketika menghasilkan tuturan dalam (1), penutur tentunya diharapkan memiliki praanggapan bahwa seseorang yang bernama Mary dan dia memiliki seorang saudara laki – laki. Penutur mungkin juga menyimpan presupposisi yang lebih khusus bahwa mary hanya memiliki seorang saudara laki – laki dan dia memiliki banyak uang. Sebenarnya semua presupposisi ini menjadi milik penutur dan semua praanggapan itu boleh jadi salah. Dalam kalimat (1) akan dianggap memiliki entailmen jika saudara laki – laki Mary membeli sesuatu, membeli 3 ekor binatang, membeli 2 ekor kuda dan akibat – akibat logis lainyang sama.

(2) Ibu saya datang dari Surabaya
Dalam contoh (2) praanggapan adalah: (1) saya mempunyai ibu, (2) Ibu saya ada di Surabaya. Oleh krena itu, fungsi praanggapan ialah membantu mengurangi hambatan respon orang terhadap penafsiran suatu ujaran.

B. Implikatur
(1) Dia orang Jawa karena itu dia rajin.
     Pada contoh (1) tersebut, penutur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri (rajin) disebabkan oleh ciri lain (jadi orang Jawa), tetapi bentuk ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Kalau individu yang dimaksud itu orang Jawa dan tidak rajin, implikaturnya yang keliru, tetapi ujarannya tida salah. Contoh lain kata pria, kata’ pria’ tentu mengimplikasikan mempunyai rambut, hidung, atau bibir sehingga hunbungan antarkalimat pada contoh dibawah ini bersifat koheren, meskipun tanpa kalimat Pria itu mempunyi rambut, hidung, dan bibir.

(2) Dia orang Madura, oleh karena itu dia pemberani.
Dalam kalimat (2) penutur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri pemberani adalah ciri lain dari orang Madura, bentuk ungkapan yang dipakai itu secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Jika orang Madura adalah bukan pemberani, maka implikaturnya yang keliru, tetapi ujarannya tidak salah.
Yang lebih menarik bagi analisis wacana adalah konsep implikatur percakapan yang diturunkan dari asas umum percakapan ditambah sejumlah bidal (maxims) yang biasanya dipatuhi para penitur (Brown da Yule, 1983). Implikatur percakapan itu mengutip prinsip kerja sama atau kesepakatan bersama, yakni kesepakatan bahwa hal yang dibicarakan oleh partisipan harus saling terkait (Grice, 1975).

C. Inferensi
(1) Contoh:
Ada dua orang teman berjumpa dan perjumpaan itu diceritakan oleh salah satunya kekawan lainnya. Terjadilah percakapan berikut,
Yulia               : “Saya baru bertemu dengan si Ana.”
Halimah           :  “Oh, si Ana kawan kita di SMA itu?”
Yulia               :  “Bukan, tapi Ana kawan kita waktu kuliah dulu.”
Halimah           :  “Ana yang berambut panjang itu?”
Yulia               :  “Bukan Ana yang berambut panjang, tapi Ana yang berjilbab itu loh?”
Halimah           :  “Oh, ya, saya tahu.”

Pada ujaran pertama Halimah salah tangkap. Yang tergambar dibenaknya adalah si Ana teman SMA. Setelah diterangkan oleh Yulia bahwa Ana teman waktu kuliah, Halimah salah tangkap lagi, karea yang diduga adalah Ana yang berambut panjang. Sesudah kalimat ke tiga dari Yulia, barulah Halimah paham siapa si Ana sebenarnya.
Walaupun tanggapan tentang si Ana sudah jelas, akan tetapi apa yang dipikirkan oleh Yulia tidaklah dapat ditanggapi seluruhnya oleh Halimah karena masih banyak hal yang masih  tersembunyi, misalnya kapan Yulia bertemunya, di mana betemunya, berapa jam, dapat dikatakan bahwa yang ditanggapi pendengar dari ucapan penutur itu hanya beberapa bagian saja dan tidak seluruhnya.



D. Dieksis
(1) Saya akan meletakkan ini di sini
      (Tentu saja, Anda paham bahwa jim berkata kepada Anne bahwa ia akan meletakkan kunci duplikat rumah di dalam salah satu laci di dapur).
      Jelas sekali bahwa diekasis mengacu pada bentuk yang terikat dengan konteks penutur, yang dibedakan secara mendasar anatara ungkapan – ungkapan dieksis “dekat penutur” dan “jauh dari penutur”. Dalam bahasa inggris “dekat penutur” atau istilah – istilah proksimal adalah “ini”, “di sini”, “sekarang”, sedangkan “jauh dari penutur” atau istilah distal adalah “itu”, “di sana”, “pada saat itu”. Istilah – istilah proksimal biasanya ditafsirkan sebagai istilah tempat pembicara atau pusat deiksis, sehingga “sekarang” umumnya dipakai sebagai acuan terhadap titik atau keadaan pada saat tuturan penutur terjadi di tempatnya. Sementara itu istilah distal menunjukkan “jauh dari penutur” tetapi dalam bebrapa bahasa dapat digunakan untuk membedakan antara “dekat lawan tutur” dan “jauh dari penutur maupun lawan tutur”.






















BAB IV
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Berdasarkan paparan diatas mengenai Konteks Wacana yang mencakup Praanggapan, Implikatur, Inferensi dan Dieksis, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
a.       PRAANGGAPAN (Presupposisi)
Menurut George Yule (1996:43) Presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan, yang memiliki presupposisi adalah penutur, bukan kalimat.
Jadi praanggapan adalah suatu dugaan sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.

b.      IMPLIKATUR
Menurut George Yule (1996:62) implikatur adalah contoh utama dari banyaknya informasi yang disampaikan dari pada dikatakan. Supaya implikatur – implikatur tersebut dapat ditafsirkan maka beberapa prinsip kerja sama dasar harus lebih dini diasumsikan dalam pelaksanaannya.
Jadi implikatur adalah makna tambahan yang disampaikan oleh penutur yang terkadang tidak terdapat dalam tuturan itu sendiri.
c.       INFERENSI
Menurut Gumperz (1982) Inferensi yaitu penarikan kesimpulan sebagai proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks percakapan. dengan demikian pendengar menduga kemauan penutur, dan dengan itu pula pendengar meresponsnya.
Jadi inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya.
d.      DIEKSIS
Menurut George Yule (1996:13) dieksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Dieksis berarti “penunjukan” melalui bahasa.
Jadi dieksis adalah salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Dieksis berarti “penunjukan” melalui bahasa.

B.     DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bustanul. 2004. Analisis Wacana. Malang: Bayumedia Publishing
(di akses tanggal 25 Maret 2015)
(di akses tanggal 28 Maret 2015)
(di akses tanggal 25 Maret 2015)
Yule George. 1996. Pragmatik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar






Tidak ada komentar:

Posting Komentar