ANALISIS WACANA (TEORI NORMAN FAIRCLOUGHDALAM KAJIAN TEKS PEMBERITAAN DUA MEDIA YANG
BERBEDA “PEMILIHAN
PRESIDEN”
OLEH KORAN JAWA POS DAN MEDIA INDONESIA)
Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi
tugas
Mata kuliah Wacana

KELOMPOK 10
1.
Rizki Ariana Nurdiana (126774)
2.
Sumanto (116)
3.
Zendy Apriliya (126740)
4.
Zully Ika Damayani (126)
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2012-B
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
JOMBANG
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Eriyanto (Analisis
Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik
merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada
unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur
tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena
memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal
yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.
Wacana adalah proses
pengembangan komunikasi yang menggunakan simbol-simboldan peristiwa-peristiwa
di dalam sistem kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana pesan-pesan
komunikasi, seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain,
ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, misalnya konteks peristiwa
yang berkenaan dengannya, situasi masyarakat luas yang melatar belakangi
keberadaannya, dan lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai,
ideologi, emosi, dan kepentingan-kepentingan. Jadi, analisis wacana yang dimaksudkan
dalam tulisan ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari
subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan
dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna
dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang
disamarkan dalam wacana dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk
hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan
representasi.
Analisis wacana dalam
lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud
di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari
pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik
pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral
dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya,
maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.
Norman Fairclough
melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur/tingkatan yang masing-masing
bagian saling mendukung. Ia membaginya kedalam 3 tingkatan.
Pertama Analisis
Mikrostruktur (Proses produksi): aspek yang dikejar dalam tingkat analisis ini
adalah garis besar atau isi teks, lokasi, sikap dan tindakan tokoh tersebut dan
seterusnya. Kedua Analisis Mesostruktur (Proses interpretasi): terfokus pada dua
aspek yaitu produksi teks dan konsumsi teks. Ketiga Analisis Makrostruktur
(Proses wacana) terfokus pada fenomena dimana teks dibuat. Untuk
menemukan ”realitas” di balik teks.
Topik yang saya ambil dalam analisis
ini yaitu mengenai teks dari dua media yang berbedatentang
“pelaksanaan pemilihan presiden” oleh koran Jawa Pos dan Media Indonesia edisi
8 juli 2014 dengan memakai konsep analisis
wacana kritis yang dikembangkan oleh Norman
Fairclough. Alasan saya memilih konsep Norman
Fairclough ini karena buah pikiran Norman
Fairclough dinilai lebih sistematis dan juga lebih jelas dalam menggambarkan representasi teks.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah analisis wacana pada teks
pemberitaan mengenai dua media yang berbeda
tentang“pelaksanaan pemilihan presiden” oleh koran jawa pos dan media indonesia edisi kamis edisi 8 juli 2014 melalui teori Norman
Fairclough?
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk mengetahui analisis wacana
pada teks
pemberitaan pemberitaan mengenai dua
media yang berbeda tentang“pelaksanaan
pemilihan presiden” oleh koran jawa pos
dan media indonesia edisi kamis edisi 8 juli
2014 melalui
teori Norman Fairclough
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A.
Definisi
Wacana dan Analisis Wacana
Wacana merupakan satuan
bahasa berdasarkan kata yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks
sosial. Satuan bahasa itu merupakan deretan kata atau ujaran. Wacana dapat
berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional.
Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai
proses komunikasi antara penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara
tulis, wacana dapat dlihat sebagai hasil dari pengungkapan idea/gagasan
penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana.
Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa
yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Ada tiga pandangan
mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaumpositivisme-empiris.
Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan
pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau
ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada
benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif).
Pandangan kedua disebut
sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai
suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana
adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang
mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri
pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang
pembicara. –Analisis Framing (bingkai).
Pandangan ketiga
disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma inimenekankan
pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi
makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri
si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam
membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi
di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa
yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan
menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan.
Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai
perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis
wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan
analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).
Mengenai paradigma
kritis, Stephen W. Littlejohn, seperti dikutip Alex Sobur, menjelaskan:
“Perkembangan teori komunikasi massa yang didasarkan pada tradisi kritis Eropa
(Marxis) cenderung memandang media sebagai alat ideologi kelas dominan. Tradisi
Eropa berusaha mematahkan dominasi model komunikasi Amerika yang notabene
adalah penganut aliran Laswellian ataupun stimulus-respon, teori yang berasumsi
khalayak adalah konsumer pasif media massa.
Dengan kata lain,
fenomena komunikasi massa bukanlah sekedar sebuah proses yang linear atau
sebatas transmisi (pengiriman) pesan kepada khalayak massa, tetapi dalam proses
tersebut komunikasi dilihat sebagai produksi dan pertukaran pesan (atau teks)
berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna tertentu.”
Salah satu tokoh pendirianalisis wacana kritis adalah Norman Fairclough.Sebagai
ilmuwan eropa, hasil pemikiranNorman Fairclough tentang analisis wacana kritis
dipengaruhi oleh sejumlah pemikir Eropa. Ada tiga wilayah keilmuan yang cukup
berpengaruh pada hasil-hasil pemikiran Norman Fairclough. Perama, di bidang
bahasa, pemikiran norman fairclough dipengaruhi oleh Mikhail Bakhtin dan
Michael Halliday. Kedua, dipengaruhi oleh pemikir sosioligi diantaranya Pierre
Bourdieu dan Michel Foucault. Ketiga, Norman Fairclough cukup dipengaruhi oleh
teori-teori tentang ideologi, yakni hasil pemikiran Antonio Gramsci dan Louis
Althusser. Khusus Louis Althusser dan Antonio Gramsci, pemikiran keduanya
memiliki akar teoritis cukup kuat pada pemikiran Karl Marx. Oleh karena
itu, analisis wacana kritis milik Norman Fairclough,Menganggap bahwa teks di
dalam media bukanlah sebuah entitas netral dan terlepas dari kepentingan. Untuk
mengetahui kepentingan yang ada di balik media diperlukan analisis mendalam
terhadap teks di dalam media, proses produksi teks dan latar belakang
sosial-budaya-politik melalui analisis wacana kritis. Bahwasanya dalam
analisis wacana seorang peneliti atau penulis melihat teks sebagai hal yang
memiliki konteks baik berdasarkan “process of production” atau “text
production”, “process of interpretation” atau “text consumption” maupun
berdasarkan praktik sosio-kultural. Dengan demikian, untuk memahami wacana
(naskah/teks) kita tak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas”
di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi
teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks.
B.
Klasifikasi Sebuah Makna Norman fairclough
Dikarenakan dalam
sebuah teks tidak lepas akan kepentingan yang yang bersifat subyektif. Didalam
sebuah teks juga dibutuhkan penekanannya pada makna (Meaning) (lebih jauh dari
interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya pikir dan akal
budi). Artinya: Setelah kita mendapat sebuah teks yang telah ada dan kita juga
telah mendapat sebuah gambaran tentang teori yang akan dipakai untuk membedah
masalah, maka langkah selanjutnya adalah kita memadukan kedua hal tersebut
menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut kita memakai sebuah teori
untuk membedahnya. Kemudian Norman fairclough mengklasifikasikan sebuah makna
dalam analisis wacana sebagai berikut:
Translation
(mengemukakan subtansi yang sama dengan media). Artinya: . Pada dasarnya teks
media massa bukan realitas yang bebas nilai. Pada titik kesadaran pokok
manusia, teks selalu memuat kepentingan. Teks pada prinsipnya telah
diambil sebagai realitas yang memihak. Tentu saja teks dimanfaatkan untuk
memenangkan pertarungan idea, kepentingan atau ideologi tertentu kelas
tertentu. Sedangkan sebagai seorang peneliti memulainya dengan membuat sampel
yang sistematis dari isi media dalam berbagai kategori berdasarkan tujuan
penelitian.
Interpretation
(berpegang pada materi yang ada, dicari latarbelakang, konteks agar dapat
dikemukakan konsep yang lebih jelas). Artinya: Kita konsentrasi pada satu pokok
permasalahan supaya dalam menafsirkan sebuah teks tersebut kita bisa mendapat
latar belakang dari masalah tersebut sehingga kemudian kita bisa menentukan
sebuah konsep rumusan masalah untuk membedah masalah tersebut.Ekstrapolasi
(menekankan pada daya pikir untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan).
Artinya: kita harus memakai sebuah teori untuk bisa menganalisis masalah
tersebut, karena degnan teori tersebut kita bisa dengan mudah menentukan isi
dari teks yang ada.
Meaning (lebih jauh
dari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya pikir dan
akal budi). Artinya: Setelah kita mendapat sebuah teks yang telah ada dan kita
juga telah mendapat sebuah gambaran tentang teori yang akan dipakai untuk
membedah masalah, maka kita langkah selanjutnya adalah kita memadukann kedua
hal tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut kita memakai sebuah
teori untuk membedahnya.
Dalam analisis wacana,
Norman Fairclough juga memberikan tingkatan, sebagai berikut:
1)
Analisis Mikrostruktur
(Proses Produksi) :Menganalisis teks
dengan cermat dan fokus supaya dapat memperoleh data yang dapat menggambarkan
representasi teks. Dan juga secara detail aspek yang dikejar dalam tingkat
analisis ini adalah garis besar atau isi teks, lokasi, sikap dan tindakan tokoh
tersebut dan seterusnya.
2)
Analisis Mesostruktur
(Proses interpretasi) :Terfokus pada dua
aspek yaitu produksi teks dan konsumsi teks.
3)
Analisis Makrostruktur
(Proses wacana) :Terfokuspada fenomena dimana teks dibuat. Dengan demikian,
menurut Norman Fairclough untuk memahami wacana (naskah/teks) kita tidak dapat
melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks kita
memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek
sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks.
Posisi metodologis
analisis wacana kritis Norman Fairclough. Sebagai sebauh hasil pemikiran yang
bisa dikategorikan sebagai hasil pemikiran kontemporer di bidang komunikasi,
analisis wacana kritis milik Norman Fairclough cukup gencar manyatakan bahwa
teks/naskah di media selalu tidak lepas dari konteks sosial. Dengan mengetahui
pertautan dan bahkan pertarungan kepentingan dibalik teks/naskah di media akan
mematahkan sebuah anggapan yang menyatakan bahwa teks/naskah di media merupakan
produk yang netral-obyektif.
Dengan demikian,
secara tegas analisis wacana kritis masuk dalam kategori teori yang menggunakan
perspektif subyektif. Analisis wacana kritis juga masuk dalam kategori
teori yang menggunakan pendekatan kualitatif-naturalistik. Hal tersebut
tercermin dari usaha analisis wacana kritis untuk mengungkapkan kenyataan di
balik teks/naskah di media dengan keterkaitannya dengan konteks produksi teks,
konsumsi teks dan aspek sosial-budaya-politik yang mempengaruhi pembuatan teks.
Berbeda dengan teori komunikasi lain semisal teori Shannon dan Weaver yang
terkenal dengan bukunya yang berjudul Mathematical Theory of Communication
tahun 1949. Dalam teori Shannon dan Weaver tersebut, untuk menganalisa proses
komunikasi, maka bisa diteliti menggunakan rumus matematika. Teori Shannon dan
Weaver tersebut masuk dalam kategori Obyektif-Positvistik, sedangkan analisis
wacana kritis masuk dalam teori yang menggunakan pendekatan Subyektif-Kualitatif
dan tentu saja Naturalistik.
Selain masuk dalam
teori yang menggunakan pendekatan kualitatif-naturalistik, analisis wacana
kritis juga masuk dalam kategori non-linier. Berbeda dengan teori Laswell yang
menjelaskan proses komunikasi sebagai proses yang linier antara siapa,
mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa dan memiliki pengaruh apa.
Analisis wacana kritis mencoba mengurai proses komunikasi melalui media massa
dengan cara yang tidak linier seperti teori Laswell. Sebagai sebuah hasil
pemikiran yang mencoba untuk memberikan pencerahan bagi khalayak, analisis
wacana kritis mendahulukan ‘kecurigaan’ pada awal analisisnya. Teks media,
media, para pekerja media dianggap sebagai sebuah entitas yang memiliki keterkaitan
ideologis tertentu.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Deskripsi
Data
Dua
media yang berbeda dalam “pelaksanaan pemilihan presiden”
Untuk mengetahui secara lebih dalam bagaimana
pola operasional analisis wacana kritis, maka penulis mencoba untuk
menganalisis teks media dari dua media yang berbeda tentang pelaksanaan
pemilihan presiden pada tanggal 8 Juli 2014. Media yang akan dicoba diteliti
oleh penulis adalah koran harian Jawa Pos dan Media Indonesia. Penulis
memfokuskan analisis pada isi editorial (tajuk rencana) dua koran tersebut pada
tanggal 8 Juli 2014. Pada editorial koran Jawa Pos tanggal 8 Juli 2009 tertulis
Selamat Mencontreng , dalam editorial tersebut terdapat sejumlah kalimat berisi
adanya persoalan menjelang pelaksanaan pemilihan presiden pada tanggal 8 Juli
2009. Salah satu persoalan tersebut adalah daftar pemilih tetap. Di editorial
koran Jawa Pos tersebut tertulis kalimat: “Di tengah ribut soal daftar pemilih
tetap (DPT), kita bangga bangsa ini akhirnya bisa menyelenggarakan pilpres
kedua (setelah 2004) secara langsung sesuai jadwal.”
Meski dalam editorial tersebut tertulis adanya
persoalan daftar pemilih tetap (DPT), namun si penulis dalam editorial
mengungkapkan rasa bangganya karena pemilihan presiden akhirnya berjalan sesuai
jadwal. Di akhir tulisan editorial, terdapat kalimat yang relatif mirip dengan
sebuah iklan politik milik salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil
presiden.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Kita butuh pemimpin yang bersih, cakap, tegas dan punya komitmen membawa kemakmuran bagi negeri ini. Pilihan itu kita serahkan kepada para pemilih dari Aceh hingga pegunungan Jaya Wijaya Papua, yang semoga hari ini bisa mencontreng secara aman, langsung, bebas dan rahasia di TPS masing-masing.”
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Kita butuh pemimpin yang bersih, cakap, tegas dan punya komitmen membawa kemakmuran bagi negeri ini. Pilihan itu kita serahkan kepada para pemilih dari Aceh hingga pegunungan Jaya Wijaya Papua, yang semoga hari ini bisa mencontreng secara aman, langsung, bebas dan rahasia di TPS masing-masing.”
Kemiripan kalimat yang digarisbawahi dengan
slogan salah satu kandidat capres-cawapres tersebut kalau dianalisis dengan
analisis wacana kritis milik Norman Faicrclough bisa menimbulkan pernyataan,
kenapa koran Jawa Pos pada tanggal 8 Juli 2009 tersebut memilih membuat
editorial dengan judul, isi dan penutup seperti itu. Kemudian, penulis
mencoba membandingkan editorial koran Jawa Pos dengan koran Media Indonesia. Di
koran Media Indonesia editorialnya berjudul “Dua Putaran Lebih Seru”. Dari
judulnya, Media Indonesia mencoba menghadirkan wacana bahwa pilpres dua putaran
akan lebih seru dibanding dengan pilpres satu putaran. Pilpres satu putaran
pernah dimunculkan oleh salah satu lembaga survei yang diduga menjadi ‘tim
pemenangan’ salah satu pasangan capre-cawapres. Selain membuat judul yang cukup
berbeda dengan koran Jawa Pos, isi di dalam editorial Media Indonesia tanggal 8
Juli 2009 juga tertulis cara pandang yang berbeda tentang persoalan Daftar
Pemilih Tetap (DPT). Berikut petikan isi editorial Media Indonesia terkait
persoalan DPT. “Contoh paling kentara penyakit demokrasi prosedural adalah
daftar pemilih tetap yang masif dengan pemilih fiktif. Komisi Pemilihan Umum
tahu dan terus diprotes karena memberlakukan DPT yang fiktif itu. Namun, KPU
tidak mau memperbaiki karena takut melanggar undang-undang. Padahal ada ruang
KPU untuk mengubah.”
Dalam isi editorial tersebut cukup jelas
tergambar bahwa ada persoalan DPT yang dinilai menjadi penyakit demokrasi
prosedural. Bahkan, di situ tertulis bahwa KPU sebenarnya bisa memperbaiki DPT,
namun dinilai tidak mau memperbaiki DPT. Paragraf berikutnya dari isi editorial
Media Indonesia tertulis sebagai berikut: “Pemerintah pun tahu tentang DPT yang
sarat dengan nama fiktif. Tetapi pemerintah cuci tangan dengan mengatakan soal
DPT adalah wewenang KPU. Padahal presiden memiliki hak memberlakukan perppu
untuk memperbaiki kesalahan yang sangat kasatmata. Bagaimana mungkin sebuah
negara dan pemerintahan berjalan bila tidak ada lembaga yang merasa memiliki
tanggung jawab terhadap DPT?.” Pada kalimat yang bergaris bawah, tertera
cukup jelas bahwa editorial Media Indonesia tersebut mengkritikp pemimpin
pemerintahan nasional yang juga sedang ikut menjadi kontestan pilpres.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari uraian di atas, terdapat perbedaan judul
dan isi tulisan di dalam editorial dua surat kabar tersebut. Dari teks atau
tulisan di dalam editorial kedua baik koran Jawa Pos maupun Media Indonesia
tidak bisa dilepaskan dari konteks produksi teks, konsumsi teks dan latar
belakang sosial-budaya-politik lembaga produksi kedua koran harian tersebut.
Lembaga produksi diantaranya meliputi, kepemilikan saham perusahaan, ideologi
politik yang dianut oleh pemilik media. Hasil tulisan yang disajikan kedua
koran harian tersebut juga tidak lepas dari segementasi pasar pembaca mana yang
menjadi sasaran konsumen kedua koran harian ini.
Dengan membandingkan dan menganalisis isi teks dalam editorial koran Jawa Pos dan Media Indonesia dengan konteks yang ada, kita bisa sedikit paham wacana apa yang dominan dan menjadi anutan media tersebut. Di sinilah alur kerja analisis wacana kritis milik Norman Fairclough bisa menyuguhkan sebuah ‘realita’ di balik tulisan dalam editorial kedua koran harian tersebut.
Dengan membandingkan dan menganalisis isi teks dalam editorial koran Jawa Pos dan Media Indonesia dengan konteks yang ada, kita bisa sedikit paham wacana apa yang dominan dan menjadi anutan media tersebut. Di sinilah alur kerja analisis wacana kritis milik Norman Fairclough bisa menyuguhkan sebuah ‘realita’ di balik tulisan dalam editorial kedua koran harian tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Barker, chris. (2005) cultural studies; Teori dan
praktik, yogyakarta, Bentang
Eriyanto. 2012. Analisis Wacana : Pengantar
Analisa Teks Media. Yogyakarta: LkiS.
Fairclough, Norman. 1992(a). Discourse and Social
Change. Polity Press Cambridge.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar